Breaking News

Mengunjungi Desa Terpencil di Lereng Gunung Tambora

Dua tahun terakhir Gunung Tambora menjadi pusat perhatian banyak pihak, mulai dari pemerintah yang menyiapkan berbagai acara, wisatawan lokal dan mancanegara, penjelajah, pencinta motor trail hingga para ahli Geologi. Banyak iven yang dilaksanakan di sana, salah satunya festival kopi Tambora yang rutin dilaksanakan setiap tahun. 

Terus terang sebenarnya saya kapok berkunjung ke wilayah Tambora. Karena saat ke sana tahun 2011 lalu, jalan yang menuju ke lokasi yang baru saja diresmikan sebagai Taman Nasional tersebut, cukup parah. Baik aksesnya melalui jalur Kempo maupun Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima. Yang selalu teringat, saya sempat terjatuh dari sepeda motor saat pulang melalui jalan jalur Kawinda Toi setelah menjelajahi Labuan Kananga, ibukota Kecamatan Tambora dan sejumlah desa sekitarnya. Karena tuntutan profesi, saya pun harus ke Tambora. Hitung-hitung sekalian jalan-jalan, menyegarkan otak dan badan yang kusut kaena aktivitas yang padat. Walaupun misi utama saya adalah meliput kegiatan Festival Kopi Tambora yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar). 

Sebelum berangkat ke Tambora, saya sudah sering mendengar cerita teman-teman jika jalan menuju Tambora terutama melalui jalur Kempo, Oi Hodo dan Doro Peti dan selanjutnya sudah mulus bak ibukota baru. Ini yang membuat saya berpikir bahwa tidak perlu repot mengajak banyak teman untuk ikut ke sana liputan bareng. Hari itu saya kemudian memutuskan untuk mengajak salah satu kru berita11.com yang berat badannya saya pikir ideal untuk boncengan berdua. Saya pikir mengajak orang yang berat badan ringan namun bisa diandalkan gantian bawa sepeda motor saat mendaki gunung adalah pilihan yang tepat.

Sebelumnya, saya bertemu dengan salah satu wartawan senior di Bima yang juga merupakan anggota PWI, Dedi Rosyadi. Ia adalah wartawan yang berasal dari Kecamatan Tambora sehingga memiliki pengalaman dan pengetahuan banyak tentang daerah di gunung itu. Ia menyarankan agar naik ke kebun kopi melalui jalur Labuan Kananga bersama pemandu. Karena jika tersesat di hutan cukup berbahaya, akan ada jurang yang ditemui.

Setelah menyiapkan berbagai bekal sehari sebelum berangkat, termasuk mengisi penuh BBM di tangki sepeda motor, pagi sekira pukul 05.30 Wita atau setelah sholat subuh kami bersiap-siap untuk berangkat ke Tambora. Sebelum berangkat ijin dari keluarga sudah kami peroleh. Jika belajar dari pengalaman saat tahun 2011 lalu, seandainya berangkat ke Tambora merupakan sebuah pilihan, maka saya akan lebih memilih menempuh perjalanan ke Mataram walaupun harus menyebrang  ke pulau lain, menempuh waktu perjalanan yang lumayan lama. Namun itu dulu, saat jalan menuju Tambora rusak parah. Pengalaman yang luar biasa, ketika keliling berbagai desa di Tambora tahun 2011 saya dan empat rekan lain menempuh waktu hampir 12 jam, star jam 8 pagi dan sampai Labuan Kananga pukul 18.00 Wita.

Pagi sekira pukul 06.30 Wita, kami mulai membelah jalan di Kota Bima setelah star dari kompleks Tambana Kelurahan Jatiwangi Asakota. Tak banyak kendaraan yang hilir mudik pagi hari, sehingga bisa memacu kendaraan lebih cepat menembus kecepatan hingga 114 KM/ jam. Ikut semboyannya JK, lebih cepat lebih baik, walaupun di sisi lain teman dan keluarga selalu mengingatkan agar pelan-pelan jika berkendaraan. Pagi itu, udara cukup bersahabat, tidak terlalu dingin dan tidak juga terlalu hangat. Beberapa orang berseragam pegawai dan beberapa siswa tampak memacu sepeda motor menuju kantor dan sekolah mereka.

Saat di beberapa belokan menuju Sila, cahaya mentari mulai mencarak, hangatnya membuat badan menggelora. Cahaya itu, juga menyampaikan sinyal kepada para pertani dan nelayan untuk semangat memulai beraktivitas.

Beberapa pohon menjulang di sepanjang jalan sebelum Madapangga seolah melambai dan menyampaikan ucapan selamat datang di kawasan hijau kepada kami. Gerombolan monyet berjejer di sepanjang jalan mengiringi deru lekikan suara mesin kendaraan yang lalu lalang. Tak memerlukan waktu lama bagi kami untuk sampai di Kota Dompu, hanya lebih kurang sekitar 35 menit. Sekitar pukul 07.04 Wita kami sudah sampai dan mampir di SPBU jalan lingkar Dompu. Hari itu, merupakan pengalaman pertama bagi Syarif, kru Berita11.com yang saya ajak ke Tambora.

