Breaking News

Mengunjungi Nusa Lembongan, Desa Penghasil PAD Rp1 Miliar

Reporter Berita11.com, Abdul Hamid Berpose di Jalan Menuju Desa Lembongan.

Menyebut Bali, bayangan seseorang akan mengarah pada pantai indah, bersih nan eksotis. Jejeran turis yang lalu-lalang. Pantai Kuta, Pantai Sanur, Tanah Lot, kawasan Jimbaran sangat populer di telinga dan mata wisatawan domestik dan luar negeri. Namun masih sedikit yang mengetahui jika tanah Dewata memiliki “surga lain” yaitu pulai mungil, bersih dengan hiruk pikuk masyarakat yang masih kental dengan adat. Pulau itu, Nusa Lembongan yang terletak di Selat Badung tenggara Pulau Bali. Catatan Fachrunnas.

Laju bus hotel pagi itu lancar membelah Kota Sanur Bali membawa sekitar 25 jurnalis dari Jakarta, Bali dan Nusa Tenggara. Hilir mudik kendaraan menghiasi ruas kiri dan kanan jalan. Ada yang melaju kencang, ada yang melaju pelan sambil menikmati udara pagi. Ruas jalan di Denpasar dan beberapa kota sekitarnya memang tak lebih lebar dibandingkan Kota Mataram, Kota Jakarta atau Kupang. Tetapi yang menarik ruas jalannya bersih. Beberapa pengendara sepertinya sudah terbiasa tertib berkendaraan.

25 jurnalis nasional dan regional diundang khusus mengikuti workhsop isu lingkungan tentang konservasi kelautan ekoregional sunda kecil yang diselenggarakan The Society of Indonesian Enviromental Journalist (SIEJ) bekerjasama dengan The Nature Conservancy (TNC) yang didukung Federal Ministri for the Environment, Nature Conservation and Nuclear Safety Based on Decision of the Parliament of the Federal Republic of Germany. Pada hari ketiga panitia mengajak peserta untuk field trip ke Nusa Lembongan, melihat langsung kearifan lokal pengelolaan hutan mangrove di Nusa Lembongan yang berada di wilayah Kabupaten Klungkung.

Hanya butuh sekitar 10 menit untuk tiba dermaga Sanur dari hotel Mercure Sanur tempat peserta workshop menginap. Pagi itu cuaca sangat bersahabat membuat aktivitas di sekitar dermaga Sanur lancar. Beberapa toko, resto, distro, cafe dan spa menghiasi pemandangan sepanjang jalan menuju dermaga memberi isyarat siap memanjakan para pengunjung. Tak jauh dari lokasi itu, sebuah patung wanita setengah bugil di tengah ruas jalan seolah menyambut siapa saja yang menuju dermaga. Dari jauh belasan kapal cepat (fast boat) terparkir di tepi dermaga menyambut siapapun yang ingin menuju Nusa Lembongan, Nusa Penida atau Nusa Ceningan. Tak ada suara burung bersahutan di pantai ini, hanya ada lalu lalang bule, wisatawan domestik dan warga lokal.

Setelah menunggu beberapa menit, pagi itu fast bost yang disiapkan panitia melaju di atas Selat Badung membawa puluhan jurnalis menuju Nusa Lembongan. Debur ombak dan laju kapal cepat yang kami tumpangi seolah menari bersama diiringi musik khas Pulau Dewata. Hanya sesekali suara musik dari speaker di dalam kapal cepat itu terdengar, selebihnya lamat-lamat karena bersahutan dengan buih ombak yang menampar badan kapal. Dari cerita awak kapal cepat, untuk menunjungi Nusa Penida, pengunjung hanya perlu merogoh kocek Rp130 ribu-Rp175 ribu per orang untuk setiap trip pergi- pulang.

30 menit setelah membelah laut, fast boat yang kami tumpangi tiba di dermaga Jungut Batu Nusa Lembongan. Dari jauh, beberapa turis tampak sibuk hilir mudik menggunakan sepeda motor, sebagian asyik bermain banana boat dan bersiap-siap scuba diving. Tak jauh dari dermaga, tiga bemo tua khas angkutan desa telah menunggu untuk kami tumpangi. Di Nusa Penida hampir tak ada mobil pribadi atau kendaraan mewah terpakir di rumah warga maupun yang melintas. Rupanya jumlah kendaraan di pulau ini dibatasi. Yang ada umumnya sepeda motor dan sepeda yang disiapkan warga untuk wisatawan yang datang. Umumnya bule lebih suka keliling mengunakan sepeda motor atau sepeda. Untuk menggunakan fasilitas itu, wisatawan hanya perlu merogoh kocek Rp70 ribu per hari.

