Breaking News

Kisah Buruh Pelabuhan Bima, Upah Rp40 Ribu, Rela Kerja hingga Malam

Aktivitas Buruh Pelabuhan Bima/ US Berita11.com


Menjadi buruh bukanlah cita-cita setiap orang. Namun tuntutan hidup dan ketatnya kompetisi membuat siapa saja rela melakoni apa saja, termasuk menjadi pekerja kasar. Potret itu dilakoni beberapa pria di Kelurahan Tanjung Kota Bima sejak puluhan tahun lalu. Catatan Fachrunnas.


Hilir mudik kendaraan membelah jalan bopeng siang itu. Beberapa sepeda motor ada yang berhenti di pinggir, sebagian memilih tetap melaju meninggalkan jejak-jejak debu yang menempel di lapak-lapak kecil tak jauh dari laut. Meski matahari kian mencarak, beberapa warga tetap lalu lalang mengajar aktivitas mereka. Kondisi seperti ini merupakan pemandangan lazim sebulan terakhir setelah hujan berhenti mengguyur Kota Bima.

30 meter dari kantor Syahbandar dan Pelindo Bima, sebuah persimpangan selalu menyambut pengendara dan pejalan kaki yang ingin menyebrang melalui teluk Bima. Lima meter dari persimpangan merupakan area penumpang kapal Pelni, kapal barang maupun perahu tradisional dalam area Teluk Bima yang siap mengantar penumpang menuju Desa Bajo dan Desa Punti Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima.

Di dalam pagar pembatas pelabuhan, bebepara pria berotot berkulit hitam sedang asyik istrahat. Salah satu dari mereka yaitu Ilham (45), warga Kelurahan Tanjung Kota Bima yang sudah 20 tahun menjadi buruh di pelabuhan Bima.

Selain Ilham, Dedi Abu (56) merupakan warga Kelurahan Tanjung yang paling lama menjadi buruh pelabuhan Bima. Siang itu, pria legam itu sibuk mengangkat beberapa karung jagung yang harus dimasukan dalam kontainer sebelum dimuat ke dalam kapal di pelabuhan rakyat Bima.

Cuaca panas dan debu yang setiap saat dihempas angin laut merupakan hal biasa bagi Ilham dan seluruh buruh lain di pelabuhan Bima. Musim panas kali ini merupakan berkah bagi parah buruh, karena hasil panen petani jagung di Dompu dan Bima melimpah sehingga pekerjaan para buruh pelabuhan Bima pun bertambah.

“Hanya saja meskipun volume pekerjaan bertambah dan semua mendapatkan kesempatan. Tapi upah kami tetap segitu-gitu saja. Kadang hanya 40 ribu untuk satu hari, kadang 50 ribu,” ujar Ilham.

Untuk mendapatkan upah hingga Rp50 ribu, Ilham mengaku bersama buruh lain harus mampu mengangkut puluhan hingga ratusan karung barang ke dalam satu kontainer. Pekerjaan kasar yang ia lakoni itu hingga malam hari.

“Dari dulu memang biasa sampai malam. Karena kadang nggak mungkin cepat, karena kadang nunggu barang dibawa dengan truk,” ujar Ilham kepada Berita11.com di pelabuhan Bima, Jumat (28/4/2017).

Bagi warga Kelurahan Tanjung ini, bekerja hingga malam hari merupakan rutinitas yang mesti ia lakoni sejak lama. Jika tidak ia akan mampu menafkahi keluarganya. Maklum saja, pendidikan dia dan rekan-rekanya yang lain hanyalah tamatan SMP dan SMA. Itu juga merupakan alasan para buruh lain rela bekerja hingga malam.

“Terkadang memang kalau ramai sekali kami bisa dapat 100 ribu. Tapi lebih sering dapat 40 ribu dan kadang-kadang 50 ribu untuk setiap hari. Itupun belum bersih karena termasuk biaya makan dan uang yang harus disetor ke koordinator buruh,” katanya.

Meskipun ikhlas menjalani hidup sebagai pekerja kasar di pelabuhan Bima, Ilham hanya berharap pemerintah memerhatikan nasib para buruh. Minimal mengatur perusahaan yang mempekerjakan dia agar memberikan jaminan sosial dan jaminan kesehatan. Karena pekerjaan buruh pelabuhan bukan tanpa resiko. Beberapa rekan Ilham pernah mengalami kecelakaan, patah tulang hingga sebagian meninggal dunia saat bekerja.

“Kalau bisa tolong pemerintah daerah membantu. Sampai sekarang kami tidak punya jaminan sosial maupun BPJS Kesehatan. Kalau sakit kami harus keluar uang sendiri. Padahal upah sudah sangat kecil, bagaimana lagi kami mau mengeluarkan uang untuk bayar jaminan kesehatan,” katanya.

Menurut Ilham, buruh pelabuhan Bima bukanlah tenaga harian lepas karena mereka menjadi buruh perusahaan hingga berbulan-bulan. Walaupun kadang berganti-ganti perusahaan.

“Banyak teman-teman yang kecelakaan, patah kaki maupun terluka hingga meninggal tapi tidak mendapatkan santunan maupun jaminan hidup,” katanya.

Pengalaman terburuk yang pernah dialami Ilham dan kawan-kawannya terutama saat mengangkut barang ke dalam kapal di antara jubelan manusia. Maklum saja saat kapal pelayaran nasional masuk, masyarakat Bima memiliki tradisi ramai-ramai mengantar keluarga mereka yang menggunakan angkutan kapal.

“Beberapa teman saya yang jadi buruh sering jatuh saat angkut barang ke dalam kapal Pelni,” ujar Ilham.

Pengalaman yang sama juga dialami Dedi Abu (56). Namun tak ada pilihan  lain baginya  untuk menafkahi keluarga. “Mau bagaimana lagi. Hanya pekerjaan ini yang bisa saya lakukan bersama orang-orang di sini,” ujarnya.

Dedi Abu hanya berharap pemerintah daerah mau memperhatikan nasib buruh pelabuhan Bima. setidaknya mengawasi pelaksanaan regulasi tentang hak-hak pekerja. Karena buruh juga memiliki hak yang sama seperti pekerja lainnya.

Terlepas dari potret buruh pelabuhan Bima, aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) Kabupaten Bima, Arif Kurniawan, S.Sos melihat bahwa pemerintah daerah, baik Pemkot maupun Pemkab Bima belum memiliki kepedulian terhadap nasib buruh. Padahal masalah buruh merupakan isu nasional. Hal itu setidaknya dilihat dari sikap pemerintah daerah yang tidak memerhatikan implementasi hak jaminan sosial dan jaminan kesehatan buruh.

Persoalan buruh di Bima bahkan lebih parah dibandingkan daerah lain. Keberadaan buruh dianggap sebelah mata. Itu terlihat dari praktik pemutusan kerja (PHK) sepihak oleh perusahaan. Buruh di Bima juga belum memiliki serikat sehingga belum dapat memperjuangkan hak mereka.

“Di Bima buruh tidak dianggap. Dalam praktiknya, perusahaan mengabaikan hak-hak pekerja. Buruh tidak memiliki perlindungan, upah juga di bawah standar yang telah ditetapkan pemerintah seperti UMP maupun UMR,” ujar Arif. (*)

Baca Juga :

No comments