Breaking News

Aktivitas Pelayaran di Pelabuhan Bima Terancam jika...

Peta Jalur Sedimentasi di Pelabuhan Bima. Foto US




Kota Bima, Berita11.com— Aktivitas pelayaran kapal penumpang Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) dan kapal barang di pelabuhan rakyat (Pelra) Bima terancam terganggu jika persoalan sedimentasi di pelabuhan Bima tak segera ditangani. Juli 2015 lalu sedimentasi mencapai ketinggian 70 centimeter.

Kepala Kantor  Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Bima, H. Muhammad Junaidin, sedimentasi material dari sungai Padolo yang berupa lumpur, pasir, batu dan humus merupakan ancaman serius yang mesti menjadi atensi bersama berbagai pihak. Jika tidak bisa dipastikan akan mengganggu kegiatan di pelabuhan Bima. Saat banjir besar melanda Kota Bima Juli 2015 lalu, ketinggian sedimentasi mencapai 70 centimeter hingga menyebabkan kapal Pelni kandas di pelabuhan Bima.

Ketinggian sedimentasi tersebut diketahui setelah KSOP Bima berkoordinasi dengan nakhoda kapal dan mengukur kedalaman air menggunakan echo sounder kapal. Persoalan sedimentasi tidak hanya mengancam kelancaran aktivitas kapal Pelni yang bersandar di pelabuhan Bima, namun lama-kelamaan juga akan mengganggu aktvitas kapal Pelra di pelabuhan setempat.

“Jika tidak segera diatasi sudah pasti tahun depannya akan menganggu kapal penumpang, bahkan kapal di pelabuhan rakyat,” ujar Muhammad Junaidin kepada Berita11.com di KSOP Bima, kemarin.

Berdasarkan data KSOP Bima, angka kunjungan kapal Pelni di pelabuhan Bima sebanyak 23 kali dalam sebulan. Bahkan dalam sehari angka kunjungan mencapai 2-3 kali, sehingga dapat disimpulkan bahwa keberadaan moda transportasi laut masih sangat dibutuhkan masyarakat Bima. Karena masih banyak masyarakat yang belum membeli tiket pesawat untuk keluar daerah.

Menurut pria yang pernah bertugas di pelabuhan Benoa Bali ini, untuk mengatasi masalah sedimentasi tidak hanya bisa dilakukan dengan cara penyedotan lumpur atau material sedimentasi. Karena upaya tersebut hanya merupakan solusi jangka pendek dan akan menghabiskan banyak anggaran. Untuk jangka panjang perlu pengalihan muara sungai Padolo sehingga pelabuhan Bima jauh dari ancaman sedimentasi.

Hanya saja untuk penanganan pengalihan muara sungai diperlukan perhatian pihak terkait terutama Pemerintah Kota Bima. Karena domain KSOP hanya mengurus terkait kendala di pelabuhan Bima. Persoalan ancaman sedimentasi di pelabuhan Bima sudah disampaikan kepada Kementerian Perhubungan.

“Tim dari pusat sudah melakukan survey terkait laporan ini. Soal volume dan titik pekerjaan masih menunggu hasil survey itu. Namun kita harapkan tahun depan sudah dimulai pengerukan,” harap Muhammad Junaidin.

Upaya penanganan sedimentasi yang diusulkan KSOP Bima kepada pemerintah pusat tidak hanya terfokus di pelabuhan Bima, namun juga areal sekitar Pusat Pendaratan Ikan (PPI) Teluk Bima di Kelurahan Tanjung. Harapannya fasilitas itu bisa dimanfaatkan untuk masyarakat khususnya kapal perikanan nelayan. (US)

No comments