Breaking News

Lima Menit Sebelum Menjadi Tangis

Sejumlah Mobil yang Terseret Banjir di Belakang Kompleks Sultan Square Kota Bima


Kota Bima, Berita11.com— Banjir bandang Bima yang mulai terjadi sejak Rabu (21/12/2016) siang meninggalkan sejumlah kisah pilu bagi sejumlah warga. Tak terkecuali Abdurrazak Muhammad warga Kabupaten Bima yang berupaya mengevakuasi sejumlah anaknya yang tinggal di Kota Bima.

Kakek lima cucu ini berangkat dari Desa Bajo Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima sekira pukul 14.30 Wita bersama dua anaknya yang sebagian tinggal di Desa Bajo. Hujan deras tidak dia pedulikan karena yang terpenting menolong anak-anaknya yang terisolir karena banjir bandang. Namun naas ketika tiba jalan kembar di Amahami Kota Bima, luapan banjir tergenang, tetapi Abdurrazak tetap melanjutkan perjalanan menggunakan mobil.

Beban pikirannya terutama kondisi keselamatan putrinya yang bekerja di unit Pegadaian Kelurahan Kumbe Kecamatan Rasanae Timur Kota Bima. Karena wilayah Timur Kota Bima merupakan salah satu daerah terparah yang terkena dampak banjir bandang.

“Hanya yang terpikir bagaimana menyelamatkan anak-anak. Makanya saya jalan terus,” katanya sehari pasca banjir hari pertama.

Ketika tiba di sekitar terimanal Dara Kota Bima, sekira pukul 14.00 Wita sejumlah kendaraan menumpuk dan terjebak macet, termasuk mobil yang dikendarai Abdurrazak,  hingga akhirnya ia berinisiatif memarkir komplek pertokoan Sultan Square sebelah barang bank Mandiri Syariah.

Ketika itu air bah sudah masuk mobil dan mencapai jok kendaraan. Namun Abdurrazak tetap berupaya memarkir kendaraanya di tempat yang dianggap aman. Beberapa menit kemudian dia dan dua putranya keluar dari mobil. Beberapa warga yang semula beraktivitas di komplek pertokoan Sultan Square tampak panik. Tetapi Abdurrazak dan anaknya masih bertahan di sekitar mobil. Tak berselang sampai lima menit arus air bah semakin deras. Bapak lima anak ini nyaris terseret banjir, namun beruntung  anggota Brimob yang kebetulan bertugas menjaga bank Mandiri Syariah Bima segera menolong.

Abdurrazak dan dua anaknya bersama warga lain dievakuasi ke lantai dua Salon Liontin yang berada di kompleks Sultan Square. Tak berselang  sekira pukul 14.53 Wita, tembok pembatas di kompleks tersebut ambruk diterjang banjir.  Sejumlah mobil termasuk milik Abdurrazak, bus dan puluhan sepeda motor milik karyawan bank, dealer Krida dan karyawan salon terbawa arus deras. Beberapa kaca toko di komplek tersebut juga pecah setelah dilabrak banjir. Beberapa menit setelah itu karyawan salon Liontin histeris ketika mendengar suara gemuruh sejumlah tembok yang ambruk dan kaca yang pecah.

Abdurrazak yang semula tegar juga tak kuasa menahan tangis ketika mengingat nyaris meregang nyawa hanyut terbawa arus banjir bandang bersama dua putranya yang ikut bersama dia. Setelah magrib, pukul 19.00 Wita, dia mencoba  menghubungi  sejumlah anak dan istrinya. Namun sinyal telepon selular tertanggu. Listrik di Kota Bima padam sejak pukul 15.30 Wita.  Dia kemudian berinisiatif mengirim SMS karena panggilan keluar tidak terjangkau. Namun dari beberapakali SMS. Hanya di nomor anaknya yang menginap di Tonggorisa yang terkirim.

Pukul 23.00 Wita, putra ketiganya menemuinya di terminal. Ketika itu kondisi banjir sudah mulai surut. Setelah itu ia tak kuasa menahan tangis dan memeluk putra itu.  Abdurrazak belum bisa bernapas lega meskipu sudah selamat dari maut ketika banjir bandang menerjang karena belum memperoleh informasi keberadaan putri bungsunya yang bekerja sebagai karyawan Pegadaian di Unit Kumbe.

Setelah arus banjir semakin surut, pukul 03.00 Wita, Abdurrazak dan seorang putranya berinisiatif kembali ke Bajo Kecamatan Soromandi, menggunakan sepeda motor yang dibawa oleh putranya yang menginap di Desa Tonggorisa Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima. Mobil baru yang terseret banjir sudah ia ikhlaskan.  Ketika itu yang dia ingat, di rumah ia meninggalkan istri dan cucu ke empatnya, maka mau tak mau dia harus bergegas menerobos gelas dan hujan kembali deras ketika subuh.

Ketika tiba di rumahnya di Desa Bajo, Abdurrazak langsung memeluk istrinya menceritakan musibah yang menimpanya. Tak lama tangis istrinya menyambutnya.  Mereka bersyukur meskipun harta direnggut oleh banjir bandang, namun masih bisa lolos dari maut. Beberapa saat kemudian dia terperangah ternyata putri bungsunnya sudah berada di rumah.
Rupanya pukul 17.30 Wita putri bungsunya berhasil lolos dari terjangan banjir setelah dibantu dievakuasi oleh satpam Pegadaian Kumbe melalui jalur alternatif di dekat gunung  Kumbe melewati Kelurahan Panggi, Sambinae tembus SPBU Amahami kemudian berbelok melewati jalan di depan pasar raya Amahami hingga akhirnya sampai di Pelabuhan Bima dan menyebrang menggunakan bot menuju Desa Bajo Kecamatan Soromandi.

“Saya bersyukur masih bisa selamat. Masih banyak saudara-saudara kami yang lain kondisinya lebih parah,” ujar pria yang juga Sekretaris Korwas Kabupaten Bima ini. (US)

No comments