Breaking News

Waow, Pendapatan Odong-Odong di Kota Bima Kalahkan Gaji Pejabat Eselon II

Odong-Odong Kereta yang Beroperasi di Lapangan Serasuba. Foto FS

Kota Bima, Berita11.com— Banyak cara untuk meraih kesuksesan. Asal punya kemauan, kerja keras dan modal ide melihat peluang, maka jalan mulus pasti diraih. Hal itu setidaknya juga mampu dibuktikan Kartono (32), pengusaha odong-odong di Kota Bima. Berkat kegigihannya, dalam sebulan pria asli Ampenan Kota Mataram ini mampu meraih penghasilan hingga Rp30 juta.

Sukses mulai dibangun suami Neneng Nurhasanah, warga Desa Bajo Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima ini sejak tahun 2014 lalu. Saat itu, baru dua orang yang membuka odong-odong jenis mobil dan kereta mini di lapangan Serasuba Kota Bima. “Alhamdulillah sekarang hasilnya sudah sangat bagus. Awalnya saya sempat pesimis, setelah dibuka yang naik odong-odong ternyata banyak,” katanya kepada Berita11.com di lapangan Serasuba Kota Bima, Senin (12/10) malam.

Dalam sehari Kartono kadang meraup pendapatan hingga Rp2 juta rupiah. Terutama  saat kegiatan festival dan acara gebyar yang dilaksanakan di lapangan Serasuba. Setiap orangtua yang ingin memanjakkan anaknya naik odong-odong harus merogoh kocek Rp5000. Dalam waktu lima menit atau 2-3 kali putaran odong-odong kereta, Kartono menerima bayaran Rp50 ribu- Rp100 ribu. “Terutama waktu puasa paling banyak anak naik odong-odong. Saat malam minggu atau waktu ada acara di lapangan kami biasa dapat untung hingga jutaan rupiah setiap malam,” katanya.

Saat kondisi sepi, Kartono paling sedikit mendapat keuntungan Rp400 ribu per malam. Tidak hanya beroperasi di lapangan Serasuba. Untuk meraup keuntungan lebih, dua pekan lalu Kartono membuka odong-odong di Kabupaten Manggarai NTT. Kebetulan dua pekan lalu ada acara pameran. Kurang dari dua pekan, ayah dua anak ini mampu meraih keuntungan bersih Rp15 juta.

Kini, kisah sukses Kartono mampu menginspirasi sejumlah kerabat dan teman-temanya untuk membuka odong-odong di Kota Bima. Rata-rata mereka mampu meraih pendapatan paling sedikit Rp400 ribu dalam waktu semalam. “Biasanya kita beroperasi mulai jam lima sore hingga jam  sembilan malam. Paling banter bukanya sampai jam 10 malam. Saya sudah nyaman dengan usaha ini, sehingga nggak perlu kejar jadi PNS” ujar alumnus S1 Bahasa Inggris salahsatu Perguruan Tinggi di pulau Lombok ini.

Tidak hanya Kartono yang mampu meraih pendapatan bagus. Beberapa pedagang kaki lima seperti penjual harum-manis mengaku mendapatkan keuntungan Rp500 ribu hingga Rp700 ribu per malam.  Pendapatan para PKL dan pengusaha odong-odong di lapangan Serasuba melebih gaji pejabat eselon II yang berkisar hanya Rp4,5 juta hingga Rp5 juta per bulan.



Reporter: Fachrunnas

No comments