Dewan Hakim Akui Kebablasan saat Loloskan Finalis MTQ Kabupaten Bima

Iklan Semua Halaman

.

Dewan Hakim Akui Kebablasan saat Loloskan Finalis MTQ Kabupaten Bima

Sabtu, 27 Mei 2017
Penyerahan Hadiah kepada Kontingen yang Menjuarai MTQ Tahun 2017 Kabupaten Bima. Ist

Bima, Berita11.com—  Dewan Hakim Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tahun 2017 Kabupaten Bima, Ustad M Sidik tidak membantah saat final MTQ terjadi keributan peserta dari sejumlah kontingen.

M Sidik tak membantah jika saat MTQ Kabupaten Bima, Dewan Hakim kebablasan tak mengetahui jika ada salah satu peserta yang sudah menjadi jawara di Provinsi NTT tapi kembali mengikuti lomba yang sama di Kabupaten Bima.

Hal itu juga menjadi dasar bagi Dewan Hakim terpaksa mengubah putusan yang awalnya meloloskan tiga peserta pada fase final.

“Memang awalnya hanya tiga orang diumumkan, tapi terpaksa kita umumnya empat orang yang masuk final. Karena kami terlambat tahu jika ada peserta yang sudah juara di daerah lain yang ikut. Karena etikanya, tidak mungkin tak diloloskan karena dia sudah tampil,” katanya saat dihubungi oleh Berita11.com melalui sambungan Ponsel.

Diakuinya, juara harapan 1 untuk peserta yang telah menjadi jawara daerah lain terpaksa diberikan Dewan Hakim. “Hanya itu solusinya saat terjadi protes malam itu. Memang untuk suara peserta tersebut bagus. Tapi kami terlambat tahu kalau dia sudah juara di daerah lain,” katanya.

Menurut Sidik, sesuai peraturan main MTQ, peserta yang sudah masuk pembinaan LPTQ daerah lain dan sudah menjadi juara pada daerah lain. Maka tak boleh mengikuti lomba yang sama. Hal yang dikuatirkan akan terjadi tumpang tindih. Apalagi jika pada lomba tingkat nasional mendatang memiliki jadwal yang sama.

“Memang seharusnya LPTQ dan panitia juga yang lebih tahu. Kami dewan hakim tahunya belakangan setelah ada protes dari peserta lain,” katanya.

Sidik juga merespon protes dari Ketua LPTQ Kabupaten Bima, Drs H Fitra Malik yang menilai Dewan Hakim tidak adil karena tidak memberikan penilaian maksimal untuk Suherman yang seharusnya menjadi jawara.

“Itu karena sudah juara di daerah lain menjadi wakil daerah lain. Jadi tidak mungkin diberikan kesempatan yang sama. Karena nanti bisa masalah ketika tingkat selanjutnya. Juara harapan dan masuk final itu sudah pas, karena sudah tampil,” katanya. (US)