Setelah melewati beberapa kelokan jalan lingkar Kabupaten Dompu, kami tiba di Teka Sire. Saat melewati jalur ini saya mulai mengurangi kecepatan sepeda motor. Kami teringat berita tentang warga Dompu yang mati terindas kendaraan roda empat saat memacu kencang sepeda motornya pekan lalu. Keinginan untuk mampir sekadar makan jagung di lokasi itu hilang. Kebetulan hari masih pagi. Di sisi kiri kanan jalan, kami disuguhkan hamparan tanaman jagung yang memenuhi ladang-ladang petani. Betapa kayaknya warga Dompu saat ini. Daerah yang dianggap sebagai anak kedua setelah Bima, dipandang sebelah mata, sudah makmur dengan hasil pertanian yang melimpah. Kini sudah beberapa industri seperti pengolahan jagung dan gula yang berdiri, menyerap banyak tenaga kerja.

Tiga hari sebelum ke Tambora, ketika usai liputan di Kecamatan Sanggar, saya dan seorang teman dari Jawa Timur yang membantu pengembangan Berita11.com sempat mengobrol dengan petani jagung di Dompu. Ketika petani padi dan kacang kedelai di Bima sedang meradang karena gagal panen lantaran musim yang tak menentu, petani di Dompu justru bahagia karena hasil panen yang melimpah. Pemasaran pasca panen bukan masalah bagi petani di Dompu karena sudah ada industri yang akan membeli hasil panen mereka.

Menurut saya Dompu adalah daerah maju, bahkan bila dibandingkan Bima. Setidaknya dilihat dari geliat industri yang mulai tumbuh. Selain pabrik jagung, pabrik gula juga mulai beroperasi dan menyerap tenaga kerja. Teman dari Jawa Timur itu memiliki perspektif yang sama dengan saya tentang Bima dan Dompu. Menurutnya, kondisi pemerintah dan masyarakat Dompu jauh lebih baik, memiliki potensi maju dan berkembang bila dibandingkan Bima. Kemampuan dan kebijakan Bupati yang mampu menggerakan sektor pertanian akan mampu meningkatkan ekonomi masyarakat, apalagi iklim investasi yang sehat dilihat dari tumbuhnya pabrik menjadi modal bagi Dompu untuk maju. Berbanding terbalik dengan Bima yang baru mengandalkan penatan fisik.

“Maju tidaknya sebuah daerah itu tergantung sejahtera tidak rakyatnya, bukan semata pembangunan fisik. Kalau masyarakat sudah memiliki kegiatan produktif, pekerjaan itulah baru dibilang maju,” kata teman itu.

Teman yang sudah pernah melintang di sejumlah daerah di Kalimatan, Cilegon, Banten dan Jakarta ini melihat fenomena sosial kejahatan mulai dari Curanmor, perkosaan, kasus pencurian, konflik antar kampung, kasus gizi buru hingga Narkoba yang merebak di Bima  merupakan pertanda bahwa masyarakat berada dalam kondisi tidak baik, karena kesempatan atau lapangan pekerjaan yang sempit, sedangkan pada sisi lain kampus-kampus memproduksi sarjana secara massal tanpa persiapan banyak keterampilan. Angka HDI di Bima belum mencerminkan kondisi sesungguhnya.

Saya pun sependapat dengan perspektif teman tersebut. Kaum muda di Bima lebih kuat memprotes kebijakan tanpa dasar yang jelas daripada memiliki ide-ide dalam memahami sesuatu hal maupun kegiatan produktif yang membanggakan. Daerah tak semestinya diproteksi dari segala macam investasi. Menurut saya, suatu saat Bima akan disalip oleh Dompu, jika Bupati Dompu mampu menghadirkan berbagai macam racikan kebijakan yang progres. Salahsatunya soal investasi dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat. Apalagi sikap masyarakat Dompu wellcome terhadap kebijakan yang ditawarkan pemerintah. Walaupun sisi kritis tetap harus tumbuh dalam masyarakat untuk mengawal setiap kebijakan. Itu perpektif saya dan teman. Orang lain belum tentu memiliki pendapat yang sama tentang Bima dan Dompu. karena setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda-beda.

Di sepanjang jalan sebelum memasuki cabang Banggo Kempo, persoalan tentang Dompu dan Bima juga menjadi topik saya dan rekan sebelum berbelok ke jalan yang menuju Tambora. Kami mampir di Kempo untuk rehat sejenak dan membeli nasi sebelum melanjutkan perjalanan. Saya melihat banyak perubahan berbagai desa di Kempo bila dibandingkan lima tahun lalu. Saat memasuki areal pasar, beberapa kendaraan tampak hilir mudik. Sejumlah pedagang mulai menggelar barang mereka. pagi hari, suasana di pasar Kempo sudah seperti di pasar raya Ama Hami.

