Breaking News

Jangan Korbankan Cagar Budaya untuk Perusahaan Keruk!

Sesepuh Lembaga Adat Masyarakat Desa Hu'u Membahas Tanah Adat. Foto Ori Berita11.com



Dompu, Berita11.com— Sejumlah sesepuh masyarakat Desa Hu’u Kecamatan Hu’u Kabupaten Dompu yang tergabung dalam Lembaga Adat Masyarakat Desa Hu’u melaksanakan konsolidasi terkait rencana aktivitas perusahaan tambang PT STM (Vale Eksplorasi Indonesia).

Para sesepuh masyarakat Desa Hu’u menginginkan agar Cagar Budaya yang masuk dalam wilayah ijin pengelolaan hutan yang dikantungi PT Vale Eksplorasi Indonesia, tidak dikorbankan untuk eksploitasi perusahaan tambang.

Menurut Ketua Lembaga Adat Masyarakat Desa Hu’u Kabupaten Dompu, MS. Zakaria, 6.800 hektar dari total luas lahan 19.000 hektar yang tercakup dalam ijin pengelolaan hutan yang dikantungi perusahaan tambang itu merupakan milik Lembaga Adat Masyarakat Hu’u.

Dalam kawasan itu terdapat beberapa  peninggalan nenek moyang masyarakat Desa Hu’u seperti Cagar Budaya Hu’u. Itu diperkuat fosil di atas lahan itu. Pada prinsipnya, Lembaga Adat Masyarakat Desa Hu’u tidak menolak penggunaan lahan itu untuk kegiatan tambang. Hanya saja Cagar Budaya tidak boleh dirusak dan harus ada kompensasi atas peminjaman lahan yang digunakan perusahaan tambang.

Untuk menyamakan persepsi tentang lahan Lembaga Adat Masyarakat Desa Hu’u, para sesepuh masyarakat Desa Hu’u mengadakan pertemuan untuk membahas solusi dan kompensasi penggunaan lahan. Hasil itu kemudian akan dibahas bersama dengan perusahaan tambang yang akan mengekspoitasi sumber daya mineral di bumi Kecamatan Hu’u.

Menurut Zakaria, sudah sepatutnya perusahaan tambang yang akan mengeksploitasi kekayaan di Kecamatan Hu’u bersinergi dengan sesepuh, terutama  Lembaga Adat Masyarakat yang merupakan salah satu pemilik lahan. Secara histori, Lembaga Adat juga ikut memuluskan terbitnya ijin pengelolaan hutan dengan ikut menandatangani rekomendasi ijin itu.

Dikatakannya, kompensasi merupakan hal yang wajar harus diterima masyarakat terutama Lembaga Adat Masyarakat. Apalagi dalam waktu tak lama lagi perusahaan keruk itu akan mulai beroperasi. Pada sisi lain akan banyak dampak yang akan dirasakan masyarakat sekitar lingkar tambang ketika kegiatan operasi dan pasca proyek. Misalnya saja dampak terhadap lahan pertanian, kebutuhan air bersih, ancaman pencemaran laut. Apalagi 90 persen masyarakat Hu’u merupakan nelayan.

Sebelumnya, kegiatan konsolidasi sesepuh masyarakat Kecamatan Hu’u, Lembaga Adat Masyarakat Desa Hu’u, Kamis (19/1/2017) lalu, juga dihadiri pengurus Asosiasi Pengusaha Lingkar Tambang Hu’u Kabupaten Dompu. (SK)

No comments