Breaking News

Sepotong Masa Lalu Usman saat Jaman Penindasan

H Usman M Ali Saat Menceritakan Perjuangan Melawan Penjajah. Foto US

Decit suara langkah kaki puluhan serdadu berkepala plontos siang itu semakin lama semakin jelas. Di pundak mereka beberapa bedil laras panjang berujung runcing siap dikokang. Udara masih segar di rimbun pepohonan. Namun tangis beberapa wanita mengiris hati. Mereka mendapatkan perlakuan kasar dan tidak senonoh dari prajurit bernafsu liar itu. Tak lama suara dum membahana.

Sepotong kisah masa lalu itu masih tersisa dalam ingatan H Usman M Ali (130 tahun) veteran pejuang pra kemerdekaan asal Desa Talabiu Kecamatan Woha Kabupaten Bima. Jika pun ada kepingan yang terlupakan itu hanya sebagian yang lekang oleh waktu. Kakek puluhan cucu dan cicit ini masih ingat betul bagaimana perjuangannya dengan kawan-kawannya ketika Indonesia belum merdeka meskipun usianya tak lagi muda. Jaman ketika banyak warga ditindas termasuk di Bima.

“Dulu saya adalah pemuda, semangatnya tinggi untuk berjuang tidak seperti sekarang. Kami selalu berdiri di depan, sedangkan orangtua berada di belakang kami,” katanya saat ditemui oleh Berita11.com di kediamannya di Desa Talabiu Kecamatan Woha Kabupaten Bima, Senin (15/8/2016).

Di wilayah Kae, Usman berjuang bersama teman-temannya seperti Abdullah Tayeb dan Idris Kalla. Upaya mereka dulu bagaimana menghalangi serdadu Nipon tidak melewati doro Belo Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima. Meskipun tidak memiliki senjata api seperti penjajah saat itu, perlawanan tetap dia lakukan dengan berbagai macam taktik.
“Dulu saya dan beberapa pemuda tidak menggunakan senjata besar seperti tomba tapi kami menggunakan besi kecil (keris dan golok). Saat waktu yang tepat kami menyerang musuh,” ceritanya.

Usman masih mengingat masa saat jaman penjajah Jepang berkuasa. Beberapa wanita mendapat perlakuan tidak senonoh. Lantaran jaman yang genting karena penjajah, ia pun tidak sempat memikirkan pendidikan. Niat utamanya adalah bagaimana melawan penjajah.
Saat masa penjajah Belanda, Usman pernah bergabung dengan beberapa pejuang lain di Surabaya melancarkan serangan terhadap penjajah. 

“Kenapa dulu pemuda dari Bima diminta bergabung di Surabaya karena tekad dan perjuanganan perlawanan di Bima dulu begitu kuat. Semangat kami dulu sangat beda dengan pemuda sekarang,” kata anggota LVRI Bima ini.

Beberapa teman Usman gugur saat perlawanan terhadap penjajah Jepang dan Belanda. Satu tekad mereka saat melawan penjajah yaitu harus menang. Jikapun meninggal maka akan mati syahid. “Saya tidak pernah mikir sekolah karena jamannya genting dulu. Yang penting kita melawan musuh,” katanya.

Usman mengaku sedih melihat semangat generasi muda sekarang kian mengendur terutama dalam menggerakan kegiatan positif dalam mengisi kemerdekaan. Para pemuda masa kini malah bangga dengan perbuatan tidak terpuji. “Pemuda jaman ake katuha weki (menjadi pemuda yang sok hebat),” katanya.

Pasca perjuangan kemerdekaan, ayah tujuh anak ini memiliki rekam jejak karir di legislatif dengan menjadi anggota DPRD Kabupaten Bima periode 1982-1987 dan menjadi glara (kepala desa) Talabiu Kecamatan Woha. Kini Usman menghabiskan waktu dengan tinggal, bermain dengan cucu dan cicitnya di rumah anaknya di Talabiu. Jika mengingat perjuangannya pada masa sebelum Indonesia merdeka terkadang dia bersedih.

Meski berusia lanjut pendengaran dan penghilhatannya masih kuat meskipun sesekali dibantu dengan kacamata. Demikian juga dengan ingatannya.“Sekarang sudah banyak teman-teman saya yang meninggal,” katanya. (Fachrunnas)

No comments