Breaking News

Analisis Kausalitas Banjir Bandang di Kota Bima

Kondisi Kota Bima Pasca Banjir Bandang Desember 2016 lalu. 



(Damhuji, M.Pd., M.A)


Banjir bandang merupakan kategori banjir yang memiliki dampak terparah bila dibandingkan dengan jenis ‘banjir air biasa’, banjir rob, dan jenis banjir lainnya. Banjir bandang atau disebut air bah adalah banjir besar yang datang secara tiba-tiba dengan meluap, menggenangi, dan mengalir deras disertai lumpur yang sangat banyak menghancurkan pemukiman masyarakat dan menghanyutkan berbagai macam benda atau materi yang dimiliki masyarakat. Banjir yang melanda Kota Bima pada tanggal 21 dan 23 Desember 2016 lalu merupakan banjir bandang yang terbesar sepanjang sejarah Kota Bima dengan ketinggian volume air hingga tiga meter di atas permukaan tanah. 

Dalam peristiwa apapun, apakah peristiwa sejarah, politik, konflik sosial dan termasuk peristiwa bencana alam seperti banjir bandang di Kota Bima tentu memiliki faktor penyebab dan akibat terjadinya peristiwa atau yang disebut kausalitas peristiwa. Analisis kausalitas peristiwa merupakan hal substansif dalam memahami atau mengurai sebuah fenomena yang terjadi secara ilmiah. Dengan kata lain, bahwa pertanyaan kausalitas merupakan pertanyaan kunci yang mesti dijawab apabila kita ingin memahami secara komprehensif terhadap sebuah peristiwa. Oleh karena itu, dalam hal ini penulis ingin memaparkan faktor penyebab dan akibar banjir badang yang melanda Kota Bima beberapa waktu yang lalu.

FAKTOR PENYEBAB

Untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya banjir bandang di Kota Bima, minimal dapat dilihat dari dua sudut pandang yaitu saintik dan agama. Dalam menjelaskan penyebab banjir bandang dari sudut pandang Saintik penulis mengambil data dari berbagai sumber, seperti media cetak, media online, pernyataan resmi dari instansi terkait melalui media televisi, referensi dan hasil diskusi dari berbagai kalangan yang konsern terhadap peristiwa banjir bandang di Kota Bima. Berdasarkan penjelasan dari Kepala Humas dan pusat data informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho bahwa faktor penyebab terjadinya banjir bandang di Kota Bima adalah dipicu oleh keberadaan Siklon Tropis Yvette yang berada di Samudra Hindia selatan pulau Bali dengan jarak 620 Kilometer. Siklon Tropis Yvette adalah sebuah sistem tekanan udara rendah yang terbentuk secara umum di daerah tropis berupa badai tropis atau angin ribut yang mengandung Awan cumulonimbus yang dapat menyebabkan kehancuran, hujan lebat atau ekstrem dan banjir bandang.

Lebih lanjut Kepala BNPB menjelaskan bahwa selain faktor Siklon Tropis Yvette, terdapat beberapa faktor lain sebagai penyebabnya, seperti Topografi Kota Bima yang cekungan, Penggundulan hutan, penyempitan sungai karena pemukiman liar, sistem drainase yang buruk, belum adanya sumur resapan, pengalihan fungsi lahan seperti reklamasi dan buruknya sistem rencana tata ruang wilayah Kota Bima. Hal senada juga dijelaskan oleh Gubernur NTB Muhammad Zainul Madji atau yang dikenal tuan guru Bajang, bahwa salah satu faktor penyebab terjadinya banjir bandang di Kota Bima adalah karena deforestasi atau penggundulan hutan yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Deforestasi tidak hanya menyebabkan terjadinya banjir tapi juga menyebabkan erosi percik yang mengurangi jumlah sedimen yang terbawa ke bagian hilir berupa lumpur yang tebal.

Berdasarkan Hasil pengamatan di Kota Bima pasca banjir bandang bahwa terdapat beberapa sungai yang semakin sempit dari aslinya yang diakibatkan oleh berkembangnya ‘pemukiman liar’ seperti di Penaraga, Mande, Salama, Bedi, Manggemaci, Paruga, Dara, Ranggo, Kampung Bara, Sarae, Melayu, dan Tanjung. Penyempitan sungai ini mengakibatkan meluap banjir keseluruh pemukiman atau perkampungan di sekitarnya. Di sisi lain, penulis juga mengamati di sepanjanng pesisir pantai teluk Bima, bahwa telah terjadi peralihan fungsi lahan secara besar-besaran seperti reklamasi dan munculnya pemukiman baru di wilayah pantai. Reklamasi ini mengakibatkan semakin meningkatnya permukaan air laut yang berimbas pada sejajar permukaan tanah dengan permukaan air laut yang tentu saja meluapnya banjir di wilayah pesisir.

