AJI Mataram Kecam Oknum Polisi yang Rampas Kamera Jurnalis di Bima

Iklan Semua Halaman

.

AJI Mataram Kecam Oknum Polisi yang Rampas Kamera Jurnalis di Bima

Rabu, 24 Mei 2017
Ketegangan Antara Aparat dengan Massa/ Courtessy Herman.

Bima, Berita11.com— Intimidasi dialami dua jurnalis di Bima saat meliput demonstrasi di depan Kampus Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Taman Siswa Bima, Rabu (24/5) sekitar pukul 11.10 wita.   Korban wartawan Harian Bimeks, Hermansyah dan wartawan mingguan Suara Rakyat, Ibrahim alias Bram. Kamera mereka diduga dirampas oknum Polisi.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Mataram mengecam tindakan oknum anggota polisi tersebut. AJI meminta Kapolres Bima, AKBP M Eka Fathurrahman  menindak oknum anggota tersebut. “Dengan terulangnya kejadian ini, mengindikasikan polisi tidak belajar dari kasus kasus sebelumnya,”  kritik Ketua AJI Mataram, Fitri Rachmawati.  

Fitri menjelaskan, jurnalis dalam menjalankan tugas peliputan dilindungi Undang – Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999. Pun demikian dalam meliput peristiwa, jurnalis juga patuh pada Kode Etik Jurnalis (KEJ). Sehingga jika ada pihak yang berupaya menghalang halangi dapat dipidana. “Sesuai  ketentuan pasal 18 ayat  1 Undang Undang Pers, upaya menghalang halangi jurnalis untuk mencari dan mengolah informasi, dapat dipidana dengan ancaman  penjara selama dua tahun atau denda Rp 500 juta,” sebut Fitri Rachmawati melalui siaran pers AJI Mataram.

Munculnya kasus ini menurut Fitri, menandakan masih banyak oknum polisi yang belum paham kerja kerja jurnalis di lapangan. Sehingga dia meminta Polda NTB dan khususnya pihak Pores Bima menjadikan kasus ini sebagai pelajaran penting dan evaluasi internal, agar kasus serupa tidak terulang. 

Fitri justru mempertanyakan kepentingan oknum polisi yang merampas kamera dua jurnalis dan menghapus gambar aksi demonstrasi itu.  "AJI mengingatkan, jika keberatan terhadap praktik jurnalistik di lapangan, ada mekanismenya sesuai Udang Undang Pers. Ada juga Dewan Pers yang bisa memproses pengaduan itu. Apalagi mereka ini aparat,  seharusnya bersikap dan bertindak sesuai aturan juga, " tegasnya. 

Ketua Divisi Advokasi AJI Mataram Haris Mahtul menambahkan,  dengan mencuatnya kejadian ini, berarti menjadi kasus pertama tahun 2017 kekerasan dan intimidasi terhadap kerja jurnalis. 

Pihaknya sedang melakukan advokasi untuk kedua korban melalui anggota AJI di Kota Bima. "Kawan kawan di Bima sudah mendampingi korban melapor ke Propam Polres Bima, “jelasnya. 

Dengan dasar laporan itu, akan jadi bahan pihaknya mengawal kasus ini sampai oknum anggota itu ditindak. (US)