Breaking News

Apapun yang Terjadi Masyarakat Bima Tolak Retail Nasional!

Ilustrasi.


Bima, Berita11.com— Sejumlah warga Kabupaten Bima menolak kehadiran retail nasional Alfamart kendati pemerintah sudah memberikan lampu hijau bagi bos pemilik jaringan retail terbanyak itu. Kehadiran retail nasional dianggap membawa musibah bagi kebangkitan usaha kecil menengah (UKM) yang mendominasi geliat perekonomian masyarakat Mbojo.

Pelaku UKM di Kecamatan Bolo, Indrawan Ilyas meminta pemerintah agar tak memberikan ijin kepada retail nasional Alfamart maupun Indomaret untuk membuka cabang di Bima. jika tidak akan terjadi penolakkan besar-besaran oleh kelompok masyarakat.

Baca Juga:

“Inilillahi, ini adalah musibah. Kehadiran retail nasional tidak akan membawa banyak keuntungan bagi masyarakat. Malah secara jelas mematikan usaha-usaha kecil,” katanya kepada Berita11.com di Bolo, Jumat (31/3/2017).

Indrawan mengisyaratkan bersama sejumlah aktivis lain di Kecamatan Bolo akan menggelar aksi menolak kehadiran retail nasional. Sebagian banyak pelaku UKM, pedagang dan masyarakat Kecamatan Bolo menolak kehadiran retail nasional.

“Kami akan menggelar aksi dan turun ke jalan. Seharusnya usaha kecil itu yang diperjuangkan oleh pemerintah. Apapun yang terjadi kami tolak,” katanya.

Senada dengan Indrawan, pemilik toko Naurah di Kecamatan Woha, Abdul Gafur juga menolak kehadiran retail nasional. “Mestinya pemerintah tak semata memikirkan iming-iming PAD yang besar tapi mengabaikan usaha mikro dan usaha dagang masyarakat seperti kami,” katanya.

Menurut dia, kehadiran retail nasional lebih banyak membawa dampak buruk bagi perekonomian masyarakat. Meskipun pada sisi lain dapat menyerap tenaga kerja.
“Kalaupun ada tenaga kerja yang diserap, itu tidak sebanding dengan seberapa banyak usaha masyarakat kecil yang akan hancur,” katanya.

Alumnus kampus STISIP Mbojo ini menilai, kehadiran retail nasional dengan modal yang lebih baik dibandingkan para pelaku UKM dengan modal cekak akan menghancurkan usaha masyarakat.

“Pasti para pembeli akan lari semua ke retail nasional karena menganggap di sana lebih murah dan lengkap. Walaupun prinsip dagang itu kompetitif, tapi sedikit tidak pemerintah daerah memiliki tanggungjawab mendorong daya ungkit dan daya jual produk lokal, jangan malah matikan usaha rakyat kecil,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bima, M. Ikhsan menyatakan, niat pemerintah memberikan lampu hijau kepada pengusaha retail nasional tak hanya sekadar dilatarbelakangi target pemerintah menggaet Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun banyak multi efek yang ingin dicapai yaitu penyerapan tenaga kerja dan tersedianya outlet atau retail yang menyerap produk-produk lokal termasuk kerajinan UKM.

“Tentu pemerintah mendorong masyarakat ini agar bersaing secara sehat, kompetitif. Pada sisi lain ada penyerapan tenaga kerja, tak semaga karena PAD,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Bima sedikitnya memberikan lampu hijau untuk 20 titik retail nasional Alfamart di wilayah Kabupaten Bima. pada tahap awal, ada 2 titik yang akan dibangun di Kecamatan Bolo. Rencana itu telah disosialisasikan kepada masyarakat sejak Jumat (17/3/2017) belum lama ini.

“Itu juga sudah disosialisasikan kepada masyarakat langsung. Tahap awal ada dua titik di Kecamatan Bolo,” ujar Ikhsan. (US)


No comments