Setelah semua peserta naik, bemo tua itu membawa kami menuju lokasi wisata mangrove di Desa Jungut Batu. Selama perjalanan sekitar 20 menit, tembang lokal Bali kembali menghibur kami. Beberapa diantara teman membuka perbincangan. Ada yang takjub dengan keindahan nuasa alami di Nusa Lembongan. Saya satu bemo dengan Abdul Hamid, reporter Berita11.com. kebetulan dari NTB, hanya kami berdua yang mejadi peserta workshop. Jalur menuju hutan mangrove di Nusa Penida dari dermaga Jungut Batu merupakan jalur datar. Namun kondisi jalannya tidak semulus di Kota Denpasar. Tak lama setelah berbelok beberapa kali, kendaraan yang kami tumpangi sampai di lesehan yang tak jauh dari lokasi hutan mangrove. Jaraknya hanya beberapa meter, hanya perlu berjalan kaki.

Sebelum beranjak keliling objek wisata hutan mangrove di Jungut Batu, kami sempat mengobrol ringan dengan Gede Adnyana, anggota nelayan mangrove tour tentang pengelolaan objek wisata di Lembongan. Beberapa menit kemudian kami diajak keliling hutan mangrove menggunakan sampan. Setiap sampan hanya ditumpangi maksimal empat peserta workshop. Di pinggir dermaga mini, hamparan rumput laut yang sedang dijemur oleh petani merupakan pemandangan menarik bagi kami untuk mengetahui pengelolaannya. Selama tour di hutan mangrove, setiap guide yang juga pemandu sampan sangat setia menjawab setiap pertanyaan kami. Dari penjelasan guide itu, ternyata hutan mangrove di Lembongan sudah berumur puluhan tahun. Aktivitas tour wisata mangrove ini menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat Desa Jungut Batu.

Puas mengelilingi hutan mangrove, kami kembali ke lesehan yang tak jauh dari dermaga mangrove tour untuk  makan siang sambil mendengar penjelasan dari Dewan Pengawas Desa dan Pecalang Segara. Editor Tempo.co, mas Untung Widyanto menjadi pemandu saat kami berdiskusi dan mewawancarai dua tokoh dari Desa Jungut Batu siang itu. Kebetulan wartawan yang sudah sering mendapat penghargaan penulisan isu lingkungan itu juga merupakan salah satu pemateri saat workshop di dalam ruangan. Mas Untung juga merupakan salah satu reporter dari Indonesia yang khusus meliput Konferensi Perubahan Iklim (Conference of the Parties, COP).  Selain mas Untung, wartawan senior Aries Tides juga membagi pengalaman meliput isu lingkungan, termasuk konferensi internasional.

Gede Adnyana menjelaskan, awalnya tidak ada promosi khusus yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat tentang wisata hutan mangrove. Namun wisatawan yang pernah berkunjung secara tidak langsung mempromosikan dari mulut ke mulut. Hingga objek wisata mangrove di Nusa Lembongan dikenal luas, menarik minat wisatawan untuk berkunjung. “Kalau dulu kita hanya bisa tawarkan wisata lautnya, tapi sekarang ada tambahan wisata mangrove,” ujar Adnyana.

Untuk menjamin kelangsungan pesona wisata, masyarakat di Nusa Lembongan menerapkan aturan tak tertulis larangan merusak hutan mangrove. Meskipun tidak tertulis, namun aturan itu ditaati warga. Tidak ada warga yang berani merusak atau memotong mangrove. Seiring berjalannya waktu, sejak tahun 2000 lalu, warga dan pihak desa membuat peraturan tertulis hukum adat (awig-awig). Penerapannya tidak hanya sebatas sebagai kewenangan aparat desa maupun petugas pengamanan adat wilayah laut (pecalang segara). Namun juga diserahkan kepada Polisi Segara, Polisi Air, jika upaya pencegahan gagal dilakukan oleh nelayan.

“Jika ada seseorang merusak mangrove, maka kami langsung berupaya mencegah. Kalau tidak bisa dilaporkan ke desa,” ujar Adnyana.

