Breaking News

Tim IM Sampaikan Saran Pengembangan Pendidikan kepada Wabup

Wabup Dahlan M Nur Saat Menerima Tim Gerakan Indonesia Mengajar. Foto Ist

Bima, Berita11.com— Sebanyak 16 orang anggota tim yang terdiri dari sembilan guru muda dari Gerakan Indonesia Mengajar (IM) angkatan V dan  pendamping dari Kementerian  Pendidikan dan Kebudayaan RI diterima Wakil Bupati, Bima Drs. Dahlan M Noer di ruang kerja Wabup,  Senin, (30/5/2016) .

Pada kesempatan tatap muka tersebut, Wabup Dahlan yang didampingi Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Drs. H. Muzakkir M.Sc, dan Kepala Seksi Kurikulum Dinas Dikpora Kabupaten Bima Fatahurahman, M.Pd mendengarkan pemaparan para pengajar muda yang 1 tahun terakhir mengabdikan dirinya sebagai tenaga pengajar di sejumlah sekolah terpencil pada 5 kecamatan yang ada di Kabupaten Bima.

Sembilan guru muda yang tergabung dalam IM ini mulai mengabdi sejak 16 Juni 2015 pada lima kecamatan yaitu Langgudu, Tambora, Sape, Lambu, dan Kecamatan Parado.

Wabup Dahlan dalam pengantarnya di hadapan Tim IM memaparkan, faktor tenaga pendidik amat penting dalam membangun bidang pendidikan. “Bagaimana  mendorong anak agar bisa bangun pagi-pagi, ingin datang ke sekolah karena ada pembelajaran yang menarik,” kata Dahlan.
                                   
Menurut Dahlan, fakta di lapangan yang disampaikan pengajar muda harus dicarikan solusinya. Karena itu, pemerintah melalui Dinas Dikpora,  akan terus membina satuan pendidikan agar lebih efektif.

dikatakannya, perlu ada yang memulai gerakan positif dalam dunia pendidikan seperti yang digagas oleh Gerakan Indonesia Mengajar. Kemajuan akan dicapai bila ada budaya malu yang ditanamkan pada sebagian sekolah.

“Budaya tersebut antara lain rendahnya disiplin dalam bekerja dan tidak melakukan tugas dengan baik,” kata Wabup Dahlan seperti dikutip Kabag Humas dan Protokol Setda Kabupaten Bima, M Chandra Kusuma AP, Selasa.

Mega, Hakim dan Fadli yang mewakili rekannya memaparkan suka dan duka selama berada di tengah murid SD di beberapa desa terpencil.

Mega menceritakan berdasarkan pengamatan, akumulasi progres selama 5 tahun Gerakan IM mengabdi di Kabupaten Bima terdapat banyak  perubahan dan kebaikan yang muncul. Ini diharapkan akan menjadi pijakan bagi pemangku kepentingan bidang pendidikan di Kabupaten Bima.

Menurutnya, selama berada di lokasi  sejumlah perubahan tampak pada siswa, guru, kepala sekolah dan masyarakat.  Pada tingkat siswa, mereka mempunyai buku rahasia yang menceritakan tentang situasi sekolah dan adanya motivasi belajar yang tinggi, sedangkan pada tingkat pendidik, para guru honorer menjadi lebih rajin dan tulus dalam proses belajar mengajar. Demikian halnya kepala sekolah menjadi lebih rajin dan tetap berada dalam sekolah.

Proses itu juga memiliki output positif untuk masyarakat ditandai muncul prakarsa  bersama-sama mendukung kegiatan belajar di luar sekolah dengan menyediakan tempat belajar.

Guru muda lainnya, Hakim memaparkan, selama berada di Bima, mereka bersyukur karena banyak perubahan positif  yang muncul baik dalam bentuk inovasi, peningkatan motivasi maupun tumbuh-kembangnya prakarsa masyarakat untuk berpartisipasi lebih aktif dalam membangun dunia pendidikan di daerah terpencil. 

Kehadiran IM dalam waktu lima tahun di Kabupaten Bima juga telah mendorong lahirnya kelas inspirasi, Wahana Edukasi Bima, Ruang Berbagi Ilmu (RUBI), Gerakan Bima Mengajar (GBM) dan Kelas Bermain Komunitas Mbojo (KBKM) yang seluruhnya tulus mengajar dan merupakan relawan bidang pendidikan.

Namun demikian kata Fadli, tantangan yang harus dibenahi oleh pemerintah daerah yaitu meningkatkan kualitas pendidikan di daerah daerah terpencil antara lain pada stakeholder pendidikan baik kepada kepala UPT Dinas Dikpora maupun pengawas.

Pada level guru, masih ada sekolah dengan guru yang minim kehadiran di kelas  karena kesibukan dalam mencari nafkah pertanian dan kelautan. Disamping, adanya tantangan geografis karena sulitnya medan di tempuh menuju sekolah.

Pada tingkat pendidik, masih dijumpai adanya kesewenangan guru yang tidak melakukan proses kegiatan belajar mengajar dan melakukan pemukulan pada siswa. Sedangkan pada tingkat kepala sekolah tantangan yang dibenahi adalah transparansi penggunaan dana BOS dan kepala sekolah kurang peduli proses KBM. (AN)

No comments