Breaking News

Ketika Warga Rela Tidur Empat Pekan di Sawah Demi Mandi di Air Panas Maronge

Jubelan Warga Berdesak-Desakan Demi Mandi Air Panas. Foto Samawarea.com


Banyak cara yang dilakukan orang untuk sembuh dari penyakit. Biaya banyak dan jarak yang cukup jauh pun akan tempuh demi memperoleh kesembuhan. Bahkan pengobatan yang di luar nalar medis. Itu juga yang dilakukan ratusan hingga ribuan orang yang mengunjungi air panas di Kecamatan Maronge Kabupaten Sumbawa.

Tiga bulan terakhir nama air panas Maronge booming di tengah masyarakat Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok termasuk Bima dan Dompu. Maka tak heran banyak orang Bima dan Dompu yang rela menempuh jarak yang jauh demi sembuh dari penyakit.

Untuk mencapai air panas dari Bima, maka warga harus menempuh perjalanan darat lebih kurang 178 kilometer. Bisa menggunakan sepeda motor, mobil maupun kendaraan umum. Karena membludaknya pengunjung di air panas Maronge, sebagian banyak warga memilih untuk tiba malam hari di air panas Maronge.

Guna melihat dari dekat fenomena tersebut, kru Berita11.com menyempatkan berkunjung di wilayah yang berada di tengah Pulau Sumbawa itu. Setelah star pukul 17.00 Wita dari Kota Bima, kami menyempatkan sholat di mushala SPBU Kota Dompu dan menikmati pemandangan malam di kota mungil ini. Namun itu tak lama, beberapa menit kemudian kami beranjak dari Kota Nggahi Rawi Pahu itu.

Malam itu, laju mobil sengaja kami kurangi untuk menyesuaikan waktu tiba di mata air Maronge. Beberapa tembang dangdut  dan pop lawas cukup menghibur, walaupun terkadang mengundang kantuk. Beberapa kilometer setelah melewati tanjakan Nanga Tumpu, laju mobil sengaja kami hentikan untuk menikmati seduhan kopi panas dari teko yang sengaja dibawa khusus. Sambaran cahaya kendaraan yang hilir mudik malam itu menambah suasana indah. Di pinggir jalan, pohon-pohon menjulang diselumuti kabut pekat menyembul menjadi temaram, penyimbang larik-larik cahaya dari jauh.

15 menit kemudian, laju mobil kami pacu. Dari dalam kaca mobil, semak-semak hitam di bagian kiri-kanan jalan menjadi dinding-dinding yang setia menemani. Butuh tiga jam untuk sampai di Kecamatan Plampang dengan laju kendaraan 40-60 kilometer per jam. Setelah beberapa kilometer, kami tiba di Maronge pukul 23.00 Wita. Namun kami belum mengetahui lokasi pasti menuju air panas Maronge. Dari jauh, beberapa pemuda tampak berdiri di pinggir ruas jalan. Di bagian kiri tertulis air panas Maronge.

Sejumlah pemuda yang bertugas sebagai penunjuk jalan malam itu menginformasikan jika lokasi air panas sudah dekat. Hanya saja perlu berbelok masuk ke jalan arah persawahan. Praktis malam itu kami harus menempuh jalan bergelombang.

Setelah masuk beberapa ratus meter dari arah jalan negara, kami sempat ragu untuk melanjutkan perjalanan. Karena jauh dari gambaran yang disampaikan pengunjung yang bercerita kepada kami. Jalan selebar dua meter malam itu cukup angker. Namun kesempatan untuk berbalik arah tidak ada karena ruas jalan dua meter menuntut kami untuk meneruskan perjalanan. Jalan yang bergelombang terpaksa memaksa kami untuk menghidupkan ulang mesin kendaraan. Memang butuh kehati-hatian dan kegesitan dalam memacu kendaraan. Jika tidak mobil yang dikendarai bisa saja terbalik karena medan yang bergelombang.

Kekuatiran akan begal dan salah jalur, buyar setelah kami melihat penunjuk jalan jika lokasi air panas tinggal 500 meter. Dari jauh, kami melihat cahaya beberapa kendaraan, sehingga menambah keyakinan untuk sampai di lokasi air panas. Beberapa menit kemudian kami melihat deretan mobil dan sepeda motor yang diparkir rapi di tengah sawah. Dua orang petugas parkir mencoba mendekati kami dan menyarankan untuk merapikan parkir mobil. Namun tak lama, petugas parkir itu menyarankan agar memindahkan mobil di lokasi yang lebih dekat dengan lokasi air panas.

