Breaking News

Badan Bahasa Kemdikbud Meneliti Sastra Pesisir Bima

Para Peneliti Sastra dari Kemendikbud Foto Bersama Ketua Makembo. 

Kota Bima, Berita11.com— Bima memang kaya akan sastra dan tradisi lisannya. Kekayaan itu belum banyak diketahui dan diteliti. Sastra dan tradisi lisan yang telah hidup dan berkembang  sejak berabad-abad silam di tanah Bima menarik perhatian para peneliti bahasa dan sastra untuk menyelami lebih jauh tentang keberadaannya, terutama sastra lisan yang ada di sepanjang pesisir Bima.

Untuk itulah, para peneliti dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Bidang Pusat Perlindungan dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI melakukan serangkaian penelitian sastra lisan pesisir Bima. 

Penelitian dilakukan sejak 22 hingga 28 Mei 2016 ditemani ketua Majelis Kebudayaan Mbojo Ruslan, S.Sos  sebagai tim pendamping dan peneliti muda dari kantor Bahasa Mataram Muhammad Subkhi. Tim peneliti dari Jakarta berjumlah 3 orang yaitu Erlis Nur Mujiningsih, Erli Yetti dan Miranti Sudarmaji. Selama sepekan, para peneliti melakukan penelitian di beberapa wilayah kecamatan di kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima.

Di kabupaten Bima, tim peneliti mengunjungi kecamatan Sape, Wera, Langgudu, dan Sanggar. Di kabupaten Dompu, para peneliti melakukan observasi ritual laut  Cera Labu di desa Soro kecamatan Kempo dan beberapa wilayah pesisir Dompu. Sedangkan di Kota Bima, para peneliti melakukan observasi tradisi dan sastra lisan di sekitar Teluk Bima.

Selain itu, Tim peneliti juga melakukan wawancara dengan beberapa tokoh sastra lisan Bima seperti H.Muhammad Tahir Alwi, Drs.H.Anwar Hasnun dan sesepuh masyarakat Bima Dr.Hj. Siti Maryam Salahuddin.

Di kecamatan Sape terdapat beberapa cerita rakyat yang berkaitan dengan laut dan kehidupan laut seperti kisah tentang Duha Ra Lano (Cerita dan senandung seorang ibu yang menghanyutkan dirinya ke laut karena karena prilaku anak-anaknya), Tabe Bangkolo (Kisah tentang ikan Ekor Kuning), Kisah puteri Duyung, dan beberapa cerita menarik lainnya. Di Desa Sangiang kecamatan Wera, para peneliti menfokuskan pada tradisi pembuatan perahu masyarakat Sangiang dan mantra-mantra Kalondo Lopi dengan konsep menikahkan perahu dengan laut yang terilhami dari kisah Nabi Nuh AS.

Di pesisir Langgudu, tim peneliti melakukan observasi terhadap kesenian OLO di desa Karampi kecamatan Langgudu dan desa-desa sekitarnya. Di kecamatan Kempo Dompu, penelitian difokuskan pada upacara Cera Labu di desa Soro. Sedangkan di kecamatan Sanggar para peneliti mendapatkan banyak cerita tentang laut seperti Arugele dan Dae La Minga dan cerita-cerita tentang semangat bahari kerajaan Sanggar. Disamping itu, Sanggar juga kaya akan  senandung-senandung warisan kerajaan Sanggar seperti senandung Inde Ndua, Rawa Waro,  Tijalante dan lainnya. Para peneliti juga tertarik utuk meneliti lebih lanjut tentang keberadaan Bahasa Kore.

Di pesisir selatan Teluk Waworada, para peneliti  mendapatkan penjelasan tentang sejarah kesenian OLO dan cerita tentang desa Karampi dan kecamatan Langgudu. Disamping cerita dan syair di wilayah pesisir, penelitian juga menelusuri irama atau Ntoko dalam kesenian Rawa Mbojo yang berkisah tentang laut dan kehidupan maritime Bima yaitu Ntoko Lopi Penge, Ntoko Tambora, Ntoko Koncowanco dan Ntoko Ka’e. Ketua Tim Peneliti Erlis Nur Mujiningsih mengemukakan, penelitian sastra lisan wilayah pesisir dilakukan serentak di lima wilayah ke pesisir timur nusantara yaitu di Bulukumba, Gowa, Ternate, Tidore dan Bima.

“Kami tertarik melakukan penelitian sastra lisan pesisir di Bima ditinjau dari masa lalu tentang Bima sebagai kerajaan Maritim yang tentunya banyak menyimpan sastra dan tradisi lisan tentang maritime,” ungkap Erlis ketika ditanya tentang alasannya melakukan penelitian sastra lisan di Bima.

Sementara itu, Ketua Makembo Ruslan, S.Sos mengemukakan bahwa sebuah kebanggaan atas kehadiran tim peneliti sastra pesisir dalam rangka proses pelestarian sastra dan tradisi lisan di Bima.

“Apa yang dilakukan tim peneliti dari Bidang Perlindungan, Pusat Pengembangan dan Perlindungan, Badan Pengembangan dan pembinaan Bahasa ini sejalan dengan apa yang selama ini telah dilakukan oleh Komunitas Budaya Makembo dalam rangka pelestarian kesenian tradisional termasuk sastra lisan, “ ungkap pria yang akrab disapa Alan Malingi ini.

Diharapkan ke depan, hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan dan pemacu semangat pemerintah daerah dan masyarakat Bima untuk terus melestarikan seni sastra dan tradisi lisan sebagai warisan tak ternilai dalam rangka peremaian nilai-nilai budaya maupun promosi kesenian dan budaya serta pariwisata daerah.(US/*) 

No comments