Breaking News

Kisah Mahasiswa STKIP Taman Siswa yang Sukses Menjadi Wiudawan Terbaik

Tak Perlu Kaya untuk Jadi yang Terbaik. Ini Dibuktikan Wisudawan Terbaik STKIP Taman Siswa


Bima, Berita11.com— Dua lulusan terbaik angkatan ke-IX Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Taman Siswa Bima, Zaitun dan Maryani memiliki kiat yang sama untuk meraih hasil akhir terbaik di bangku kuliah. Sejak awal kuliah, keduanya menargetkan menjadi wisudawan terbaik.

Zitun (23), mahasiswi Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP Taman Siswa Bima asal Desa Nata Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima ini mengaku sejak pertama kuliah menargetkan diri menjadi wisudawati terbaik.

“Menjadi wisudawan terbaik sudah direncanakan dari awal semester 1 dan alhamdullilah tercapai,” katanya kepada Berita11.com, Jumat (30/9/2016).

Baca Juga:




Dibesarkan dari keluarga bersahaja, anak ketiga dari pasangan Ramli Arsyad dan Ibu Fatimah ini mengaku tarikannya terhadap bidang ilmu Sejarah terinspirasi dari seorang guru saat belajar di sekolah menengah pertama. Ketika itu, dia belajar di sekolah kejuruan  sehingga memacu minat dan rasa ingin tahu mempelajari sejarah yang selama bangku SMK tidak pernah dipelajari.

“Saat SMP sudah tertarik belajar Sejarah dari kekaguman pada seorang guru. Saya masuk SMK, di situ tidak belajar sejarah. Karena itu saya mulai tertarik,” imbuhnya.

Terlahir di Desa Nata Kecamatan Palibelo 21 Mei 1993. Zaitun pernah mengenyam pendidikan sekolah dasar di SDN 1 Nata. Kemudian SMPN 1 Palibelo dan SMKN 3 Kota Bima. Ia menjadi wisudawati terbaik pada program Pendidikan Sejarah STKIP Taman Siswa Bima dengan meraih nilai Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,88.

“Orang tua saya tentu bangga. Kemarin sampai kesehatannya sedikit lemah karena terlalu lama di acara,” katanya.

Keseharian bapak kandung Zaitun bekerja sebagai Kepala Dusun di Desa Nata Kecamatan Palibelo. Sementara sang ibu berprofesi sebagai tenaga pendidik honorer sebuah sekolah.

Hal yang membuatnya terkesan selama kuliah di STKIP Taman Siswa Bima yaitu bapaknya yang selalu setia mengantar dan menjemputnya. Selain dari orang tua, biaya kuliah dibantu beasiswa dari kampus.

“Kalau kerja waktu kuliah nggak. Cuma kemarin dapat beasiswa semester V untuk bantu biaya kuliah,” ujarnya.

Hampir sama dengan Zaitun, Maryani (22) mengaku sejak awal serius belajar saat mengawali kuliah di kampus. Warga Desa Cenggu Kecamatan Palibelo Kabupateb Bima ini tak menyangka menjadi wisudawati terbaik program studi Pendidikan Fisika STKIP Taman Siswa Bima dengan IPK 3,73.

Gadis kelahiran Cenggu, 30 Januari 1994 ini mengaku tak sedikit hal pelik dirasakannya selama mengikuti perkuliahan. Itu terjadi ketika menumpuknya tugas dari dosen.  Meski demikian, dari pengalaman tersebut ia terdorong untuk serius menggapai cita-citanya secepatnya menuntaskan kuliah. Prisipnya, melakukan sesuatu dengan kesungguhan hati.

“Dukanya saat dikasih tugas yang banyak dan dikejar waktu. Jadi harus lembur sampai lupa makan. Tapi pengalaman dan kepercayaan diri juga bertambah,” ujarnya.

Bagi Maryani hal istimewah yang dirasakan hingga kini yaitu diumumkan sebagai salahsatu wisudawan terbaik. Prestasi lain ia pernah mewakili kampus untuk mengikuti lomba yang digelar Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah VIII di Bali pada tahun 2015. Selain itu, dia juga pernah menjadi terbaik pada ajang olimpiade Fisika yang diselenggarakan kampus STKIP Taman Siswa Bima.

Maryani mengaku sangat tertarik dengan Pendidikan Matematika dan IPA (MIPA). Sejak awal sudah berniat kuliah ilmu pendidikan di STKIP Taman Siswa. Semula ia berencana mengambil Prodik Kimia. Namun karena jurusan yang dia inginkan belum tersedia, akhirnya memutuskan memilih Pendidikan Fisika.

Dia bersyukur mampu menorehkan berbagai prestasi setelah memilih jurusan Fisika di STKIP Taman Siswa Bima. Motivasinya selama ini, ialah ingin berusaha menyamai kakaknya yang pernah menjadi wisuda terbaik. Tekadnya itu ia persembahkan untuk almarhum ibundanya Nuraidah.

“Kalau kakak bisa kenapa saya tidak bisa.  Saya juga ingin persembahkan prestasi ini untuk almarhum ibu saya. Walaupun beliau sudah tiada,”ujarnya.

Selama kuliah, Maryani memperoleh beasiswa dari kampus. Meski bapaknya M. Amin PNS,  dia merasa bertanggung jawab untuk membiyai sendiri kuliah. Setidaknya mengurangi beban orangtuanya karena masih ada adiknya yang masih duduk di bangku SMP dan membutuhkan biaya.  “Kadang saya berpikir bagaimana adik saya. Jadi sedapat mungkin saya mengurangi beban orangtua,” imbuhnya.

Setelah menuntaskan pendidikan program S1, impian besar perempuan asal Cenggu Kecamatan Belo ini melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 dan mengabdikan diri di kampus STKIP Taman Siswa. “Rencana ingin lanjut S2 tapi lihat kondisinya. Kalau tercapai saya ingin menjadi dosen di STKIP Taman Siswa,” ungkapnya. (ID)

No comments