Breaking News

Ini Solusi Perambahan Hutan di Bima

Foto Illegal Logging. Foto Takepart


Bima, Berit11.com— Kasus perambahan hutan (illegal logging) di Bima memerlukan solusi cerdas. Salahsatu caranya dengan memberdayakan masyarakat di sekitar kawasan hutan melalui kegiatan ekonomi produktif.

Demikian pendapat Kepala Bidang Inventarisasi Pengukuhan dan Rencana Kehutanan Dinas Kehutanan (Dishut)  Kabupaten Bima, Ir.a M. Natsir. “Tapi persoalan hutan ini tidak bisa dilihat dari satu sudut pandang. Karena persoalan hutan ini tidak terletak dalam kawasan. Tapi orang luar ini,  jadi pendekatan penyelesaian problem ekonomi,” katanya kepada Berita11.com di Dishut Kabupaten Bima, jalan Soekarno-Hatta, Senin (26/9/2016).

Dikatakannya, pendekatan penyelesain persoalan ekonomi masyarakat sekitar kawasan hutan merupakan salahsatu solusi yang kini sedang diterapkan Dishut Kabupaten Bima. Sebagai pilot awal yaitu Desa Oi Panihi Kecamatan Tambora. Warga diajarkan memanfaatkan budidaya Azolla Microphylla yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan lele, substitusi pakan pabrik. Pemanfaatannya pun tidak terbatas sebagai pakan lele, namun juga untuk pakan ternak, pakan unggan dan sebagai penganti unsur nitrogen akan kebutuhan pupuk urea.

“Karena melindungi hutan tanpa paralel dengan masyarakat sekitar kawasan itu akan sangat sulit, sehingga kita mulai dari masyarakat di luar kawasan hutan,” katanya.

Melalui pola pemberdayaan tersebut diharapkan dengan sendirinya akan membangkitkan partisipatif dan kepedulian masyarakat sekitar kawasan dalam menjaga dan melindungi hutan. Apalagi pola yang diterapkan Dishut adalah melindungi tegakkan pohon yang sudah ada dan menanam pada area kosong.

“Jadi hampir di satu titik pengembangam Azolla ini kita dapat mencakup semua sektor dalam penggerakan ekonomi,” ujar Natsir.

Menurut alumnus Fakultas Pertanian Universitas Mataram ini, untuk kegiatan aksi pengijauan atau penanaman oleh masyarakat tak mesti menunggu musim hujan. Namun bisa mengadopsi pola yang sudah diterapkan di India dan Banglades. Yaitu menggunakan teknologi penghijauan, tanaman dilapisi secama jeli yang berfungsi sebagai kondisioner, sehingga dapat  bertahan selama tiga bulan tanpa hujan atau disirami air.

“Filosofi kami di (dinas) kehutanan lahan hijau ini bisa dilakukan setiap saat tanpa menunggu musim hujan karena teknologinya sudah tersedia,” ujar mantan penyuluh KB ini. (US)


No comments