Breaking News

Banyak Keluhan Masyarakat, tapi BLH tak Punya Alat Pengukur Udara

Drs Burnahuddin, MT


Sumbawa, Berita11.com— Kasus pencemaran udara di Kabupaten Sumbawa terbilang tinggi. itu dilihat dari maraknya keluhan masyarakat seperti di Kecamatan Unter Iwes. Hanya saja Badan Lingkungan Hidup (BLH) belum memiliki alat pengukur udara untuk memastikan tingkat pencemaran.

Sekretaris Badan Penanaman Modal dan Lingkungan Hidup (BPM-LH) Kabupaten Sumbawa, Drs Burhanuddin, MT, mengatakan, selama ini SKPD setempat sering menerima laporan dari masyarakat terkait pencemaran udara. Hanya saja tingkat pencemaran belum diketahui karena badan setempat belum memiliki alat pengukur partikulasi udara.

“Sehingga untuk mengetahui sejauh mana tingkat ambang pencemaran udara di wilayah Kabupaten Sumbawa tidak bisa dipastikan secara langsung,” katanya kepada Berita11.com di Sumbawa, Rabu (26/10/2016).

Disebutkannya, sejumlah keluhan yang diterima BPM-LH seperti pencemaran  udara dari kegiatan industri pengolahan dan pengeringan jagung di Kecamatan Unter Iwes. Masyarakat di kecamatan tersebut mengeluhkan gatal-gatal pada tubuh akibat debu ampas pengolahan jagung. Keluhan lain terkait aktivitas industri tepung tapioka di Kecamatan Rhee yang mengeluarkan bau tidak sedap sehingga meresahkan masyarakat sekitar.

“Hanya saja dengan adanya persoalan itu tidak sepenuhnya harus dikatakan itu sudah masuk dalam pencemaran lingkungan taraf tinggi dan membahayakan. Karena  untuk mengetahui pencemaran  di atas ambang memerluka alat penguji pencemaran udara,” ujar Burhanuddin.

Menurut dia, sebenarnya, BPM-LH Kabupaten Sumbawa sudah maksimal melaksanakan pengawasan dan peneguran secara langsung kepada sejumlah industri yang beroperasi di tengah pemukiman warga. Setiap perusahaan diwajibkan menyampaikan laporan pengelolaan lingkungan setiap semester.

“Itu menjadi acuan perkembangan industri tersebut berjalan. Bila tidak sesuai kesepakatan awal sebelum membangun industri akan langsung diberikan peringatan tegas,” katanya. (SK)

No comments