Beberapa menit setelah memacu kendaraan, pemandangan laut dan jejeran perahu nelayan yang terparkir di pinggir pantai seolah menjadi penawar letih setelah menempuh perjalanan selama lebih kurag satu jam. Di situ kendaraan kami tidak berhenti, namun terus melanjutkan perjalanan. Belasan menit kemudian setelah melewati beberapa belokan jalan bergelombang, kami mampir untuk foto. Dari jauh pemandangan Gunung Tambora tampak menakjubkan. Yang menarik adalah anak gunung dan hamparan jagung milik petani. Pagi hari udara di sekitar gunung sangat segar berbeda dengan di tengah Kota Bima, walaupun hanya sebuah kota kecil, namun pengab karena polusi kendaraan terkadang mengepung warga kota.


Pemandangan Gunung Tambora Dari Jauh Menjadi Obat Penawar Letih Perjalanan. Foto Syarif

Hanya sejenak kami mampir, 11 menit kemudian kami sampai  di Oi Hodo. Lokasi yang biasa digunakan untuk penumpang kendaraan umum yang menuju atau sebaliknya dari Tambora, istrahat sebelum melanjutkan perjalanan. Di lokasi ini terdapat mata air yang segar. Pemandangan laut yang tenang berdinding langit biru begitu menggoda agar kami mampir sekadar untuk selfi dan menghirup udara segar. Bukan hanya kami yang mampir di lokasi ini, beberapa pengendara sepeda motor juga ikut mampir. Memang tak ada fasilitas khusus yang dibangun di lokasi ini kecuali beberapa baruga atau gazebo. Setelah puas menikmati pemandangan laut pagi hari, kami melanjutkan perjalanan.

Sepanjang jalan, kami puas memacu kendaraan hingga kecepatan ratusan kilometer per jam. Jika menemui tikungan dan jalan bergelombang, kami hanya menurunkan kecepatan 75-85 KM/jam. Kondisi jalan menuju desa-desa terpencil di lereng Tambora sudah jauh berbeda bila dibandingkan lima tahun lalu.

Setelah memacu kencang sepeda motor, sekitar pukul 08.50 Wita kami tiba di Desa Doro Peti Kecamatan Pekat Kabupaten Bima. Sebelum itu, kami menyempatkan diri mampir dan berfoto di lokasi kemah konservasi di Doro Ncanga, pusat pelaksanaan Festival Pesona Tambora. Bagi kami tak ada hal yang menarik agar mampir lama di lokasi tersebut. Karena misi utama kami ke Tambora adalah untuk meliput Festival Kopi Tambora dan mengunjungi desa terpencil.

Saat sampai di Doro Peti kami mampir mencari rumah kerabat yang akan digunakan untuk bermalam. Saya berpikir jika kesulitan mendapat tumpangan tempat menginap di Labuan Kananga atau Kawinda Nae, maka pilihannya kami harus menginap di rumah kerabat. Karena dari awal sebelum berangkat tak ada rencana untuk bermalam di gunung. Namun setelah beberapa menit bertanya kepada sejumlah warga, kami tak kunjung menemukan rumah keluarga. Dari jauh kerabat di Kota Bima menginformasikan jika paman tersebut sudah pindah ke Desa Sori Nomo Kecamatan Pekat.

Kami kemudian menuju desa tersebut. Setelah bertanya pada sejumlah warga, rupanya desa Sori Nomo berada di dekat lereng Gunung Tambora. Jika dari arah Doro Peti maka harus belok ke kanan. Akses menuju desa ini berbeda dengan jalan utama yang menuju Calabai. Jalannya rusak dan menanjak. Pada sisi kiri dan kanan penuh dengan kebun tebu milik warga. Jaraknya dari kampung tempat kami bertanya lumayan jauh yakni sekitar tujuh kilometer. Awalnya saya  sempat putus asa mencari rumah kerabat dan rasanya ingin melanjutkan perjalanan ke Pancasila kemudian ke kebun kopi atau setidaknya ke Labuan Kananga.  Namun teman yang saya bonceng selalu menyemangati jika rumah kerabat yang kami tuju sudah dekat.

Belasan menit kemudian akhirnya kami menemukan perkampungan. Beberapa siswa madrasah di desa terpencil ini bergegas pulang sekolah, walaupun saat itu hari masih pagi sekitar pukul 10.00 Wita. Kami sempat mengobrol dengan mereka. Rupanya setiap hari para siswa di desa ini selalu berjalan kaki 2-4 kilometer. Umumnya siswa ini ikut membantu orangtua mereka di ladang. Dari keterangan beberapa warga, kami mengetahui jika kampung tersebut didominasi warga trans asal Pulau Lombok, sisanya hanya sebagian kecil berasal dari Kempo Kabupaten Dompu dan Bima.

