Breaking News

Sunarpi: Dermawan Memiliki Tugas Membangun Pendidikan

Rektor UNRAM, Prof. Sunarpi saat Menyampaikan Kuliah Umum di Kampus STKIP Taman Siswa.

Bima, Berita11.com— STKIP Taman Siswa Bima menyelenggarakan kuliah umum bersama Prof. H. Sunarpi, Ph.D,  Rektor Universitas Mataram, di auditorium Sudirman, kampus STKIP Taman Siswa, Kamis (24/11/2016). Pada pemaparannya, Sunarpi mengingatkan bahwa dermawan memiliki tugas membangun pendidikan.

Sunarpi, mengatakan,  untuk menggapai kemajuan dibutuhkan SDM yang mumpuni, sedangkan untuk mewujudkan SDM yang mumpuni harus melalui pendidikan yang berkualitas. Pada negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, Korea, membangun pendidikan tidak semata tugas negara tetapi juga dibangun oleh para dermawan yang kaya.

Sejarah lahirnya Harvard University, Oxford University, dan Mancester University adalah sederet contoh universitas yang dibangun oleh mereka yang dermawan yang peduli terhadap pendidikan dan kemanusiaan.  Demikian juga dengan cikal bakal Korea University, juga diprakarsai oleh para dermawan Korea yang peduli terhadap pendidikan dan kemanusiaan.

Menurutnya, bangsa Indonesia mesti mengambil pelajaran dari apa yang dilakukan oleh negara-negara maju itu. Dalam sejarah kehidupan bangsa yang maju, rata-rata dibutuhkan 22-23 tahun untuk membangun sebuah peradaban.

Kemajuan yang dialami oleh Madinatul Munawarah di bawah pimpinan Nabi Muhammad SAW berlangsung sekitar 22 tahun, 22 bulan, dan 22 hari. Kemajuan yang dialami oleh bangsa Jepang pasca Nagasaki dan Hiroshima dibombardir, juga berlangsung lebih kurang 23 tahun.

“Artinya, bahwa jika sebuah bangsa serius untuk menggapai sebuah kemajuan maka waktu 22-23 tahun itu adalah waktu yang cukup,” katanya

Dalam perpektif Prof. Sunarpi, bangsa Indonesia terlalu lama hidup santai atau tertidur. 71 tahun pasca kemerdekaan belum dapat membawa kemajuan dan perubahan yang signifikan. Padahal jika bercermin  dari Bangsa Jepang, mestinya Indonesia harus membangun pendidikan dan menghargai guru terlebih dahulu sebelum kita membangun aspek yang lain.

Karena hanya bangsa yang menghargai guru dan mengutamakan pendidikanlah yang dapat menggapai kemajuan. Cara bangsa Indonesia menghargai guru dan dosen adalah harus lebih utama dari profesi apapun juga.

Menurut dia, mestinya tingkat kesejahteraan guru dan dosen harus di atas kesejahteraan profesi lain. Karena  guru dan dosen bukanlah sembarang profesi, tetapi merupakan orang-orang pilihan yang memenuhi standar profesional.

“Inilah yang dilakukan oleh banyak negara yang maju, seperti Amerika, Australia, Inggris, Jepang, Korea, Singapura, Malaysia dan lain-lain,” katanya.

Di negara maju, pendidikan begitu diutamakan. Hal itu dilihat dari anggaran pendidikan yang merupakan tertinggi dari anggaran sektor yang lain. Perpustakan dibangun dengan megah, nyaman dan lengkap. Media pembelajaran begitu lengkap dan canggih, gedung sekolah dan ruang kelas begitu begitu kondusif dan nyaman, penataan sekolah, guru dan siswa begitu seimbang tanpa ada kekurangan dan kelebihan yang mencolok antararuang kelas, guru dan siswa. Semuanya berdasarkan standar mutu yang terukur.

Guru besar Pertanian ini mengisyaratkan tentang mimpinya ke depan. Menurutnya, siapa saja tak boleh berhenti  bermimpi. Sebagai seorang muslim harus terus berbuat yang terbaik untuk sesama dan terus meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Diungkapkannya, bahwa secara pribadi sudah memiliki segalanya dan bahkan sudah selesai dengan tugas. Ia mengaku, yang dipikirkan sekarang bagaimana ilmunya, materinya dan tenaganya semaksimal mungkin digunakan untuk kemaslahatan sesama.

“Karena orang yang paling baik di mata Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain,” ujar Sunarpi.

Sunarpi mengingatkan, setiap umat muslim patut bersyukur memiliki Al Qur’an dan As Sunnah sebagai pedoman hidup di tengah kondisi krisis dan gejolak globalisasi yang mengancam eksistensi etnis, budaya, dan agama.

Al Qur’an mengajarkan bahwa manusia yang mulia di sisi Tuhan adalah manusia yang beriman dan bertaqwa. Dengan bertaqwa manusia akan diberkahi jalan keluar setiap masalah yang dihadapinya dan akan dianugerahi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Dalam As- Sunnah, Nabi Muhammad SAW bersabda, seseorang tidak dikatakan beriman hingga seseorang mencintai sesama. Seseorang juga tidak dikatakan muslim jika hidup dalam kekenyangan di tengah orang lain dalam kelaparan. (US)

No comments