Setelah tiba di tempat parkir, kami melihat deretan mobil pick, berbagai jenis kendaraan pribaadi dan sepeda motor tampak terpakir rapi. Di belakang mobil, beberapa orang tidur beralaskan kardus. Ada juga yang membawa tikar dan beralaskan sarung. Sebagian memilih tidur di dalam mobil.

Udara di sekitar air panas Maronge malam hari cukup dingin. Beberapa warga yang berkunjung banyak yang mendirikan tenda, mirip masyarakat yang mengungsi. Rupanya mereka terbagi dalam beberapa blok atau petak sawah.  Sebagian mendirikan tenda hanya beberapa meter sumber air panas. Malam itu kami mendapatkan saran dari petugas parkir agar mandi di sumber mata air panas paling cepat pukul 02.00 Wita atau pukul 04.00 Wita.

Sebelum mandi, kami mencoba mengobrol dengan beberapa warga yang mendirikan tenda dan tidur beralaskan alang-alang di tengah sawah yang baru selesai digarap itu. Dari bahasa yang digunakan, kami mengetahui bahwa sebagaian banyak yang berkunjung malam itu merupakan warga Bima dan Dompu, sebagian berbahasa Sasak. Di lokasi tempat warga menginap tersedia lapak kecil yang menjual telur matang, mie seduh, kopi dan air botol. Tapi jangan membayangkan makanan dan minuman yang dijual seperti harga minimarket atau supermarket. Untuk membeli air minum ukuran botol besar, pengunjung harus mengeluarkan uang Rp10 ribu dan Rp5 ribu per botol.

Malam itu, kami mencoba ikut berbaur dan tidur dengan alas seadanya. Namun karena bisingnya suara manusia yang mengantri untuk mandi malam itu, keinginan untuk bisa tidur buyar. Kami mencoba menghilangkan rasa dingin dengan menikmati Pop Mie panas dan kopi.

Hadijah, warga Jatibaru Kota Bima yang mengantri mandi malam itu menceritakan jika dia datang ke air panas Maronge bersama sembilan orang menumpang mobil pick up. Hampir semua warga yang sakit di Kelurahan Jatibaru sudah pernah berkunjung dan mandi di air panas Maronge.  “Apapun kan akan kita lakukan demi sembuh. Yang tidur di sini ada yang sudah beberapa hari dan ada juga yang sudah tiga sampai empat pekan,” kata Hadijah.

Menurut Hadijah, ada beberapu  pantangan yang tidak boleh dilakukan pengunjung air panas Maronge. Yaitu kencing di lokasi air panas, tidak meyakini usaha yang dilakukan untuk sembuh dan tidak menjelekkan khasiat air panas.

“Sebelum mandi, pengunjung juga harus membawa gayung. Karena saat mandi itu akan berebutan,” katanya.

Sebelumnya, cerita pantangan yang tidak boleh dilkukan di lokasi air panas tersebut juga sudah diceritakan orangtua dari seorang teman di Rabadompu Kota Bima. Beberapa pengunjung merasakan penyakit yang mereka derita bertambah lantaran mengolok khasiat air panas Maronge. Entah takhayul atau benar, namun sebagian besar warga yang berkunjung memercayai pantangan itu. Cerita dari mulut ke mulut yang dipercayai pengunjung, mandi di air panas Maronge ketika malam Jumat terutama pukul 02.00 Wita paling afdol untuk menyebuhkan penyakit. Untuk penyakit berat, harus mandi setiap malam Jumat, minimal tiga.

“Kalau yang mendirikan tenda itu ada warga yang sudah beberapa minggu, menunggu malam Jumat berikutnya untuk mandi lagi. Orang yang percaya khasiatnya sudah banyak yang sembuh,” ujar Hadijah.

Lokasi pusat air panas dengan tempat pengunjung menginap sekitar 100 meter. Malam itu, menjelang pukul 01.00 Wita, hampir setiap menit,  pengunjug hilir mudik ke pusat air panas. Beberapa diantaranya ada yang menenteng botol dan jerigen yang berisi air panas Maronge.

Setelah mencoba mengantri beberapa puluh menit, pukul 01.00 Wita, kami mencoba menuju pusat air panas. Di kiri-kanan jalan setapak itu tampak sejumlah tenda yang dibangun. Dari jauh, sebuah genset kecil tampak disimpan membantu penerangan malam itu. Sebelum tiba di pusat pemandian air panas, pengunjung akan disuguhkan kotak amal. Tapi tidak ada pemaksaan untuk menyumbang.  Riuh suara pengunjung yang berebutan mendapatkan air panas terdengar beberapa meter dari jauh.

