Breaking News

Aneh, Bima Dikenal Surplus, tapi Harga Beras dan Gabah Mahal

Pedagang Beras di Pasar Raya Bima. Foto Berita11.com


Bima, Berita11.com— Kabupaten Bima diakui pemerintah daerah sebagai penghasil berbagai komoditi tertinggi termasuk beras. Bahkan sebagai daerah penyangga stok pangan sehingga dipastikan surplus. Tetapi nyatanya harga beras di tingkat petani dan di pasar jauh lebih tinggi dari Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Mengapa demikian?

Petugas Pelayanan Informasi Pasar Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Dinas Pertanian, Tanaman Pangan (Dispertapa) dan Hortikultura Kabupaten Bima, Titik Wijayati, SP, tidak menampik harga beras di Bima di atas HPP. Persoalan tersebut disebabkan adanya spekulan dan keinginan petani memperoleh banyak keuntungan.

Saat ini harga beras di Kabupaten Bima pada tingkat petani atau produsen berkisar Rp7.000-Rp8.000/kilogram (kg), sedangkan di tingkat heller berkisar Rp7.300-Rp7.500/ kg, sementara di tingkat pedagang antara Rp8.000-Rp.9.000/ kg. Bahkan pada tahun 2014 lalu harga beras di tingkat petani di Kabupaten Bima pernah mencapai Rp10 ribu/ kg.


Baca Juga:




“Perbedaannya antara Rp300 hingga Rp5.00 antara produsen dengan pengumpul atau heller bahkan di atas itu,” ujar Titik kepada Berita11.com di Dispertapa dan Hortikultura.
Tidak berbeda dengan harga beras, harga gabah di Kabupaten Bima juga cukup tinggi. Gabah kering Rp3.800/kg sedangkan gabah kering giling Rp4.100/kg. Padahal HPP yang sudah ditetapkan oleh pemerintah antara Rp3.700-Rp3.750/ kg.

Menurut Titik membengkaknya harga beras dan gabah di Kabupaten Bima tidak terlepas adanya permainan spekulan nakal atau tengkulak. Modus operandi mereka mengambil beras dan gabah di produsen dengan harga rendah, kemudian menimbun dan sebagian dibawa keluar daerah yang sangat membutuhkan beras. Beberapa daerah tujuan pengiriman beras Bima yakni Flores NTT dan Surabaya Jawa Timur.




Bahkan beberapa bulan lalu tim gabungan yang terdiri dari Dispertapa dan Hortikultura dengan beberapa personil teknis seperti Kejari, aparat Kepolisian, Disperindag dan Bagian Ekonomi Setda Kabupaten Bima pernah menggagalkan pengiriman beras tujuan ke Timur yang dilakukan spekulan. Pengiriman itu tidak disertai dokumen pendukung dari Bagian Ekonomi Setda Kabupaten Bima.

“Banyak pemain nakal. Bahkan beberapa waktu lalu kita pernah gagalkan pengiriman ke Timur, padahal mestinya harus ada rekomendasi dari dinas teknis terkait. Stok dalam daerah harus aman dulu baru bisa dikirim keluar daerah,” ujar Titik.

Ia mengakui, sebenarnya pemerintah kesulitan mengawasi ulah spekulan atau tengkulak nakal yang memainkan harga beras. Hal itu disebabkan karena kendala anggaran. Hingga saat ini pun tim terpadu belum dibentuk secara resmi karena persoalan anggaran.

Dispertapa dan Hortikultura sudah memetakkan daerah rawan spekulan di Kabupaten Bima yakni di Kecamatan Bolo. Hal tersebut dilihat dilatarbelakangi karena wilayah itu merupakan penghasil Pajale tertinggi di Kabupaten Bima. “Sebenarnya ada tiga pasar di Kabupaten Bima kami awasi. Tapi yang paling rentan itu di Kecamatan Bolo,” ujar Titik.