Secara umum, luas hutan mangrove di Nusa Lembongan 230 hektar. Kelestarian hutan mangrove merupakan kebutuhan masyarakat. Karena ada sedikitnya 34 nelayan setempat yang menggantungkan hidup dari kegiatan mangrove tour. Mereka terbagi dalam beberapa kelompok.awalnya, pembentukan kelompok merupakan keinginan sejumlah wisatawan yang mengeksplorasi objek mangrove di Lembongan pada tahun 2000 lalu. Secara bergantian nelayan mengantar wisatawan keliling selama 30 menit. Dari satu kali trip anggota nelayan mendapat bayaran hingga Rp300 ribu. Jumlah wisatawan yang berkunjung menikmati mangrove tour dalam sehari pernah mencapai 150 orang sehingga membawa berkah untuk kelompok nelayan di Desa Jungut Batu.

Selain memberi dampak positif bagi perekonomian masyarakat desa, pelestarian hutan mangrove di Nusa Lembongan juga membawa dampak positif bagi lingkungan. Warga Lembongan tak lagi perlu kuatir ancaman abrasi. Bahkan masyarakat tak lagi mengalami kendala bercocok tanam lantaran tak ada lagi air pasang yang menggenangi hingga wilayah perkebunan. Dari kegiatan pengelolaan wisata mangrove dan berbagai kegiatan pendukungnya, Pendapatan Asli Desa (PAD) di Nusa Lembongan terbilang tinggi. Bahkan angkanya mencapai lebih dari Rp1 miliar per tahun.

Dewan Pengawas Desa Adat Nusa Lembongan, Wayan Suarbawa mengatakan, pihak desa setempat bersikap tegas terhadap upaya perusakan hutan mangrove. Bahkan aturan itu juga berlaku untuk korporasi. Selama ini, keberadaan awig-awig di Lembongan sangat efektif menjaga kelestarian lingkungan terutama hutan mangrove yang menjadi penopang hidup masyarakat.

Sanksi yang diterapkan tidak hanya bertujuan membuat efek jera. Namun juga akan menimbulkan rasa malu bagi siapa saja yang melanggar. Sanksi yang diterapkan, kayu mangrove yang dipotong akan dirampas. Selain itu, akan diumumkan dalam pertemuan banjar dan desa. Sanksi terberat lainnya bagi yang sering melanggar, harus membayar denda beras tiga kilogram.

Upaya menjaga kelestarian hutan mangrove di Nusa Penida, tidak hanya dilakukan masyarakat. Namun juga oleh beberapa lembaga lingkungan seperti Coral Triangle Center Nusa Penida. Tiga pulau yaitu Nusa Lembongan, Nusa Ceningan dan Nusa Penida merupakan bagian dari kawasan three sisters island yang merupakan bagian dari kawasan segitiga karang dunia. Setidaknya ada 296 karang keras dan 576 spesies ikan karang termasuk berbagai biota berdiam unit mulai dari ikan pari manta, penyu, lumba-lumba, ikan napoleon, hiu, paus dan berbagai jenis ikan lain.

Setelah puas mendapatkan penjelasan dari pengelola hutan mangrove di Desa Jungut Batu, kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Lembongan. Berbeda dengan jalan menuju Jungut Batu, akses menuju Desa Lembongan harus melalui jalan sedikit bergelombang.  Kami melewati beberapa bangunan pura dan bule yang hilir mudik ke objek wisata. Siang itu, bemo desa membawa kami di lesehan yang berada di pinggir laut di Desa Lembongan. Selama di lesehan, editor Tempo.co, mas Untung Widiyanto sangat setia membantu kami menggali angle yang menarik tentang pengelolaan mangrove selama kami berkunjung. Di lesehan di Desa Lembongan kami mendapatkan penjelasan panjang tentang pengelolaan rumput laut yang menopang hidup masyarakat setempat. Namun kini ada beberapa persoalan yang dihadapi masyarakat Lembongan, termasuk dampak limbah klorin dari kegiatan hotel di Nusa Lembongan.

Satu jam istrahat dan mendapatkan penjelasan tentang masalah lingkungan dan pengelolaan rumput laut. Kami melanjutkan perjalanan di lokasi penanaman mangrove yang sudah disiapkan panitia di Nusa Lembongan. Setiap jurnalis peserta workshop menanam lebih dari satu pohon mangrove dan menulis nama di setiap pohon yang ditanam. Usai menanam, bemo desa membawa kami kembali ke dermaga Junggut Batu. Keramahan masyarakat dan keindahan Nusa Lembongan membawa kesan bagi kami dan banyak orang yang ke sana untuk kembali mengunjungi pulau yang jauh dari Pulau Bali itu. (*)













No comments