Breaking News

Generasi di Bima Bakal hanya Menjadi Penonton

H. Haerudin ST,.MT. Foto Gafur Berita11.com

Bima, Berita11.com— Sejumlah pihak menguatirkan kondisi Kabupaten Bima ke depan. Jika iklim investasi tak kunjung terbuka, maka generasi muda mendatang hanya akan menjadi penonton melihat kesuksesan di wilayah lain seperti daerah tetangga Kabupaten Dompu.

Kekuatiran itu juga disampaikan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Kabupaten Bima, H. Haerudin, ST.,MT. Ia prihatin melihat berbagai aksi segelintir orang menggerakkan penolakkan setiap ada perusahaan baru yang berinvestasi. “Terlepas dari jabatan saya sebagai kepala dinas. Saya prihatin melihat daerah saya saat ini. Bagaimana nasib generasi mendatang setelah tidak ada kami,” katanya di Distamben, Rabu (24/8/2016).

Menurut pria asal Kecamatan Woha Kabupaten Bima ini,  jika investasi terus ditolak maka sudah pasti para generasi muda mendatang di Kabupaten Bima hanya akan menjadi penonton bagi kesuksesan di daerah lain. Misalnya saja kesuksesan investasi di Kabupaten Dompu menghadirkan tiga jenis perusahaan seperti perusahaan gula, perusahaan jagung dan perusahaan tambang.

“Bagaimana nasibnya generasi mendatang. Ini kita kan hanya bisa menolak tanpa solusi. Bagaimana nasib para pemuda mendatang dengan kondisi investasi yang ditutup oleh sebagian orang,” kata Haerudin.

Dalam perspektif mantan pejabat Dinas Pekerjaan Umum ini,  penolakkan sebagian kelompok tidak lantas mewakili masyarakat. Dia berharap masyarakat bisa bersikap terbuka terhadap investor. Karena fakta generasi muda yang masih banyak menganggur merupakan fenomena sosial yang bisa menjadi bom waktu melahir berbagai kriminalitas atau Kamtibmas.

“Beberapa persoalan sosial yang muncul itu kan tidak terlepas karena persoalan kerja. Makanya seharus ada investasi. Jangankan dengan Dompu sekarang Kabupaten Bima sudah ditinggal jauh oleh daerah pemekarannya Kota Bima,” ujarnya.

Haerudin melihat persoalan penolakan terhadap investasi perusahaan minyak kayu putih oleh PT. Sanggar Agro sama dengan persoalan tambang. Pemerintah harus secepatnya menyikapi persoalan itu.


Beberapa solusi yang disiapkan oleh pengambil kebijakan diantaranya bisa menyediakan forum atau wadah bagi kelompok mahasiswa atau pemuda. Misalnya yang dikemas dalam bentuk sederhana acara ngopi bersama (coffe break). Kelompok  pemuda memahami cara menyampaikan masukan kepada pemerintah secara tepat dengan data yang bisa ditertanggungjawabkan bukan bermain pada tataran isu. Selanjutnya input itu bisa digunakan pemimpin dalam mengambil kebijakan. Tujuannya akhirnya pembangunan bisa selaras sesuai keinginan masyarakat. (AG)

No comments