Setelah bertanya pada beberapa warga, kami akhirnya menemukan rumah keluarga di desa tersebut. Kami diarahkan ke SDN Sorinomo, tempat paman mengabdi. Namun saat itu hanya ketemu wanita yang kami kira merupakan istri dari paman. Saya dan rekan sempat diajak ke perumahan guru, tempat wanita itu tinggal. Kami disuguhkan kopi dan beberapa potong kue. Setelah setengah jam duduk bertamu di rumah tersebut, saya baru mengetahui jika wanita tersebut bukanlah kerabat kami. Itu setelah suami wanita tersebut pulang dari ladang. Rupanya informasi yang diberikan warga di desa tersebut salah. Nama paman kami dengan tuan rumah sama bernama Ahmad dan juga sama mengabdi sebagai guru PNS di Kecamatan Pekat. Beruntungnya, pria tersebut mengenal paman kami. Ia mengiformasikan jika kerabat kami itu sudah pindah ke Desa Nanga Raba di dekat pasar Sabtu. Ia bahkan menawarkan kami menginap di rumah dinasnya jika enggan ke rumah kerabat karena jarak yang jauh.

Setelah mengobrol beberapa menit, kami pamit dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke kebun kopi Tambora. Saat itu kami harus kembali melewati jalan rusak. Tak ada rasa penyesalan kami karena nyasar ke desa terpencil Sori Nomo. Setidaknya kami punya pengalaman bisa melihat kondisi di desa tersebut dan sekadar say hallo dengan beberapa warga. Di sepanjang jalan sebelum persimpangan jalur utama menuju Calabai dan Labuan Kananga, saya dan rekan yang dibonceng nyaris tertawa kencang karena heran mengapa sampai nyasar ke Desa Sori Nomo.

“Kok ibu tadi juga sok akrab, seolah sudah yakin kita ini keluarganya. Ternyata bukan, tapi untung orangnya baik. Mau kasi info dimana rumah keluarga kita,” kata teman seraya tertawa.
Kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju Calabai. Di ruas kiri dan kanan jalan tampak sedang diperbaiki, lebih kurang lima kilometer. Saya terpaksa menurunkan kecapatan sepeda motor hingga 60 KM/jam. Sebelum persimpangan di Calabai, bahan bakar sepeda motor kami drop walaupun sebelum berangkat, sempat mengisi tangki hingga Rp60 ribu. Beruntung kami menemukan pengecer bensin di antara perkampungan. Jika tidak tak berbayang harus menggeret sepeda motor hingga beberapa kilometer. Saya pikir bahan bakar sepeda motor cepat terkuras karena memacunya kencang.

Sebelum tiba di persimpangan Calabai, saya mencoba mengingat jalur yang pernah saya lalui tahun 2011 lalu bersama tiga rekan jurnalis. Saat itu, kami sempat mampir makan siang dan menyeruput kopi asli Tambora di rumah Kepala UPTD Dikpora setempat. Kebetulan salahsatu rekan yang ikut ke Tambora saat itu merupakan kerabat dari pejabat tersebut. Menurut saya, kopi Tambora harumnya khas dan berbeda dengan kopi-kopi yang dijual di Kota Bima. Bikin ketagihan ingin mencobanya. Padahal saya bukanlah orang yang rutin minum kopi.

Sebelum naik je jalur Pancasila, saya sempat bertanya ke warga di persimpangan menuju jalur tersebut, apakah festival kopi tetap di laksanakan di kebun kopi. Dari logatnya saya pun mengetahui warga tersebut berasal dari Lombok. Bermodal kemampuan bahasa Sasak terbata-bata saat kuliah di Mataram, saya mengorek informasi dari warga tersebut, mana yang lebih baik melalui jalur Pancasila dengan jalur Labuan Kananga. Warga tersebut pun menyarankan agar melalui jalur Pancasila. Kebetulan kata dia, rombongan dari Bima sejak hari Selasa sebelumnya melalui jalur tersebut. Sebelumnya saya dan Syarif, kru berita11.com belum pernah naik Gunung Tambora maupun ke kebun kopi.

Setelah itu, beberapakali kami bertanya kepada orang tentang jalur menuju kebun kopi wilayah Kabupaten Bima. Saya baru tahu jika di jalur Pancasila terbagi dua wilayah pendakian yakni kebun kopi Kabupaten Bima dan kebun milik Kabupaten Dompu. sebelum masuk ke pintu kebun kopi, kami menemukan akvitas warga ikut meramaikan Festival Pesona Tambora. Beberapa umbul-umbul dan spanduk dipasang mengelilingi lapangan di sekitar. Menurut beberapa warga yang kami temui, jarak dari lapangan itu ke kebun kopi hanya beberapa kilometer. Hanya saja  yang harus ekstra hati-hati karena saat musim hujan kondisi jalan licin dan menanjak cukup berbahaya. Sebelum tiba di pintu masuk, kami menyempatkan diri untuk berdoa sejenak.

