Breaking News

Alumnus STKIP Tamsis Bima Siap Menjadi Pelaku Perubahan

Suasana Prosesi Yudisium Angkatan VIII STKIP Taman Siswa Bima, Rabu (16/9). Foto FS

Bima, Berita11.com— Sebanyak 549 mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Taman Siswa Bima yang menyelesaikan seluruh tahapan studi dikukuhkan sebagai sarjana dalam prosesi yudisium angkatan VIII, di audotorium Sudirman kampus setempat, Rabu (16/9) sore.

Ketua STKIP Taman Siswa Bima, Dr Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si, mengatakan, yudisium angkatan VIII merupakan yang terbanyak dalam sejarah kampus setempat.  Secara umum, alumnus STIKP Taman Siswa memiliki kompetensi yang memadai, sehingga siap menjadi pelaku-pelaku perubahan di tingkat daerah maupun pada lingkup kecil seperti di desa. Misalnya menjadi pendamping Alokasi Dana Desa (ADD). Seperti yang diketahui, pemerintah saat ini sudah menggelontorkan anggaran ratusan juta untuk setiap desa dan tahun 2016 diproyeksi meningkat mencapai Rp1 miliar.

Sedangkan pada bagian lain untuk melaksanakan program atau implementasi program itu, setiap desa membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) handal yang memiliki kompetensi. Bahkan, alumnus siap didorong menjadi pemimpin termasuk pada skala desa. Karena sudah banyak contoh di daerah lain seperti pulau Jawa, Kepala  Desa dipimpin lulusan strata satu dan magister.

“STKIP Taman Siswa Bima siap menjadi bagian itu. Menjadi pelaku-pelaku perubahan. Sebab sudah banyak di berbagai desa daerah lain yang menjadi kepala desa adalah jebolan sarjana atau magister. Terbukti selama ini sarjana yang memimpin desa mampu meingkatkan derajat kehidupan di desa,” katanya.

Ibnu berharap alumnus menjadi guru wirausaha, guru pemerintah. Memberikan kontribusi terbaik bagi daerah. Selama menempuh kuliah, peserta yudisium telah melewati salahsatu tahapan penting dalam kehidupan. Namun tantangan yang tak kalah penting yang harus disikapi secara optimis yaitu ketika masa transisi atau setelah menyandang gelar pendidikan. Pada masa transisi, sarjana akan mendapatkan penghargaan khusus atau perubahan status sosial. “Perubahan status sosial harus disikapi secara optimis,” katanya.

Menurutnya, keberadaan sarjana di Bima masih langka. Hal itu setidaknya diungkur dari indeks pembangunan manusia (Human Development Index/HDI) Provinsi NTB yang masih berada pada urutan buntut dari 34 provinsi di Indonesia. Hal itu menunjukkan akses masyarakat terhadap pendidikan masih lemah.

Pada bagian lain, usia angkatan kerja masih didominasi lulusan sekolah menengah atas, sedangkan sarjana yang belum terserap dunia kerja mencapai 500 ribu orang. Padahal secara Nasional, pemerintah melalui beberapa kementrian seperti Kementrian Pendidikan Dasar, Menengah dan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan Tinggi dan Riset serta Bappenas menggelontorkan anggaran yang cukup banyak mencapai Rp40 triliun.

Untuk mengimbangi hal itu, STKIP Taman Siswa Bima sudah menetapkan sejumlah rencana strategis 2007-2012. Hasilnya diproyeksikan meningkat seiring melubernya penyerapan alumnus kampus setempat.

“Jika melihat peserta yudisium angkatan VIII hari saya mengklaim 60 persen sudah terserap di lapangan kerja. Pada jenjang formal maupun informal. Baik sebagai wirausaha muda dan aparatur sipil negara,” kata Ibnu.

Dia meyakini, setelah mengikuti Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dan Kuliah Kerja Nyata (KKN), sejumlah mahasiswa dan alumnus mendapatkan promosi dari sekolah lokasi praktik. “Terserap oleh dunia kerja. Mampu mandiri untuk melakukan tugas-tugas transformasi sosial. Menjalankan dan mengamalkan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama empat tahun atau lima tahun saat menempuh kuliah,” katanya.


Reporter: Fachrunnas/(Advetorial)


Baca Juga :

No comments