Kendala Anggaran, Pengawasan Lemah

Pada sisi lain pengawasan terhadap spekulan dan tengkulak di Kabupaten Bima terbilang rendah karena persoalan anggaran pengawasan yang terbatas. Bahkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Bima yang memiliki Tupoksi utama mengawasi spekulan dan harga komoditi menyerah akan masalah yang terjadi di lapangan.

“Bagaimana bisa meningkatkan pengawasan sementara anggaran pengawasan terbatas. Bayangkan saja anggaran pengawasan di kita (Disperindag) hanya 15 juta. Itu mencakup keseluruhan item pengawasan dan lain-lain,” ujar Kepala Seksi Kemetrologian dan Perlindungan Konsumen Disperindag Kabupaten Bima, Amiruddin.

Soal pengiriman beras secara bebas keluar dareah melalui mulut pelabuhan Disperindag nyaris tidak pernah mengawasinya. “Kendala kami juga personil, karena tidak mungkin kami rutin stand by di sana,” ujarnya.



Tengkulak Rutin Borong Beras dari Bima

Stok beras normal di Bima tak sepenuhnya selalu tersedia untuk masyarakat. Dalam kondisi tertentu harga beras kerap naik dan sulit dijangkau masyrakat. Bahkan stok beras di Bima sering diborong oleh tengkulak dari daerah tetangga yakni Kabupaten Dompu. Hal tersebut diakui pedagang beras di pasar raya Bima, Sumarni.

Diakui Sumarni, secara rutin dua kali dalam sepekan, tengkulak beras dari Kabupaten Dompu mengambil beras di pasar raya Bima yang dijual pedagang. Bahkan tidak main-main sekali muat beras yang diborong sebanyak 10 truk. Setiap truk berisi 10 ton beras.

“Sering diborong, kadang ambil beras Bulog. Tapi kalau tidak ada stok beras Bulog yang diborong beras biasa. Biasanya dua kali seminggu,” ujar Sumarni.

Sumarni tidak mengetahui persis tujuan tengkulak dari Dompu mengambil beras dari pasar raya Bima dalam jumlah banyak. Namun dia menduga itu dilakukan tengkulak itu untuk memenuhi stok di Dompu. Pada saat bersamaan spekulan itu menimbun stok gabah mereka di gudang sambil menunggu kondisi rawan beras.

Beras yang dijual Sumarni berbeda-beda, bergantung jenis atau kelasnya. Untuk beras kelas 2 dijual dengan harga Rp8.000/ kg, selisih minimal Rp7.00 dari harga awal ketika diambil di tingkat heller, sedangkan beras nomor 1 dijual dengan harga Rp9.000/ kg dari harga beli Rp7.600-Rp8.000/ kg, sedangkan beras merah dijual dengan harga Rp6.300-Rp7.000/ kg. Rata-rata beras yang dijual Sumarni diambil dari heller yang berada di Desa Nata dan Ntonggu Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima.


Harga Beras Diprediksi Terus Naik hingga Maret 2017

Pada tingkat pengumpul atau heller harga beras juga cukup mahal. Kisarannya untuk jenis medium Rp7.500/ kg, sedangkan jenis premium berkisar Rp7.800/ kg. Menurut pemilik heller UD M. Firdaus Desa Lewintana Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima, Abdullah, harga beras yang mahal disebabkan karena harga gabah di tingkat petani juga sedang mahal. Persoalan itu juga disebabkan karena petani sempat mengalami gagal panen beberapa bulan lalu.

Harga beras di tingkat heller dan pedagang diperkirakan akan terus merangkak naik. Bahkan harga di tingkat heller diperkirakan akan mencapai Rp9.000/ kg sebelum Maret 2017, karena jadwal panen petani masih lama. 

“Perkiraan kami akan terus merangkak naik, karena memang harga gabah juga sedang naik,” ujarnya kepada Berita11.com. (US/ID/RN)

No comments