Beberapa ratus meter dari pintu masuk menuju kebun kopi kondisi jalan masih bersahabat, namun tiga menit setelah itu berubah setelah hujan deras mengguyur. Beruntung kami masih bisa menyelamatkan laptop, kamera dan handpone yang terbungkus dalam rangsel.  Kondisi jalan sempit, berbatu, tanah tebal licin membuat kami harus pelan-pelan. Mulai dari titik itu beberapakali kami terjatuh. Belum terbayang dalam benak kami jika jalan menuju kebun kopi cukup sulit dilalui saat musim hujan. Walaupun tidak demikian bagi warga Tambora yang sudah terbiasa dengan medan sulit.


Kondisi Jalan Beberapa Ratus Meter Dari Pintu Masuk Kebun Kopi Tambora


Setelah menempuh perjalanan lebih kurang satu setengah kilometer dari pintu masuk, kami menemukan sebuah kampung yang terdiri dari beberapa rumah warga. Saat tiba di persimpangan yang membingungkan di desa tersebut, kami memperoleh informasi jika jarak ke kebun kobi masih sekitar 3-4 kilometer. Warga setempat mengingatkan kami agar hati-hati saat menuju kebun kopi. Tak beberapa lama setelah melanjutkan perjalanan, kami kembali terjatuh. Semakin ke atas hujan semakin deras. Pada pos pertama kami berpapasan dengan sejumlah anggota Mapala yang baru turun dari Gunung Tambora. Di atas pos itu kami kembali berpapasan dengan warga yang turun menuju perkampungan di bawah kebun kopi. Warga tersebut menyarankan kami  jalan lurus jika menemui persimpangan agar tidak tersesat.

Sudah setengah jam kami melewati perkampungan warga di bawah, namun tanda-tanda situs kebun kopi belum tampak, yang ada jalan semakin becek karena hujan yang semakin deras. Saya melihat rayan saya di belakang sudah basah kuyup termasuk pakaian yang dia bawa dalam tas semuanya sudah basah karena tidak sempat memakai jas hujan.

Saat melanjutkan perjalanan, hujan sempat reda. Namun itu tak lama. Kami kemudian berpapasan dengan beberapa siswa berseragam SMP dan seorang guru perempuan yang masih muda. Kami sempat bertegur sapa. Dari penampilannya, saya memperkirakan jika wanita itu berasal dari kota besar, kemungkinan tenaga Indonesia Mengajar. Kebetulan tahun 2011 lalu di Desa Labuan Kananga, saya sempat bertemu dengan beberapa tenaga pengajar dari Yayasan Indonesia Mengajar. Yang saya ingat waktu itu, salahsatunya bernama Berryl. Rekan saya Syarif tak percaya ada aktivitas siswa di atas gunung. Yang dia pikirkan jangan-jangan siswa yang berpapasan dengan kami merupakan hantu di Gunung Tambora.

Sebelum tiba di situs kebun kopi Tambora, rekan Syarif sempat meminta agar bergantian membawa sepeda motor. Saya pikir tenaga dia dan saya hampir mirip, sama-sama tinggi 176 cm. Namun prediksi saya salah, tubuhnya yang ceking tak mampu terlalu lama memegang setir sepeda motor yang berat ketika melalui jalan licin penuh lumpur. Beberapakali ia terjatuh sehingga saya harus membantunya mengangkat sepeda motor.

Setelah menempuh perjalanan lebih kurang satu jam dari pintu masuk, kami menemukan petunjuk arah jika kebun kopi sudah dekat. Dalam benak saya di lokasi ini sedang ramai berlangsung lomba meracik kopi. Namun bayangan itu buyar setelah kami melihat kondisi di dalam situs kopi tampak sepi. Saya kemudian berupaya terus memacu kendaraan menuju arah puncak gunung. Tekad saya harus sampai menemui kerumunan orang. Namun semakin ke atas yang kami temui justru gerombolan babi hutan. Akhirnya saya terpaksa memutar kembali sepeda motor. Karena hujan semakin deras kami memutuskan istrahat di bangunan masjid Al Ikhlas Oi Bura yang sudah lama ditinggalkan oleh warga. Berdasarkan tulisan di papan nama, masjid Al Ikhlas PT Bayuaji Bimasena Perkebunana Kopi Tambora diresmikan 3 November 1988 oleh oleh direktur perusahaan tersebut Ir. Sadono Surosantoso dan Bupati Bima waktu itu, H Oemar Harun, BSc. Beberapa bagian bangunan seperti platfon dan kusen tampak lapuk dimakan rayap.


