Breaking News

Tren Inflasi Ramadhan, Pemerintah Imbau Masyarakat tak Konsumtif

Kabag Administrasi Ekonomi Setda Kabupaten Bima, Iwan Setiawan. Foto Berita11.com

Bima, Berita11.com— Kepala Bagian Administrasi Ekonomi Setda Kabupaten Bima, Iwan Setiawan mengimbau masyarakat agar tak konsumtif selama bulan Ramadhan. Ia menilai tren inflasi di bulan suci itu disebabkan oleh pola belanja masyarakat yang cenderung berlebihan saat puasa hingga mejelang perayaan Idul Fitri. 

“Jangan sampai dampak inflasi menyebabkan keterpurukkan ekonomi di tengah masyarakat kita. Jadi harus dikendalikan. Bukan Ramadhannya. Tapi prilaku masyarakat pada bulan Ramadhan sangat konsumtif. Sebenarnya Ramadhhan menganjurkan kita untuk berhemat. Tidak berlebih-lebihan,” Katanya kepada Berita11.com di Pemkab Bima, Senin (27/06/2016). 

Menurut Iwan, penampakan inflasi rawan terjadi pada bulan Ramadhan yang dipicu meningkatnya permintaan transaksi jual-beli masyarakat terhadap kebutuhan pangan, sehingg secara otomatis menyebabkan meningkatknya peredaran uang dan lonjakan harga di pasar. 

“Inflasi ditampilkan oleh meningkatnya harga. Logikanya seharusnya kita bisa mengerem bulan Ramadhan ini. Dia (Ramadhan) adalah wahana untuk menempa diri agar tidak foya-foya. Contohnya sekarang mana harga yang stabil. Malah melonjak satu setengah sampai duakali lipat. Grafiknya terus naik,” jelasnya. 

Menurut Iwan, intervensi pemerintah pusat terhadap harga pasar seperti pengendalian harga daging sapi sangat tepat dan menunjukan hasil nyata. Harga daging sapi di daerah masih wajar bagi masyarakat ekonomi menengah. Meskipun harga komoditas tersebut tidak bergerak agresif saat Ramadhan. 

“Kebijakan presiden ini ril dan berdampak positif. Harga daging sapi di Bima sekitar 90 sampai 100 ribu lebih per kilogram itu bagi masyarakat ekonomi menengah. Jarang menyentuh ekonomi bawah. Gejolak ada, cuma masih dalam taraf yang wajar,” imbuhnya. 

Menanggapi keluhan masyarakat terkait ketersedian ikan di pasar. Iwan memastikan tidak ada kekurangan jumlah pasokan. Masalah umum yang terjadi bulan Ramadhan adalah meningkatnya konsumsi. Menurutnya, stok ikan bulan Ramadhan lebih banyak dibanding bulan-bulan biasa. 

“Semua produk pangan meningkat di pasar, bukan kelangkaan. Definisi kelangkaan itu langsung. Tapi bukan karena langka ikan mahal. Karena jumlah permintaan lebih banyak dari pada jumlah pasokan. Itu bukan kebutuhan pokok. Jadi tidak bisa diintervensi pemerintah,” pungkasnya. (ID) 

No comments