Bayangan kami warga yang mengantri mandi di pusat air panas hanya segelintir orang, buyar setelah melihat tiga pusat air panas dipadati pengunjung. Beberapa kakek dan nenek renta tampak mengantri mendapatkan air panas. Sebagiannya berusia muda, kira-kira umur pelajar SMP dan SMA. Diantara jubelan warga yang berdesak-desakan malam itu, seorang bayi sekitar dua tahun tampak digendong ibunya mengantri untuk memperoleh air panas. Awalnya kami mencoba mengantri di pinggir aliran air hangat yang menyebur. Namun karena pengunjung tak kunjung berkurang, maka kami pun mencoba merapat dan berdesak-desakan dengan pengunjung lain untuk mendapatkan air panas.

Terkadang air panas yang diperoleh pengunjung bercampur pasir halus. Namun mereka tetap bersemangat untuk berdesak-desakan untuk memasukan air panas dalam gayung dan menyiramnya ke sekujur tubuh. Dari puluhan orang yang berdesak-desakan, hanya sekitar lima orang yang dapat duduk berendam mengelilingi sumber air panas. Sedangkan puluhan lain harus berdesak-desakan memasukan menyodorkan gayung bahkan di antaranya selakangan pengunjung lain.  Malam itu beberapa pejabat Dinas Dikpora Kabupaten Bima juga tampak ikut mengantri.

Setelah puas mandi, berdesak-desakan diantara pengunjung. Kami kembali ke tempat parkir mobil dan memutuskan sejenak beristrahat. Tak lama setelah itu, sekira pukul 03.00 Wita, kami mencoba kembali ke pusat air panas. Tetapi suasananya warga yang mengantri bukan berkurang tetapi semakin banyak. Namun setelah berdesak-desakan, kami sempat merasakan dapat berendam di pusat air panas. walaupun harus rela didorong-dorong oleh pengunjung lain.

Puas mandi di air panas. Kami istrahat sekitar satu jam,setelah itu sekitar pukul 04.30 Wita kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Sumbawa Besar. Pilihan itu, sengaja kami ambil untuk menghindari kemacetan saat keluar dari jalan sempit sebelum air panas Maronge. Setelah merapikan barang, kami bergegas meninggalkan lokasi air panas Maronge setelah membayar biaya parkir Rp20 ribu.

Selama menempuh jalan di tengah sawah, tidak pernah sekalipun kami berpapasan dengan mobil lain. Rupanya sejumlah pemuda sebagai penunjuk arah di persimpangan menuju air panas, selalu berkoordinasi melalui Ponsel dengan tukang parkir, sehingga lalulintas keluar-masuk kendaraan selalu teratur. Mereka selalu ramah menyapa dan menyambut pengunjung yang datang.

Entah siapa yang pertama kali meyakini khasiat air panas Maronge.Dari cerita beberapa warga, konon artis Julie Perez yang menderita kanker pernah berkunjung dan mandi di air panas Maronge. Mengenai khasiatnya, entah mitos atau benar adanya. Namun beberapa pengunjung mempecayai mandi di air panas Maronge adalah ihtiar untuk sembuh, sedangkan yang menentukan tetaplah Tuhan.

Terlepas dari mitos yang dipercayai masyarakat, berdasarkan data Distamben Kabupaten Sumbawa, berdasarkan hasil penyelidikan Geologi dan Geokimia yang sudah dilakukan, secara geografis panas bumi terdapat di dua daerah daratan Maronge yaitu di koordinat 117.13’.30”-121.37’30” dan 08.40’00”-8.27’.00”. suhu air panas di lokasi pertama dan kedua yaitu 42 dan 35 derajat selsius, dengan kadar keasaman (Ph) 7,81 dan 7.93. debit air 0,5 liter per detik dan 0,3 liter per detik dengan kedalaman reservoir.  Tipe air pada di dua lokasi tersebut bikarbonat.

Dalam kehidupan sehari-hari, Natrium Bikarbonat (NaHCO3) adalah senyawa kimia yang masuk dalam kelompok garam dan telah digunakan sejak lama. Senyawa tersebut juga disebut baking soda (soda kue), Sodium Bikarbonat, Natrium Hidrogen. Keduanya adlah komponen rumah tangga yang sangat penting.  

Bagaimana hubungannya dengan upaya penyembuhan penyakit?  Perlu penjelasan ilmiah secara mendetail.


Reporter: Fachrunnas



No comments