Suasana di Sekitar SDN Oi Bura Tak Ada Aktivitas Warga. Lokasi ini Menyeramkan Saat Musim Hujan.

Di halaman masjid ini tinggi rumput sekitar 40 cm. Di bagian depan ada beberapa bangunan lain yakni kantor Desa Oi Bura dan bangunan baru Sekolah Dasar Negeri (SDN) Oi Bura.  Beberapa pertanyaan muncul dalam benak kami saat itu. Di tempat ini sinyal handphone kadang muncul, kandang hilang.

“Jika di sini ada kantor desa, mushalla dan sekolah yang baru di bangun, terus warganya pada kemana? Kok ditinggalkan begini, padahal ada bangunan sekolah baru. Di depannya ada spanduk bupati, berarti ini baru. Padahal hari masih pagi kok nggak ada yang masuk sekolah atau ngajar?” tanya rekan Syarif.

Waktu itu kami pun sempat menduga-duga jika deretan bangunan itu merupakan kampung hantu. Lama-lama tampak menyeramkan saat hujan deras. Namun kami mencoba memberanikan diri. Jika pun ada kawanan perampok kami terpaksa harus melawan dengan tangan kosong.  Sembari menunggu hujan reda, kami menghabiskan bekal nasi bungkus yang kami beli di cabang Banggo. Kami belum berpikir akan langsung turun ke jalur pintu masuk kebun kopi setelah melewati medan yang sulit. Opsi lain jika hujan deras berlangsung sampai malam, kami terpaksa akan menginap di bangunan masjid tersebut. Kami sama-sama belum pernah menginap di gunung, yang ada hanya menginap di bawah kaki gunung Tembowong Sekotong Lombok Barat ketika kuliah lapangan Geologi saat kuliah beberapa tahun silam dan di bangunan yang berada di bukit Desa Kertasari Kabupaten Sumbawa Barat.

Tak lama setelah kami putus asa karena tidak menemukan orang di tempat tersebut, dari jauh terdengar suara sepeda motor  yang datang dari arah hutan di bagian selatan. Saat itu, rintik-rintik gerimis masih masih Setelah mendekat ternyata orang itu berseragam loreng TNI. Saya kemudian berupaya bertanya kepadanya lokasi Festival Kopi Tambora dipindahkan. Dari informasi anggota TNI tersebut kami mengetahui jika festival kopi dipindahkan di tepi pantai Labuan Kananga, tepatnya di depan Pulau Satonda.  “Kebetulan saya ke sini juga mau hadiri festival kopi, tapi ternyata dipindah ke Satonda. Kalau mau ikut saya saja melalui hutan ini tembus Labuan Kananga,” ajaknya.

Waktu itu dengan sedikit ragu kami mengikuti sarannya. “Kira-kira jalannya lebih bagus nggak bang ketimbang jalan melalui jalur di bawah Pancasila,” tanya saya.

“Kalau jalan di hutan, mana ada jalan yang bagus semuanya begini. Kalau mau ayok segera kita jalan,” timpalnya.

Saat itu kami pun melanjutkan perjalanan. Mengikuti jejak sang prajurit, melewati deretan pohon yang menjulang. Semakin lama, hujan semakin deras membuat kami basah kuyup. Baju hujan saya gunakan untuk membungkus rangsel yang berisi laptop, kamera dan handphone. Beberapakali ban sepeda motor kami terjebak di dalam tanah becek. Saat itu, banjir gunung setinggi 30 cm membuat kami harus ekstra hati-hati. Saya terpaksa tidak menaikkan kaki di stan kaki agar sewaktu-waktu bisa menahan beban sepeda motor ketika melewati jalan yang sangat licin. Meskipun demikian, beberapakali kami tetap terjatuh karena jalan yang licin. Beberapakali sepeda motor yang kami tunggangi meraung. Di dalam hati saya hanya berdoa agar tidak ditimpa pohon tinggi yang kami lewati sepanjang jalan. Terkadang Syarif turun dari sepeda motor dan jalan kaki.

Sementara itu, anggota TNI yang mengajak kami mengikuti jalan itu, sudah jauh tidak tertinggal jejaknya. Jalan yang kami lewati seperti sebuah setapak lorong, sisi kiri dan kanannya penuh semak. Jika tak lihai memegang setir sepeda motor maka pilihannya akan terjebak di jalan licin. Saat melewati jalan tersebut, beberapakali kaki saya dihantam batu sehingga menjadi bengkak. Waktu itu, saya sempat ingin berhenti karena rasa sakit itu. Namun karena melihat pohon tinggi di atas lorong jalan yang setiap waktu bisa menimpa kami, rasa sakit itu masih mampu saya tahan.

