Breaking News

Kebakaran Lahan Menyebar di Bima dan Sumbawa

Salah Satu Titik Api di Kecamatan Terano Kabupaten Sumbawa. Foto Hamid

Kota Bima, Berita11.com—  Kebakaran lahan di Kota dan Kabupaten Bima menyebar di sejumlah titik. Hasil pantauan radar Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima, titik api juga berada di sejumlah wilayah di Kabupaten Sumbawa Provinsi NTB.

Kepala BMKG Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima, Daryatno, mengatakan, untuk wilayah Kabupaten Bima, titik api yang terpantau oleh radar seperti di wilayah Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima, sedangkan di Kabupaten Sumbawa seperti di Kecamatan Plampang dan Terano. “Beberapa hari terakhir ini terpantau sejumlah titik api di Bima dan Kabupaten Sumbawa,” katanya di BMKG Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima, kemarin.

Menurutnya, kebakaran lahan kemungkinan besar disengaja seperti aktivitas petani yang menyiapkan lahan menghadapi musim hujan November mendatang. Aktivitas itu bisa membahayakan lingkungan karena api akan menghanganguskan vegetasi dan merambat hingga pemukiman. “Titik api tidak sama seperti di Sumatera atau Kalimantan menimbulkan asap yang masif. Titik api disebabkan aktivitas pembukaan lahan seperti di wilayah Palibelo dapat terpantau malam hari secara langsung,” ujarnya.

Secara terpisah Kepala Dinas Kehutanan Kota Bima, Ir Abdurrahman Iba, menyebutkan, sepekan terakhir, dinas setempat menemukan empat titik api di Kota Bima seperti di doro Peduli, Sabali, belakang perumahan Soncotengge Sambinae, dan di pegunungan sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Bonto Kelurahan Kolo Kecamatan Asakota. Luas satu titik api mencapai satu hingga empat hektar. Rata-rata lahan yang terbakar merupakan miliki petani. “Luas titik api satu hektar, kalau yang di Bonto dekat PLTU mencapai empat hektar. Rata-rata kita upayakan pemadaman,” katanya di Dishut, Selasa (15/9).

Abdurrahman belum mengetahui penyebab kebakaran apakah disengaja atau tidak. Yang jelas kebakaran lahan menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Selain merusak vegetasi, akan membunuh cacing-cacing penyubur tanah. “Kami hanya memadamkan dulu agar tidak merambat ke mana-mana, karena itu merusak lingkungan. Cacing yang mestinya diharapkan hidup dan menyuburkan tanaman akan mati. Sekitar PLTU Bonto saja mencapai empat hektar,” katanya.



Repoter: Fachrunnas/ Uki Parlente

Baca Juga :

No comments