Breaking News

Kakek Ishaka Dulu Dicibir, Sekarang Dipuji

Selain Mencari Nafkah untuk Keluarga, Kakek Ishaka Berupaya Menjaga Kelestarian Lingkungan. Dok Berita11

Sukses tak selalu identif memilki banyak uang, mobil mewah harta berlimpah. Namun ilmu yang berguna untuk orang lain dan anak-anak yang saleh juga merupakan tanda kesuksesan seseorang. Hal itu setidaknya juga dirasakan kakek Ishaka (70) warga Desa Bajo Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima. Catatan Fachrunnas.

Berkat kegigihannya sejak puluhan tahun lalu mengelola lahan tegalan kering lebihdari empat hektar. Kini Ishaka mampu meraih panen yang luar biasa. Lahan tegalan yang berada sekitar satu kilometer dari perkampungan disulap sebagai kebun mangga, srikaya (garoso), jambu mente. “Alhamdulillah sekarang saya tinggal memetik hasil. Anak-anak sampai cucu juga menikmati hasil, kadang kalau pas panen bisa dapat jutaan hingga puluhan juta rupiah,” katanya saat ditemui, beberapa waktu lalu.

Dalam mengelola lahan tegalan Ishaka tidak sendirian. Ia dibantu Ramlah, istrinya yang selalu setia mendampinginya sejak puluhan tahun lalu. Awalnya banyak yang pesimis bahkan sinis menganggap apa yang dilakukannya sebagai hal gila. Karena hampir setiap hari selalu berkonsentrasi di lahan tegalan tanpa hasil yang jelas. “Tapi saya tidak masukan dalam hati setiap cibiran orang, saya tetap berkerja keras. Saya yakin suatu saat akan berhasil dan ternyata memang berhasil,” katanya.

Mengelola lahan tegalan bukan perkara mudah seperti yang dilakukan petani yang menggarap lahan sawah. Namun butuh banyak tenaga dan kekuatan fisik. Hal itu mampu dilakukan Ishaka sejak tahun 1993 silam. Sedikit demi sedikit lahan kering yang ia beli disulap menjadi kebun menjanjikan hasil. Awalnya, siang-malam  Ishaka harus “membanting tulang” mengangkat batu hingga ukuran bongkah yang beratnya bahkan mencapai 30 kilogram lebih hingga tersusun rapi menjadi pagar batu. Orang Bima menyebutnya nteli. Sejak lama kebun milik kakek Ishaka dipagari keliling dengan nteli.

Ia percaya bahwa setiap ihtiar atau usaha yang kuat akan berbuah manis. Seperti teori dan hukum Fisika Sir Isaac Newton III (F aksi = -F reaksi), setidaknya memiliki filosofi bagi kehidupan. Setiap orang yang berkerja keras akan menuai hasil yakni kesuksesan.   “Sebenarnya bisa saja pakai kawat, tapi kan dapat anggaran dari mana? Butuh anggaran banyak sekali apalagi luasnya empat hektar. Sehingga dikit demi sedikit saya bikin nteli,” ujarnya.

Sejak puluhan tahun lalu, lahan tegalan yang awalnya kering ditanami 3000 mangga, 2000 srikaya, 3000 jambu mente. Selain itu  lahan kosong di antara pohon itu diselipkan tanaman singkong dan pepaya. Sebagian lahan dimanfaatkan untuk ditanami padi.

“Kalau untuk urusan uang kebutuhan sehari-hari baik anak dan cucu-cucu saya, nggak pusing lagi karena tinggal memetik hasil kebun. Apalagi untuk kebutuhan beras ada hasil kebun. Sejak awal buah mangga masih kecil dan sebelum garoso (srikaya) matang, pembeli (pengepul) biasanya sudah datang membayar kepada saya, empat pohon bisa dapat satu juta. Kalau sepuluh pohon bisa sampai empat juta,” kata kakek tujuh cucu ini.

Kini tetangga dan warga yang awalnya mencibir Ishaka berbalik memuji keberhasilan ayah empat anak tersebut. Bahkan warga yang ingin memetik langsung buah mangga, srikaya atau jambu mente selalu diijinkan Ishaka dan keluarganya, tanpa syarat harus membayar. “Banyak petani yang pulang dari kebunnya mampir minta ijin metik mangga dan garoso. Saya ijinkan saja, asalkan mereka tidak mereka tidak merusak buah yang masih kecil dan belum matang. Mereka nggak perlu bayar,” katanya.

Ishaka bersyukur di saat usia senja, hasil kerjanya yang dimulai puluhan tahun lalu itu bisa dinikmati anak, cucu dan warga lain. Sumur sedalam 100 meter lebih yang ada di kebunnya setiap hari menjadi penolong bagi petani lain yang membutuhkan untuk menyiram tanaman atau sekadar kebutuhan minum. “Alhamdulillah hasil dari kebun ini juga buat bayar kuliah anak saya. Cucu saya juga nggak perlu risau soal uang sekolah,” katanya.

Pemandangan di kebun kakek Ishaka menarik perhatian beberapa kerabat dan banyak warga lain dari luar desa Bajo. Selain bisa melihat dan menikmati hasil kebun. Warga dan kerabat yang berkunjung akan disuguhkan udara segara pegunungan, pemandangan teluk Bima, jejeran pohon jati. Lokasinya yang berada pinggir jurang menambah keindahan. Dari kebun tersebut pulau Kambing di teluk Bima juga bisa dilihat.

“Cucu-cucu saya nanti nggak perlu susah lagi cari lahan untuk bangun rumah. Bangun di kebun juga bisa apalagi sekarang sudah ada jalan pertanian bisa pakai sepeda motor. Akan tambah bagus lagi kalau bangun rumah susun,” ujarnya.

Hal lain yang membuat Ishaka tenang dan selalu bersyukur kini sejumlah anaknya sukses merintis usaha. Salahsatunya menjadi guru Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sesuatu yang tidak pernah dibayangkan warga desa. Selama ini selain “membanting tulang” mengurus kebun, Ishaka bekerja sebagai tukang batu dan dibantu putranya yang kini sukses menjadi PNS.

Sejak puluhan tahun lalu, di sela kesibukannya mencari nafkah untuk keluarganya, setiap malam kakek Ishaka menyempatkan diri membagi ilmu agama dengan menjadi guru ngaji bagi anak-anak di Dusun Bajo Selatan Desa Bajo. Tugasnya menjadi guru ngaji juga kadang dibantu oleh tiga anaknya yang sejak kecil memang sudah fasih mengaji. Setelah membangun pondasi kebun, kini satu-satunya harapan kakek Ishaka adalah melaksanakan rukun Islam ke-lima yaitu menunaikan ibadah haji di tanah suci Mekkah Arab Saudi. (*)

No comments