Sudah 30 menit kami melewati jalan setapak di hutan kopi menuju Labuan Kananga tersebut, namun ujungnya belum juga tampak. Kami mulai kuatir karena hujan semakin lebat. Saya melihat ke arah Syarif mulai kedinginan karena sudah lebih dari satu jam diguyur hujan sejak ratusan meter dari pintu masuk kebun kopi. Lama kelamaan jalan setapak yang kami tempuh ibarat sebuah labirin. Sulit rasanya menemukan jalan keluar. Bahkan terlintas dalam pikiran saya untuk putar haluan kembali ke masjid tempat kami istrahat. Namun karena jalan sempit dan licin tidak memungkinkan untuk memutar balik sepeda motor, pilihannya tinggal satu mengikuti jalan setapak tersebut.

Beberapa menit kemudian dalam perjalanan itu, dua orang anak laki-laki berbocengan sepeda motor muncul dari arah belakang kami. Mereka juga kesulitan melewati jalan licin. Beberapakali sepeda motor yang mereka tunggangi terpeleset. Setelah saya bertanya, ternyata dua anak ini bernama Teguh dan Syam. Mereka adalah warga kampung Lembah Madu Desa Oi Bura. Dari informasi mereka saya mengetahui jika jarak untuk sampai ke perkampungan Labuan Kananga masih 4 km. Namun yang membuat kami gembira jarak ke kampung mereka tinggal satu kilometer. Setelah melewati lorong jalan di antara pohon setinggi lebih kurang 13 meter kami menemukan ladang petani. Hati kami mulai tenang, meksipun jalan licin yang harus kami lalui masih panjang. Saat itu, hujan mulai reda. Tanaman hijau di sisi kiri dan kanan milik petani menjadi pemandangan yang melegakkan. Kami tiba di perkampungan Lembah Madu.

Teguh dan Syam mampir di rumah mereka sebelum mengantar kami sampai ke jalan yang tembus ke Nanga Miro Kabupaten Dompu. Menurut mereka lebih baik menempuh jalan menuju Nanga Miro karena kondisinya lebih baik ketimbang memilih jalur di gunung untuk menuju Labuan Kananga Kecamatan Tambora Kabupaten Bima. Sebelumnya kami menawarkan mereka menjadi pemandu hingga menemukan jalan raya yang diaspal, dengan kompesasi jasa mereka dibayar. Seandainya sebelum berangkat saya membawa Global Position System (GPS) Garmin lengkap dengan layer citra satelit seperti saat ke Tambora lima tahun silam mungkin kami tidak kuatir tersesat. Setidaknya kami bisa mengetahui titik koordinat, jarak tempuh, rute terdekat yang bisa dipilih.

Dari kejauhan pemandangan laut bisa kami nikmati sepanjang jalan setelah kampung Lembah Madu. Namun ternyata perkiraan saya salah. Jalur yang kami lalui merupakan jalan yang berkelok-kelok. Setelah melewati jarak lebih kurang dua kilometer, paha dan lengan saya kram karena menahan beban setir sepeda motor saat melalui jalan rusak lima kilometer. Saya tidak sempat meminta Teguh dan Syam untuk berhenti sejenak, kami tetap melanjutkan perjalanan menuju jalan raya. Sebelum itu beberapa persimpangan membuat kami bingung untuk memilih rute yang tepat, namun Teguh dan Syam membimbing kami. Sebenarnya jalan yang kami lalui setelah kampung Lebah Madu mirip jalan yang pernah saya lalui menuju Oi Katupa, Kawinda Toi, saat berkunjung tahun 2011 lalu. Di beberapa kampung tersebut jalan tampak kering. Hujan deras hanya mengguyur di atas hutan kopi. 20 menit kemudian kami tiba di persimpangan jalan raya Desa Nanga Miro.

Setelah membayar jasa Teguh dan Syam, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Labuan Kananga seraya berharap acara Festival Kopi Tambora belum selesai. Saya melihat ke jam tangan sudah menunjukkan pukul 14.30 Wita, hampir lima jam kami tersesat di hutan kopi Tambora.

Saya bersyukur jembatan yang menghubungkan ke Desa Labuan Kananga sudah diperbaiki. Kondisinya berbeda dengan lima tahun lalu, ruasnya menggunakan papan kayu, sehingga pengendara harus ektra hati-hati melewatinya. Sempat terbesit dalam pikiran saya untuk menginap di Labuan Kananga. Kebetulan kami punya kenalan ketika datang ke Tambora lima tahun silam. Ada pak Amin, pegawai kantor Camat Tambora asal Desa Talabiu Kecamatan Woha yang pernah menjamu kami kala itu.

