Breaking News

Gawat! Bayi yang Dibuang itu Hasil Selingkuh dengan Suami Orang

MUI dan GOW Kota Bima Saat Menggelar Rapat Membahas Kasus Sosial di Kota Bima. Foto FS

Kota Bima, Berita11.com— Fenomena kasus amoral mesum, aborsi dan pembuangan bayi yang terus menggelinding di Kota Bima menodai nama Kota Bima yang dikenal sebagai salahsatu daerah religius. Ternyata, hasil penelusuran Dinas Kesehatan kasus aborsi itu umumnya hasil selingkuh dengan suami orang.

Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Bima, Hj Badra Ekawati, menyebutkan, sebagian besar kasus aborsi dan pembuangan bayi merupakan hasil hubungan gelap dengan suami orang. Umumnya kasus itu terjadi pada kalangan mahasiswa. “Sangat memprihatinkan hasil penelusuran bersama Dikes ternyata hasil hubungan dengan suami orang. Itu sangat memprihatinkan,” katanya saat rapat bersama MUI dan Wanita Islam Kota Bima di Sekretariat MUI Kota Bima, Rabu (7/10).

Badra menyebutkan, praktik usaha kos-kosan di Kota Bima sudah sangat bebas dan hanya mengejar keuntungan semata (profit oriented) sehingga mengabaikan norma-norma dan etika yang berlaku dalam masyarakat. Untuk itu, perlu komitmen bersama dan payung hukum yang jelas mengatur itu. “Banyak anak-anak di bawah umur. Kasus itu rata-rata terjadi di kos yang umumnya dicampur antara laki-laki dan perempuan. Perlu keterlibatan para warga juga. Selama ini persoalan orang sembarang masuk sehingga perlu kartu pengendali sehingga nggak sembarang orang masuk,” katanya.

Menurutnya, jika pun mahasiswa yang melahirkan anak di luar nikah tak mestinya membunuh bayi. Namun pilihan terakhir bisa saja dititipkan di depan rumah warga jikka memang kuatir malu dikucilkan masyarakat.

Selain peran serta pemilik kos-kosan, Badra berharap pengusaha warung internet (Warnet) koorperatif dan tidak hanya mengejar keuntungan belaka. Saat jam sekolah, sebaiknya warnet menolak pengunjung dari kalangan pelajar. Karena selama ini banyak siswa yang bolos sekolah karena ingin berselancar dunia maya di Warnet atau sekadar bermain game.

Ketua Umum MUI Kota Bima, Drs HM Saleh Ismail mengatakan, kasus aborsi dan pembuangan bayi yang marak belakangan ini juga tidak lepas dari persepsi negatif dalam masyarakat. Umumnya masyarakat Bima menganggap anak hasil hubungan gelap sebagai anak haram dan tidak pantas menjadi pemimpin. Bahkan dilarang menjadi imam saat shalat.

Sikap diskriminatif dan pengucilan itu menimbulkan beban psikologis terhadap wanita yang sudah terlanjur hamil di luar nikah. Apalagi para pelaku aborsi dan pembuangan bayi selama ini umumnya merupakan mahasiswa berada pada usia labil. Walaupun pada sisi lain perbuatan para mahsiswi itu tidak dapat “dilegalkan” dari aspek agama.

“Setiap bayi yang lahir itu bersih dan tidak berdosa, justru yang melahirkan itu saja yang dosa karena perbuatannya. Nanti Allah mungkin masukan dia (bayi itu) dalam surga tergantung perbuatannya,” kata Saleh.

Menurutnya, seharusnya anak hasil hubungan gelap tak harus dicap sebagai anak haram. Karena akan menimbulkan beban psikologis terhadap anak dan wanita yang melahirkan. “ Sesungguhnya anak itu tidak berdoasa. Ada kebiasaan di Bima yang mengannggap kalau anak hasil di luar nikah dikucilkan. Misalnya tidak disuruh jadi imam. Padahal dalam pandangan Allah itu sama, tergantung amalnya,” ujarnya.


Reporter: Fachrunnas



No comments