Breaking News

Start Up Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Dompu Dipacu Sektor Pertanian

Bupati Dompu, Drs H Bambang M Yasin saat Menyampaikan Sambutan saat Pembukaan Musrembang.



Dompu, Berita11.com— Sektor pertanian menjadi kunci penentu pertumbuhan ekonomi Kabupaten Dompu. Pada tahun 2012, angka pertumbuhan ekonomi di Bumi Nggahi Rawi Pahu pernah mencapai 7,89 persen. Hal itu dipaparkan Bupati Dompu, Drs H Bambang M Yasin saat pembukaan Musrembang Tahun 2017 Kabupaten Dompu di aula Bupati Dompu, Senin (13/3/2017).

“Misalnya, masalah pertumbuhan ekonomi, tahun 2012 kita pernah mencapai pertumbuhan ekonomi 7,89 persen. Itu terjadi karena tiba–tiba ada uang dari jagung. Uang gaji pegawai, uang APBD dan uang gabah waktu itu tetap ada, tetapi kemudian ada uang yang tiba–tiba datang yang sebelumnya tidak pernah ada dan jumlahnya mengalahkan semua uang yang ada di sini,” katanya.


Baca Juga:             


H. Bambang juga mengajak peserta Musrembang agar realistis. Karena sebenarnya di Kabupaten Dompu sudah banyak laboraturium atau tempat–tempat belajar yang tak tidak perlu lagi dibuat.

Dikatakannya, pertumbuhan masif dari sektor pertanian mendorong berbagai sektor lain untuk bangkit, sehingga pertumbuhan ekonomi pada saat itu naik juga naik signifikan. “Tapi kemudian kami ke sini makin melambat dan makin menurun daya ungkitnya, sehingga hal ini menjadi tantangan buat kita ke depan dan itulah yang saya maksud dengan laboraturium yang disebutkan tadi,” katanya.

Diakui H. Bambang, sebenarnya komoditi jagung merupakan tanaman unggulan yang mampu mendongkrak berbagai sektor. Hanya saja, pemerintah tidak bisa menambah ekspansi (ekstensifikasi) lahan karena terbatasnya area tanam. Pada sisi lain pemerintah jgua tidak mungkin merambah hutan untuk memperluas area penanaman jagung.

“Kemarin saya baca melalui WhatsApp bahwa masih ada 60 ribu hektar lahan tidur yang siap untuk ditanami jagung. Sayapun secara spontan menjawab dengan menanyakan lokasi itu di mana?. Sepintas yang saya lihat sudah tidak ada lahan tidur lagi di Dompu, kalau memang ada nanti orang–orang miskin yang didata kita bagikan saja rata–rata dua hektar untuk satu orang sebagai bentuk untuk menurunkan angka kemiskinan di Dompu ini,” jelasnya.

Menurut Bupati, tempo dulu sebelum jalan menuju ke Calabai diperbaiki oleh pihaknya, harga Kopi di Tambora tidak pernah lebih dari Rp14 ribu per kilogram. Namun kini harganya mencapai Rp30 ribu atau paling murah Rp20 ribu per kg. Demikian juga  dengan harga jambu mente yang dulu Rp15.000 hingga Rp400 ribu secara glondongan, kini harganya sudah mencapai Rp20ribu per kilogram.

“Kenapa itu terjadi, berati ada hubungan langsung antara bagusnya jalan dengan harga komuditas pertanian di sana,” ungkap Bupati HBY.

Bupati HBY juga mengungkapkan, beberapa tahun lalu pada saat awal dilantik menjadi Bupati Dompu tahun 2011 lalu, pihaknya mendapat tawaran untuk membangun Kota Terpadu Mandiri (KTM). Namun setelah tawaran itu dipelajari,  isinya hanya membangun pasar baru, ruko dan sebagianya, sehingga kemudian tawaran itu akhirnya ditolak.

“Menurut saya tidak ada hubungan antara bangunan itu dengan harga jambu mente dan komoditi lainya. Sebab yang dibutuhkan oleh masyarakat di sana yaitu adalah infrastruktur jalan yang semakin baik yang mengubungkan kebun–kebun dengan pasar yang sudah ada. Dari situlah penghematan biaya produksi, angkut terjadi yang ujung-ujungnya uangnya akan kembali ke masyarakat sebagai pendapatan,” katanya.

Diharapakannya, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) fokus memperjuangkan sejumlah desa yang masih kategori miskin. “Saya pikir itulah yang dilakukan untuk ladang–ladang jagung kita. Mudah–mudahan pokok pikiran anggota DPRD ke depan difokuskan ke desa–desa yang katagori masih miskin,” harapnya. (RUL/*)

No comments