Laju sepeda motor sengaja saya arahkan ke Kawinda Nae, untuk menghilangkan rasa letih setelah menempuh perjalanan di hutan. Setelah itu kami bergegas ke pantai Labuan Kananga. Namun saat kami sampai, acara Festival Kopi Tambora yang hendak kami liput sudah selesai digelar. Kami tidak sempat kembali menelpon pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bima, karena saat ditelpon nomor handphonenya tidak aktif.

Sempat muncul rasa kecewa dalam hati kami, karena percuma kami datang jauh-jauh dari Kota Bima menempuh perjalanan 443 kilometer saat bolak-balik. Namun teman saya, Syarif menghibur walaupun tidak dapat meliput kegiatan tersebut kami masih bisa menikmati pemandangan dan pengalaman naik ke kebun kopi Tambora. lima menit kami menikmati pantai Labuan Kananga yang dipenuhi pasir hitam. Sambil selfi membelakangi Pulau Satonda. Beberapa warga menawarkan mengantar kami ke pulau tersebut. Namun kami ragu-ragu menginap di Labuan Kananga, tawaran itu ditolak.

Aktivitas Anak Nelayan di Pinggir Pantai Labuan Kananga Tambora. Foto Syarif

Kami kemudian mampir bertofo di depan SDN Labuan Kananga. Di sekolah ini bapak saya pernah bertugas selama tiga tahun sejak 1975 silam. Saat itu, berjalan kaki ratusan kilometer  ke Bima ketika libur sekolah merupakan hal yang biasa bagi orangtua saya. Karena tidak ada angkutan umum seperti sekarang ini, yang ada hanya angkutan kuda jika memiliki uang lebih atau sampan kecil yang menggunakan layar.

Setelah puas foto-foto dan melihat suasana perkampungan di Labuan Kananga, sekitar pukul 15.10 Wita kami akhirnya memutuskan kembali ke Kota Bima. Saya menargetkan pukul 18.00 Wita sudah sampai di Tambana Asakota dengan syarat harus memacu kencang sepeda motor. Yang saya pikirkan adalah, saya meninggalkan istri dalam kondisi hamil tua, walaupun setiap berangkat keluar daerah saya selalu meminta mertua agar menginap di rumah. 
Keinginan mampir mandi di sungai sekitar dam Labuan hilang karena hari menjelang sore. Sekitar 15 menit kemudian kami sampai di Desa Nanga Raba Kecamatan Pekat Kabupaten Dompu, kami menemukan kerabat yang sebelumnya sempat dicari hingga di Desa Sori Nomo. Ternyata untuk menemukan rumah keluarga kami cukup mudah karena berada di pinggir jalan sekitar pasar Sabtu Kecamatan Pekat.

Paman Ahmad menyuguhkan kami kopi hangat dan beberapa potongan kue. Kebetulan selain mengabdi sebagai guru PNS di Pekat, ia memiliki toko. Kami ditawarkan tinggal memiliki kue dan minuman ringan apa yang kami inginkan. Kondisi sejumlah desa di Kecamatan Pekat sangat berbeda dengan beberapa tahun silam. Akvitas usaha juga cukup ramai. Sebagian penduduk di wilayah ini merupakan warga trans asal Lombok dan Bali. Tak jauh dari Desa Nanga Raba berdiri sejumlah perusahaan seperti pabrik kayu dan gula. Sebagian penduduk setempat diserap sebagai tenaga kerja. Ada juga yang fokus dengan usaha pertanian Palawija, jambu mete. Namun umumnya didominasi petani jagung dan tebu.

Dari informasi kerabat kami ini, setelah jalan menuju Tambora diaspal, harga tanah di wilayah ini naik drastis. Bahkan kisarannya mencapai Rp25 juta per are. Saya pikir harganya hampir sama dengan di Kota Bima dan Mataram. Setelah menjelajahi beberapa kampung di Tambora, kami istrahat untuk satu malam karena paman kami tidak menginjinkan melanjutkan perjalanan saat hari menjelang magrib. Suhu di Desa Nanga Raba cukup bersahabat, tidak terlalu dingin. Berbeda dengan suhu di Kota Bima yang panas sehingga membuat gerah, termasuk malam hari.

Esok harinya kami bangun dan star kembali ke Bima sekitar pukul 08.00 Wita. Berbeda dengan saat datang, saya memacu sepeda motor dengan santai. Kecepatan maksimal hanya antara 80-100 KM/jam. Sepanjang jalan kami memuji jalan mulus menuju Tambora. Saya dan Syarif berencana suatu saat mendatang akan kembali menjelajahi Gunung Tambora dengan membawa GPS agar tidak tersesat di hutan, sambil menunggu kru Berita11.com yang bertugas di Depansar berlibur ke Bima.

Sekitar pukul 11.00 Wita kami tiba di redaksi Berita11.com di kompleks Tambana Asakota Kota Bima setelah puas menjelajahi beberapa desa terpencil di wilayah bagian Utara Kabupaten Bima itu. (Fachrunnas)

No comments