Breaking News

Tekad Wakapolres Bima Mewujudkan Maja Labo Dahu dalam Korps Tibrata

Kompol Abdi Mauluddin, S.Sos/ Foto Hamid Berita11.com


Bima, Berita11.com— Wakil Kepala Kepolisian Resor (Waka Polres) Bima, Kompol Abdi Mauluddin, S.Sos bertekad mewujudkan pembenahan internal untuk mengoptimalkan kinerja Korps Tibrata melayani dan mengayomi masyarakat.

Menurut Abdi, salah satu langkah awal meningkatkan kinerja aparat Kepolisian yaitu melalui penegakkan disiplin aparat. Setiap anggota Polres harus bekerja tepat waktu dan menegakkan disiplin. Jangan sampai tugas sebagai aparat diabaikan dan mengutamakan pekerjaan lain.

“Bekerja sesuai fungsinya, kerja karena ibadah, jangan mengharapkan sesuatu. Tugas pokok Polisi itu melayani, mengayomi, jangan jadikan tugas umum polisi itu jadi tugas sampingan kemudian tugas sampingan jadi tugas pokok. Di luar jam dinas mau cari tambahan silakan, mau jadi ojek silakan. Mau jadi pengusaha silakan. Itu hak-hak seseorang,” kata Abdi kepada Berita11.com di Mapolres Bima.

Abdi mengisyaratkan, Polres Bima akan mewujudkan pembenahan internal yang diawali dari hal terkecil. Setiap Kepala Unit dan Kepala Satuan diharapkan mengawasi kinerja jajaran ke bawah. Setiap personil kepolisian memiliki tangungjawab yang sama untuk mewujudkan Bima yang lebih baik.

“Kedua kita harus berbenar dari dalam dulu. Kalau sudah bersih dari dalam, tanpa ngomong pun masyarakat sudah bisa membantu kita. Kalau kita mau memberantas di luar terus belum bersih dalam mana bisa? Tegakkan disiplinnya, misalnya (anggota) mau minjam uang harus hadir istrinya. Kalau yang muda dilihat laporannya, jangan sampai uang itu diperguankan tidak sesuai sasaran karena kasihan,” ujar mantan Kabag Ops Polres Bima Kota ini.

Abdi berharap setiap personil Kepolisian mengikuti ketentuan agama sesuai keyakinan masing-masing. Masalah disiplin dan kinerja juga berawal dari ibadah. Jika ibadah (sholat)  seseorang sudah baik dan sesuai tuntutan yaitu lima kali, maka sudah pasti setiap anggota itu akan melaksanakan tugas dengan baik.

“Kalau lima waktunya benar, tepat juga kegiatannya. Tapi kalau mepet (ibadahnya) Senin Kamis, begitu juga pekerjaanya. Nah, kalau mulai sholat subuh rajin maka pekerjaanya pun pasti rajin. Tapi kalau subuhnya molor, duhur saja dia solat. Begitu juga kerjanya nanti. Itu bagi yang muslim. Begitu juga agama Hindu dan Nasrani sama.  Hitam putih itu sudah jelas,” ujar pria yang baru beberapa pekan bertugas di Polres Bima ini.

Menurut pria asli Kelurahan Sarae kelahiran Bima1 Mei 1972 silam ini, moto Maja Labo Dahu yang melekat dalam masyarakat Bima sangat cocok diterapkan oleh siapa saja. Mulai dari masyarakat dan juga aparat Kepolisian. Jika saja moto itu selalu diingat dan dilaksanakan dengan baik, maka tidak akan pernah muncul berbagai kejahatan di Bumi Bima.

“Harus sama-sama, kalau mau Bima lebih baik harus semua lini. jangan hanya satu dua orang saja.  Yang namanya moto Maja Labo Dahu itu melekat dalam Islam yang kental. Kalau itu polisi itu pas di situ, majanya ada, dahunya ada. Semua berbuat harus ingat kalau benar atau nggak. Kalau sudah benar, rasa takut dia untuk mengambil suatu sikap dia  akan berpikir,” katanya.

Mantan Kepala Urusan Siswa SPN Polda NTB ini, memastikan bahwa pimpinan Polres Bima akan bersikap proporsional dan memastikan tak ada intervensi bagi pelaksanaan tugas bawahan.

“Saya sudah bilang pada anggota, kita harus berdasarkan  SOP.  Reskrim punya SOP sendiri, nggak usah takut! nggak ada intervensi. Karena tidak ada yang kebal hukum. Waka akan dukung itu. Kalau ada intervensi mau jadi apa dunia ini?” katanya.

Setelah kembali bertugas di kampung sendiri, pria yang pernah delapan tahun bertugas di Kupang NTT ini memiliki prinsip mewujudkan kinerja Polres  Bima yang lebih baik. Tahap 
awalnya  akan membenahi internal.

“Kembali kampung harus lebih baik. Baik dari sikap, baik dalam perilaku, baik dalam ibadah itu kembali pada diri. Tanyakan pada diri kita, bukan kita ngomong dulu sama orang. Kita koreksi dulu diri. Sudah benar nggak ibadah mu, sudah benar nggak tingkah laku mu? Sudah benar nggak langkah mu? Sudah benar nggak dengan keluarga mu? Koreksi dulu diri, baru kita sampaikan pada orang lain kalau sudah,” tandas Abdi.

Abdi berharap seluruh anggota Polri di Polres Bima memiliki prinsip yang sama yaitu menjadikan masyarakat sebagai patner atau subjek. Bukan sebaliknya menganggap sebagai objek atau sasaran untuk memperoleh sesuatu.

“Masyarakat itu bukan objek tapi subjek patner, mitra,  bukan  objek penderita, sasaran untuk mencari sesuatu. Salah total itu, berbeda jauh dengan Kepolisian itu. Kalau menjadi subjek jalan akan bagus,” katanya.

Untuk itu,  ia berharap setiap anggota Polres Bima mengikuti aturan main atau prosedur yang telah ditetapkan.”Lurus-lurus saja. Hidup ada sebab akibat. Orang-orang dipanggil itu karena ada sebab. Kalau nggak bermasalah nyaman kok hidup ini. Simpel saja hidup ini, jangan berbuat masalah. Kita berbuat kebaikan kita akan punya banyak kawan. Ini titipan saja jabatan,” pungkas Kompol Abdi Mauluddin, S.Sos. (US)

No comments