Dari sudut pandang agama, bahwa penyebab terjadi bencana termasuk banjir bandang tidaknya hanya disebabkan oleh faktor alam semata, tetapi ada kaitannya dengan dosa atau perbuatan maksiat yang dilakukan oleh manusia, seperti korupsi, narkoba, pembunuhan, merusak hutan, judi, mencuri, zina, pembangkang zakar, kikir, serakah, fitnah, kolusi, nepotisme, pungli, menyalahi prosedur, dll. Allah berfirman dalam surat As-Syuara ayat 30 menjelaskan bahwa “apa saja musibah atau bencana yang menimpa manusia disebabkan oleh perbuatan tangan manusia sendiri. Penjelasan tentang ‘Tangan’ di sini adalah segala perbuatan dosa yang dilakukan oleh manusia melalui seluruh panca indranya. Peliharalah dirimu dari siksaan atau bencana yang tidak hanya khusus menimpa orang zalim saja di antara kamu (QS. Al Anfal: 25). Penjelasannya bahwa membiarkan kedholiman akan mendatangkan bencana yang dapat menimpa semua penduduk baik yang dholim maupun yang baik.

DAMPAK BANJIR BANDANG

Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh lembaga terkait (Pemkot dan BNPB), bahwa banjir bandang di Kota Bima pada tanggal 21 dan 23 Desember 2017 merupakan banjir terbesar yang pernah melanda Kota Bima dengan ketinggian air hingga tiga meter. Berdasarkan data yang dihimpun oleh penulis dari berbagai sumber bahwa dampak banjir bandang yang terjadi di Kota Bima menghantam 5 kecamatan (RasanaE Timur, Raba, RasanaE Barat, Mpunda, dan Asa Kota) dengan rinciann 33 Kelurahan (105.753 jiwa), 593 rumah rusak berat, 2400 rusak sedang, 16.226 rusak ringan, belasan rumah hanyut, ribuan rumah terendam, 10.000 jiwa mengungsi yang tersebar di 30 titik, dan kerugian materi satu triliun lebih.

Akibat lain dari banjir bandang Kota Bima adalah melumpuhkan atau merusakan fasilitas pelayanan publik dan pusat aktivitas ekonomi masyarakat, seperti sekolah, kantor, rumah sakit, terminal bus, transportasi publik, pasar, pertokoan, dan bahkan melumpuhkan kegiatan domestik rumah tangga. Selama masa tanggap darurat, masyarakat benar-benar pasif, trauma, tak berdaya, dan hanya menunggu bantuan dari berbagai kalangan baik pemerintah maupun swasta. Pemerintah mengeluarkan pengumuman tanggap darurat dari tanggal 21 Desember 2016 hingga tanggal 19 Januari 2017. Durasi tanggap darurat yang hampir satu bulan membuktikan bahwa betapa dasyat banjir bandang yang meluluhlantahkan Kota Bima. Besarnya dampak yang ditimbulkan, mengetuk pintu semua pihak dari berbagai daerah di Indonesia hingga manca negara. Bantuan mengalir begitu luar biasa. Bantuan yang berupa uang sekitar puluhan milyar. Sementara bantuan yang berupa barang, pakaian, obat-obatan dan lain-lain diperkirakan hingga ratusan milyar.

Peristiwa banjir bandang telah terjadi satu bulan setengah yang lalu, tetapi dampaknya masih terasa hingga hari ini dan bahkan masih terasa hingga beberapa bulan ke depan. Misalnya, teman-teman kita yang mobilnya terendam pada saat banjir, hingga hari ini masih banyak yang belum keluar bengkel alias belum bisa dikendarai. Kondisi jalan raya rusak parah, masih digenangi air dan becek pada beberapa titik. Debu beterbangan mengganggu pemandangan dan pernapasan di hampir semua ruas jalan di Kota Bima. Sampah dan lumpur belum sama sekali dapat dibersihkan sehingga terlihat sangat kumuh dan kotor keadaan lingkungannya. Dengan melihat kondisi Kota Bima seperti itu, penulis mengatakan bahwa keadaan Kota Bima hari ini seperti keadaan Kota Bima pada 20-30 tahun silam. Artinya, bahwa Banjir Bandang mengakibatkan Kota Bima mengalami kemunduran yang luar biasa.

Hikmah yang dapat diambil dari peristiwa Banjir Bandang yang melanda Kota Bima adalah bahwa betapa dasyatnya dampak yang dirasakan oleh kita semua. Bencana Banjir sudah menjadi trauma tersendiri bagi sebagian besar masyarakat Kota Bima. Banjir telah menjadi momok yang amat menakutkan. Setiap hujan turun membuat masyarakat selalu waspada dan tak bisa hidup tenang apalagi kalau hujannya turun di waktu malam. Semoga kita sebagai masyarakat Kota Bima dapat menginstrospeksi diri untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama seperti merusak alam dan berbuat kedhaliman di atas muka bumi. Satu hal lagi yang menjadi pelajaran buat pemerintah dan masyarakat bahwa ke depan harus lebih siap menghadapi bencana apapun dengan memiliki sistem atau manajemen bencana dan tim penanganan bencana yang solid, transparan, akuntabel dan profesional (*)



Baca Juga :

No comments