Breaking News

Pemkab Dompu Launcing FPT 2017, Puluhan Ribu Warga Memakai Tembe

Bupati Dompu saat Menyerahkan Petaka Kabupaten Dompu, Sabtu (1/4/2017). Foto Syahrul Berita11.com


Dompu, Berita11.com— Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Dompu bersama jajaran pemerintah desa dan kelurahan, satuan pendidikan dan seluruh elemen masyarakat Dompu mengikuti launcing Festival Pesona Tambora (FPT), Sabtu (1/4/2017).

Acara yang berlangsung di lapangan kantor Pemkab Dompu diikuti puluhan ribu peserta yang berasal dari jajaran pemerintahan, DPRD Dompu, Polres Dompu, anggota kompi Brimob Dompu, Kodim 1614 Dompu, Kejaksaan Negeri Dompu, Pengadilan Dompu, satuan pendidikan meliputi guru, siswa siswa dan kepala sekolah),  dan seluruh BUMN di Dompu.

Kegiatan diawali pembukaan, menyanyikan bersama lagu kebangsaan Indonesia Raya diiringi penampilan drum band MTSN 1 Dompu, pembacaan doa oleh Kepala Kemenag Dompu, Drs. H. Syamsul Ilyas M.Si, penyerahan pataka lambang Kabupaten Dompu oleh Bupati Dompu Drs. H Bambang M Yasin kepada Camat Dompu.

Setelah itu, disusul sambutan Bupati Dompu, Drs H Bambang M Yasin sekaligus melauncing resmi rangkaian FPT Tahun 2017 yang ditandai pemukulan katongga oleh Bupati Dompu disusul oleh Wakil Bupati Dompu, Ketua DPRD Dompu, Unsur Forkompinda, Sekertaris Daerah Kabupaten Dompu dan pimpinan SKPD.

Launcing yang menandai FPT kemudian dilanjutkan atraksi kereku kandei, tarian massal Saremba Tembe dan pawai busana adat Saremba dan Ketente Tembe. Menariknya Bupati Dompu Drs H Bambang M Yasin dan semua peserta tersebut memakai busana adat Dompu yang biasa dikenal dengan Saremba dan Katente Tembe.

Pada momentum tersebut, Bupati Dompu Drs H Bambang M Yasin bersama beberapa orang instruktur tarian Saremba Tembe terlihat memimpin tarian yang serentak diikuti para peserta dengan diiringi musik tarian Saremba Tembe.

Tidak hanya itu, gerakan–gerakan tarian Saremba Tembe dilakukan secara lincah dan sangat indah. Aktraksi gerakan tarian Saremba Tembe pun dilakukan selama beberapakali dengan penuh semangat dan senyuman dari para peserta yang hadir.

Usai tarian Saremba Tembe dilanjutkan pawai busana adat Saremba dan Katente Tembe yang dilakukan dengan cara long march dari lapangan kantor Pemkab Dompu hingga Kelurahan Karijawa Dompu. Setelah itu,  Bupati dan Wakil Bupati Dompu bersama sejumlah pihak lainya melakukan ziarah makam Sultan Muhammad Sirajuddin Manuru Kupang  yang berlokasi di samping Masjid Agung Baiturrahman Dompu.  

Kereku Kandei  merupakan aktivitas yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Dompu. Kareku adalah mengetuk lesung dengan menggunakan alu dengan irama dan gerakan tertentu, sehingga menimbulkan suara dan gerak yang menarik perhatian masyarakat di sekitarnya. Kareku adalah panggilan dan pemberitahuan untuk para tetangga agar segera hadir dalam kegiatan kegotong royongan “Mbaju Ndiha”.

Mbaju Ndiha salah satu wujud kegotong royongan hidup masyarakat, keluarga, tetangga datang dengan membawa hasil–hasil pertanian berupa padi, jagung dan lainya untuk diserahkan kepada keluarga yang berhajat sebagai bentuk bantuan atau untuk meringankan beban yang sedang melakukan acara.

Sementara “Saremba Tembe” adalah tarian kolosal yang merupakan garapan baru dipadukan menggunakan kain (tembe) sebagai aksesorisnya. Tarian Saremba Tembe mengingatkan masyarakat Dompu tempo dulu, dan katente adalah jenis pakaian yang pertama, setelah kaum wanita Dompu mengetahui medi ra muna yang dilakukan secara tradisional.

Khusus di Kabupaten Dompu, tembe nggoli merupakan hasil tenunan wanita yang dilakukan sebagai aktivitas tambahan di sela membantu suami bercocok tanam di sawah, ladang maupun aktivitas lain rumah tangga.

Tarian Saremba Tembe menggambarkan suka cita sekaligus rasa syukur atas keberhasilan melimpahnya hasil pertanian. Dalam keseharian masyarakat Dompu menggunakan tembe nggoli sebagai gaun yaitu rimpu dan katente serta saremba bagi kaum laki–laki. Tembe adalah keseharian masyarakat Dompu memiliki multifungsi bisa digunakan sebagai selimut pada saat kedinginan, digunakan sebagai parasut pada saat terjun, digunakan sebagai pelampung saat berenang dan pada saat musim panen sarung dapat berperan sebagai wadah saat mengakut hasil panen dan masih banyak lagi manfaat sarung dalam kehidupan.

Saremba dan Katente Tembe adalah seni berpakaian,  budaya yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Bagi mMasyarakat Dompu berpakian atau busana adalah fenomenal yang terus berkembang dan maju bersama perkembangan peradaban kehidupan manusia. Pengenalan bahan pembuat kain sudah dimulai dengan munculnya “muna ra medi”. Katente mengenakan kain tenun berupa sarung nggoli dengan cara ujung sarung atas di lipat sesuai ukuran pinggang, kemudian digulung sampai ujung bawah sarung di atas mata kaki. Khusus bagi kaum laki–laki dalam berbusana biasanya menggunakan katente, celana pendek dan badan diselubungi dengan kain atau weri ketika ke sawah ataupun aktivitas lainya.

Saremba adalah seni berpakaian masyarakat Dompu dengan cara memakai sarung yang di selempangkan pada badan atau pada salah satu pundak. Ketika beraktifitas lain kain selempangan akan berubah posisi dengan cara dililitkan pada pinggang  atau buhu kebi. Sedangkan sambolo adalah model tutup kepala yang terbuat dari kain tenun muna pa’a  yang dibuat wanita Dompu.

Model tutup kepala Sambolo merupakan budaya asli suku Mbojo (Bima–Dompu), dimana cara memakainya dilipat sebesar empat jari sehingga membentuk lipatan segitiga kemudian dililitkan pada kepala. Kemudian ujung segitiganya menjorok ke atas dan ujung lainya hingga  menjorok ke bawah mengarah ke bawah ke pelipis kiri, sedangkan bagian atas dibiarkan terbuka. (RUL)


Foto kegiatan parade dan pawai katente dan saremba tembe, Sabtu (1/4/2017)









No comments