Breaking News

Mengintip Toleransi di Desa Mbawa, Pemukiman 1.500 Mdpl di Kecamatan Donggo

Pemukiman Warga Desa Mbawa Kecamatan Donggo/ ID


Bima, Berita11.com— Desa Mbawa Kecamatan Donggo merupakan satu-satunya desa percontohan yang mampu menjunjung tinggi nilai toleransi antar umat beragama di Kabupaten Bima. Meskipun dihuni masyarakat yang heterogen, namun warga desa ini mampu menciptakan nilai toleransi yang tinggi.

Hal itu setidaknya diakui oleh tokoh Agama Kristen Katolik Desa Mbawa, Ignasius Ismail. “Kalau satu-satu tempat yang menjunjung nilai tolenrasi itu di Bima itu tempatnya ada di sini karena kami  sebagai salah satu contoh dalam kehidupan, baik yang berkaitan dengan toleransi kerukunan antar umat maupun budaya,” ujar penanggungjawab Gereja Katolik Stasi Santo Paulus Desa Mbawa ini.

Di Desa Mbawa sedikitnya ada 237 kepala keluarga atau 850 jamaah Katholik, hidup berdampingan dengan  umat Islam dan jemaah Kristen Protestan. Ada tiga Gereja Katholik yang berdiri yaitu Gereja Santo Yohanes Maria Vianey di Dusun Tolonggeru, Gereja Katolik Stasi Santo Paulus Desa Mbawa dan Gereja Katolik Santo Petrus di Dusun Nggeru Kopa Desa Palama. Sementara dua gereja lain yaitu Gereja Kemah Injil di Dusun Sangari dan Gereja Kemah Injil Dusun Tolonggeru. 

Selain mampu menciptakan toleransi antar umat beragama, masyarakat Desa Mbawa juga masih menjunjung tinggi berbagai nilai kearifan lokal yang turun temurun selalu dijaga seperti Raju atau hitungan tua yang menandai pergantian tahun.

Raju selalu dibuat dan ditetapkan sebelum petani memulai aktivitas menanam padi, jagung maupun tanaman lain. Tanpa Raju masyarakat Desa Mbawa sepakat tidak mulai menanam. “Itu sangat dihargai, malah sebagai tokoh agama sangat mengapresasi budaya itu. Kearifan lokal yang harus kita junjung tinggi,” ujar Ignasius.

Apa yang mendasari nilai toleransi di Desa Mbawa masih tinggi? Menurut Ignasius hal itu dipengaruhi nilai kearifan lokal yang terus dilestarikan masyarakat Mbawa seperti tradisi Mbolo Weki (rembuk bersama) ketika menjelang acara pernikahan. Selain itu Tekarne’e ketika acara syukuran, kematian maupun hajatan lain.

Tradisi lain yang masih terjaga yaitu Karawi Rasa. Masyarakat Desa Mbawa menjunjung tinggi budaya gotong royong. Maka tak heran setiap pembangunan rumah, warga bersama-sama membantu, sehingga pemilik rumah tak perlu memikirkan masalah biaya.

“Terus karawi rasa kalau ada yang bangun rumah ramai-ramai kita (bantu). Tidak ada istilahnya bayar, kalau saya tuan rumah bangun rumah tinggal menyiapkan makan minum saja bagi warga yang kerja,” katanya.

Kearifan lokal yang terus dipertahankan oleh warga tak hanya membuat kehidupan masyarakat Desa Mbawa dinamis. Namun juga mampu menciptakan suasana aman dan damai. Terbukti angka kriminalitas di desa ini sangat rendah.

Beberapa budaya yang terus dipertahankan termasuk pakaian tradisional kain hitam (tembe me’e) khas Donggo dan berbagai tarian khas kesenian di negeri Ncuhi Donggo. Desa Mbawa terdiri dari 10 dusun yaitu  Dusun Jango, Sangari 1, Sangari 2, Mangge, Dusun Sori Fo’o, Dusun Kambentu,  Dusun Mbawa 1, Dusun Mbawa 2,  Dusun Tolonggeru dan Dusun Salare.  Desa Mbawa dihuni lebih kurang 3.000 warga.

Warga Desa Mbawa Kecamatan Donggo, Ilyas yang sebelumnya bertugas di Ksatria Brimob Bogor bangga dengan tradisi dan nilai kearifan lokal yang selalu dipertahankan warga di desa setempat. Bahkan nilai-nilai kebersamaan itu yang menjadi magnet baginya untuk kembali ke kampung dan bertugas di Polsek Donggo.

Selain pemandangan hijau dan suasana alam yang tenang, setiap pengunjung di Desa Mbawa akan disuguhkan pemandangan teluk Bima yang begitu indah dari jauh. Untuk berkunjung di desa ini, pengunjung harus menggunakan mantel atau jaket karena udaranya sangat dingin, karena letaknya diperkirakan 1.500 Mdpl. Setiap pojok jalan warga setempat sangat ramah menyapa siapa saja yang hadir. (US/ID)





No comments