Breaking News

Guru Bahasa Inggris Mampu Bimbing Siswa hingga Raih Juara MTQ

Ilustrasi


Bima, Berita11.com— Kendati bukan ditangani oleh guru pembina khusus, siswa SMPN 3 Woha Kabupaten Bima membuktikan diri mampu meraih prestasi hingga ke tingkat nasional. Prestasi tersebut diraih pada lomba tilawah kategori pelajar pada MTQ Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) di Manado belum lama ini. Siswa sekolah setempat berhasil menjadi terbaik ke-empat pada ajang tersebut. 

“Ini keajaiban. Saya katakan keajaiban artinya yang menjadi pembina untuk prestasi tahun ini bukan guru asli pada bidang itu,” ujar Kepala SMPN 3 Woha, Chairunnas, M.Pd kepada Berita11.com di SMPN 3 Woha, kemarin. 

Dia menjelaskan anak didiknya yang diutus pada MTQ FLS2N merupakan juara pertama pada tingkat provinsi yang dibimbing dan dilatih oleh guru bidang studi Bahasa Inggris SMPN 3 Woha. “Kami sangat mengapresiasi keseriusan para guru yang sudah berusaha membanggakan sekolah di tingkat nasional,” katanya. 

Dikatakannya, siswa setempat juga meraih prestasi bidang ekstrakurikuler lain seperti cabang olahraga bola voli. Para siswa yang meraih prestasi itu juga dilatih olahraga dan guru Bahasa Inggris. Para siswa binaan guru Bahasa Inggris tersebut diutus menjadi duta provinsi pada tingkat nasional. 

Sebaliknya, siswa yang mengikuti lomba dai, pidato Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia dan meraih peringkat pertama tingkat Kabupaten Bima justru dilatih oleh guru Penjas yang menangani pelajaran tentang olahraga. “Jadi keajaiban betul-betul muncul tahun ini,” ujarnya. 

Menurut Chairunnas, penerapan metode kepelatihan itu berasal dari pengalaman pribadi dirinya. Dari hasil pemetaan, potensi siswa sekolah setempat yang dominan menyukai kegiatan olahraga dengan mudah dapat dimaksimalkan dengan baik. 

Ia menilai munculnya berbagai tindakan negatif di kalangan pelajar merupakan akibat kurangnya kegiatan positif di luar kelas. Sekolah hanya menyediakan wadah bagi mereka. 

“Ini pengalaman saya best practice saya. Bahwa munculnya tindakan destruktif dan negatif karena kurangnya kegiatan positif. Siswa kami hobi dan condongnya pada kegiatan ekstra. Tapi kami juga tidak abaikan prestasi bidang akademik,” katanya. (ID) 

No comments