Breaking News

Dulu Door to door, Kini Usaha Hamzah Memiliki Kemasan

Hamzah Hasan, Pengusaha Bandeng Presto asal Desa Talabiu. Foto US

Bima, Berita11.com— Desir angin seolah malu-malu menampar beberapa pohon menjulang di tengah ruas tanaman. Di ranting itu sebagian batang tampak rapuh, namun tak terkoyak meskipun diterpa deras hujaman sepoi.

Di antara pohon menjulang beberapa ayunan menambah nikmat berada ruas kebun itu. Saat siang hari udaranya masih tetap sejuk meskipun kini musim telah beranjak menuju kemarau. Seorang pria tampak asyik duduk santai menikmati alunan ayunan. Digenggamannya ada beberapa lembar catatan.

Pria itu adalah Hamzah Haz, salah satu peserta Diklat teknis tematik pakan ternak bagi penyuluh swadaya digelar di P4S Desa Bontokape Kecamatan Bolo. Ya Hamzah adalah salahsatu dari puluhan penyuluh perikanan swadaya yang membatu tugas penyuluh perikanan PNS di Kabupaten Bima. Ia merupakan pelaku utama kegiatan perikanan.

Di luar aktivitas sebagai penyuluh swadaya, bapak satu anak ini merupakan petani sawah dan petani tambak. “Sudah puluhan tahun saya jadi petani. Selang musim tanam maka aktivitas saya adalah di tambak memelihara bandeng,” ujar Hamzah saat dihampiri Berita11.com.

Kisah Hamzah sebagai petani bandeng dimulai puluhan tahun lalu setelah ia mendapat amanat warisan tambak seluas puluhan meter per segi dari orangtuanya. Setelah itu, pagi dan malam ia mengurus tambak dan menjaga bandeng. “Alhamdulillah meskipun sedikit tapi cukup untuk menutupi kebutuhan keluarga. Masalah utama saya dan petani tambak lain jika terjadi rob atau luapan banjir laut,” ujar Hamzah.

Pria yang pernah merantau di Kalimantan selama beberapa tahun ini setiap tiga bulan mendapat keutungan bersih Rp3-4 juta jika melepas nener tiga hingga 10 ribu. Panen bandeng dilakukannya setelah berumur tiga bulan. “Alhamdulillah kadang sampai empat juta, tapi kadang juga rugi jika banyak nener yang nggak jadi atau mati. Banjir rob dan hama adalah musuh utama di tambak,” katanya.

Selain menunggu hasil panen di tambak, sejak beberapa tahun lalu Hamzah dan istrinya memcoba usaha pengolahan bandeng presto. Cita rasa bandeng presto Bima terutama yang dihasilkan UKM di Palibelo dan Talabiu sudah terkenal enaknya hingga luar daerah, sehingga tak heran menjadi oleh-oleh bagi warga yang berkunjung ke Bima. Namun usaha Hamzah tak hanya menunggu pesanan dari warga luar daerah atau dijual sekitar bandara Sultan Muhammad Salahddin Bima, tetapi dipasarkan ke beberapa kelurahan di Kota Bima.

Berkat ketekunannya itu, keluarga Hamzah mendapatkan tambahan untuk menutupi kebutuhan setiap hari. “Setiap hari saya dibantu oleh istri. Pagi-pagi kami keliling Kota Bima dengan sepeda motor menjual bandeng door to door dan alhamdulillah hampir semuanya laku,” katanya.

Hampir sebagian besar pelanggan Hamzah adalah warga Kota Bima. Beberapa di antaranya merupakan pejabat. Kegigihannya mengaiz rejeki itu mengundang perhatian dari salahsatu langganannya yang kebetulan Kabid Pengolahan dan Mutu Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bima. Usahanya kemudian disurvey, dinilai layak dan diverifikasi oleh pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan, usaha bapak satu anak dan istrinya ini mendapatkan bantuan Program Mina Pedesaan (Pump) pengolahan sebesar Rp50 juta lebih.

Dari hasil bantuan itu Hamzah dan istrinya mampu menghasilkan produk bandeng presto yang dijamin bersih (higenis) dan memiliki kemasan. Labelnnya dinamai bandeng presto Hayati yang diambil dari nama istrinya Nurhayati. Sejak mampu menghasilkan produk berlabel, hasil penjualannya meningkat. Ketika Festival Keraton Nusantara (FKN) digelar di Bima, pemerintah menyiapkan stan khusus untuk produk UMKM. “Saat itu saya dapat pembelian dari Sultan Sumatera saja satu juta, belum yang lain. Banyak yang laku,” ujarnya.

Pada momentum tertentu seperti saat puasa Ramadhan lebaran Idul Fitri 1437 Hijriyah lalu, permintaan terhadap bandeng presto Hayati meningkat drastis. Bahkan keluarga Hamzah memperoleh keuntungan lebih dari Rp10 juta. Kini produk yang ia jual dikenal luas berkat bantuan pemerintah.

“Produk bandeng presto yang kami jual memiliki ciri khas. Karena kami menjual lengkap dengan sambalnya, sehingga tinggal dimakan,” ujar pria asli Talabiu Kecamatan Woha ini.

Meskipun usaha yang dirintisnya dari kecil itu hanya mampu untuk menutupi kebutuhan setiap hari dan kebutuhan mendesak. Hamzah bersyukur diberikan bantuan oleh pemerintah. Beberapakali istrinya diutus mengikuti pelatihan pengolahan dan pemasaran di luar daerah seperti Jakarta. Kini ia mencoba memanfaatkan teknologi dalam meningkatkan dan mempercepat proses produksi bandeng.

“Manusia yang berhasil itu adalah orang yang pandai-pandai bersyukur. Alhamdulillah saya bisa menafkahi keluarga. Ada beberapa orang yang hidup dari usaha ini termasuk anggota kelompok yang membantu produksi bandeng presto,” ujarnya. (US)

No comments