Breaking News

Kiprah Dae Sadar, Tokoh Masyarakat Sumbawa Asal Bima

Advisory Council Berita11.com, Sadaruddin, B.Sc


Nasib seseorang terkadang sulit diramal. Itu juga tergambar dari kiprah Sadaruddin, B.Sc tokoh masyarakat Sumbawa asal Bima ini. Awalnya pria lulusan Akademi Farming Semarang tahun 1981 ini memulai karir sebagai PNS di Ditjend Perkebunan Departemen Pertanian RI tahun 1982 hingga 1991.

Pada tahun 1991, pria kelahiran Bima 18 Agustus 1958 ini hijrah menjadi pegawai Pemkab Sumbawa. Setelah beberapa tahun menjadi PNS di Sumbawa, tahun 2007 Sadaruddin diberikan kepercayaan menjabat sebagai Kasubid Perlindungan dan Pengamanan di Dinas Kehutanan Kabupaten Sumbawa. Tiga tahun setelah itu diangkat sebagai Kepala Bidang.

Tidak berhenti di situ. Pada tahun 2011 diangkat sebagai Kabid Konstruksi dan Rehabilitasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumbawa. Setahun kemudian Dae Dar pensiun dengan pangkat dan golongan IV/b di BPBD Kabupaten Sumbawa.

Selama menjadi PNS, Sadaruddin meraih sejumlah prestasi, diantaranya tanda kehormatan Saptalancana Karya Setya XX Tahun dari Presiden DR. H Susilo Bambang Yudhono tahun 2010 lalu.  Kini setelah pensiun sebagai PNS, Sadaruddin aktif pada sejumlah organisasi masyarakat. aatas kiprahnya itu juga ia dipercaya sebagai Majelis Pertimbangan Pemuda Pancasila Kabupaten Sumbawa.

Sadaruddin tak setuju jika pada suatu daerah warga dari luar daerah harus membentuk komunitas atau paguyuban. Karena akan melahirkan perbedaan di dalam masyarakat. padahal semestinya waga pendatang harus berbaur dengan penduduk asli. Hal itu penting untuk menghilang perbedaan.

“Saya lebih setuju jika berbau dalam satu komunitas. Nggak usah ada lagi paguyuban sebagai warga pendatang. Itu justru akan memecah belah kita dengan penduduk asli. Padahal setelah tinggal di sebuah daerah, tentu akan menjadi warga baru di daerah tersebut,” ujar pria yang juga Advisory Council Berita11.com ini.

Menurut dia, perbedaan suku bisa menjadi sebuah kebudayaan yang tak mesti menjadi alasan untuk memetakkan kelompok dalam sebuah daerah. “Kita tentu tetap menghormati dan menghargai  budaya daerah asal kita. Tapi tanpa harus menonjolkan adanya peguyuban. Misalnya mpa’a Gantao kalau di Sumbawa ya namanya mpa’a Gantao Sumbawa,” ujar adik kadung Drs Abdul Hafid, mantan Sekretaris DPRD Kota Bima ini.

Dalam perspektif Sadaruddin, masyarakat Sumbawa adalah masyarakat yang harmonis selalu bisa menjaga perbedaan dan toleran. Hal itu yang  terus ia bangun bersama Pemuda Pancasila Kabupaten Sumbawa.

Dia juga tidak setuju, jika di Bima harus terbangun sejumlah paguyubang, warga dari daerah lauar. Karena bisa saja akan menimbulkan jarak dengan penduduk asli. (SK)

No comments