HIMABI STKIP Taman Siswa Pentaskan Enam Judul Drama

Iklan Semua Halaman

.

HIMABI STKIP Taman Siswa Pentaskan Enam Judul Drama

Sabtu, 10 Juni 2017
Penampilan HIMABI ProdiBahasa Inggris STKIP Taman Siswa Bima.

Bima, Berita11.com— Himpunan Mahasiswa Bahasa Inggris (HIMABI) Program Studi Bahasa Inggris STKIP Taman Siswa Bima menyelenggarakan acara “Drama Show The Culture of Mbojo” yang super istimewa. Tidak hanya dihadiri oleh ratusan penonton, tetapi seluruh prosesi acaranya dari awal hingga akhir menggunakan bahasa Inggris.

Semua yang terlibat dalam acara ini, mulai dari MC, laporan ketua panitia, sambutan Ketua HMPS, dosen pembina, ketua Prodi, ketua lembaga hingga pada puncak acara “Drama Show”, menggunakan bahasa Inggris. Sungguh moment yang sangat Istimewa. Para pimpinan yang menyampaikan sambutan sebelum drama show berlangsung, tak menyia-nyiakan moment istimewa ini untuk ‘show of’ dengan sambutan yang luar biasa pula.

Saat kegiatan, Ketua STKIP Taman Siswa Bima, Dr Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si menyampaikan lima point yang menginspirasi. Ibnu menyampaikan kejutan dan memberikan apresiasi yang tinggi terhadap kreatifitas dan kemampuan psikomotorik yang dimiliki mahasiswa.

Dikatakan dia, seluruh negara termasuk Indonesia sedang berada di abad 21, era dunia tanpa batas (borderless world era), dimana “clash of civilization” tak bisa dihindari, budaya global menghegemoni hingga local genuine.

“Tak ada cara lain bahwa globalization must be countered by localization yaitu dengan melestarikan budaya lokal,” ujar dia.

Menurut dia, maju mundurnya sebuah bangsa dan daerah ada di tangan generasi muda. Generasi mudalah yang selalu mengubah sejarah dunia, yaitu generasi yang kreatif, inovatif, dan terus belajar mengembangkan aspek kognisi, afektif, dan psikomotoriknya.
Ibnu mengingatkan, selain mahir berbahasa Inggris, Prodi Bahasa Inggris juga harus memiliki dan kemampuan untuk melestarikan dan mengembangkan budaya lokal. 

Menurutnya, akreditasi B yang disandang Prodi Bahasa Inggris sekarang memungkinkan mahasiswa berkompetisi hingga level Internasional.

Dosen mata kuliah Drama, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Taman Siswa Bima, Ramli, M.Pd  mengingatkan kepada mahasiswa perlunya menerapkan  ATM yaitu amati, tiru, dan modifikasi dalam belajar dan mengembangkan kreatifitas.

“Inilah tips untuk melahirkan banyak karya, terutama dalam bidang seni dan budaya. Ketua Program studi Pendidikan Bahasa Inggris bapak Suratman, M.Pd.BI sangat berterima kasih kepada Ketua Lembaga atas dukungannya mensukseskan acara ini,” kata dia

Menurutnya, kemajuan kampus sangat bergantung dari geliat mahasiswa melaksanakan sejumlah kegiatan positif seperti drama.

Sementara Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Taman Siswa Bima, Suratman, M.Pd mengatakan bahwa label akreditasi B adalah buah dari karya seluruh dosen dan mahasiswa. “Bersama kalian semua dunia menjadi seindah Taman Siswa,” katanya disambut gemuruh tepuk tangan peserta.

Suratman menjelaskan, Drama Show ‘The Culture Of Mbojo’ merupakan agenda mahasiswa semester 6 Prodi Bahasa Inggris STKIP Taman Siswa Bima yang dikembangkan dari mata kuliah Drama. Seluruh Isi cerita drama disadur dan dimodifikasi sendiri oleh mahasiswa.

Drama Show  didesain sebagai sebuah  kompetisi antarkelompok drama yang mengangkat tema yang menceritakan tentang nilai dan budaya Mbojo dalam versi bahasa Inggris seperti Parise Buncu, Wai Toma dan Sultan Lalim, La Hila, Wadu Ntanda Rahi, Daeng La Minga,  dan Putri Nila Fatirah.

“Saya terkagum-kagum dengan kemampuan bahasa Inggris dan akting drama yang mereka tunjukkan. Ada beberapa momen yang mereka tunjukkan dalam penjiwaan yang luar biasa, hingga membuat para penonton histeris, terharu dan meneteskan air mata,” kata Suratman.

Drama Purti Nila Fatirah mengisahkan tentang seorang gadis putri paja yang sangat cantik. karena kecantikannya membuat seorang babu istana iri hati dan dengki, sehingga menyihirnya menjadi makhluk yang buruk rupa seperti kerbau hingga akhirnya Puri Nila Fatirah kabur meninggalkan Istana untuk menyendiri di sebuah gunung tanpa diketahui oleh siapapun. Pesan moral kisah ini mengingatkan tidak boleh iri terhadap orang lain.

Sementara Parises Buncu mengisahkan tentang kehebatan Ncuhi Buncu dalam mensejahterakan masyarakatnya dan melindunginya dari ancaman musuh. Ncuhi Buncu disimbolkan sebagai perisai yang perkasa dan adil dalam melindungi rakyatnya.

Kisah Wai Toma dan Sultan yang lalim mengisahkan tentang pengabdian seorang nenek sebagai pembantu di iIstana. Dia begitu sabar dalam melayani sultan meski diperlakukan dengan tidak adil. Seorang sultan yang lalim ini begitu sombong, angkuh dan kejam terhadap rakyatnya. Sultan tidak bisa melihat kesalahan bawahannya dan langsung dihukum dengan kejam. Karena kekejamannya itu sultan mendapatkan balasan dari rakyatnya dengan meneteskan air racun yang membuat sekujur tubuhnya gatal dan luka yang mengerikan hingga sultan meninggal dalam kondisi yang mengerikan.

Drama tentang La Hila mengisahkan tentang seorang gadis dari kalangan biasa yang memiliki wajah yang sangat cantik dan berkepribadian yang luhur. Cerita tentang kecantikan dan kebaikan La Hila menjadi buah bibir masyarakat. Suatu waktu ketika La Hila bersama teman-temannya sedang mandi di sungai, lewatlah seorang pangeran dan melihat La Hila yang membuatnya jatuh cinta dan hendak melamarnya.

Karena kondisi kerajaan sedang berkecamuk dengan peperangan, maka rencana untuk melamar tidak jadi. Beberapa lama kemudian, sang pangeran kembali ingin melamar La Hila, tetapi tanpa diketahui sebab musababnya La Hila berubah wujud menjadi pohon bambu yang amat rindang sehingga seluruh masyarakat menangisi perubahan wujud La Hila.

Sementara itu, dram Wadu Ntanda Rahi mengisahkan sebuah rumah tangga yang harmonis dan sakinah mawaddah warahmah. Suami dan istri yang bertanggung jawab, kerja keras, dan taat beribadah. Anak-anaknya berperangai baik, berbakti kepada kedua orang tuanya, taat beribadah, rajin belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh demi kebahagiaan orang tua, dirinya dan orang lain.

Karena Mimpinya untuk membahagiakan keluarga dan orang lain, suaminya bertekad kuat hijrah ke luar daerah untuk mencari nafkah, meskitidak ditolak oleh istri dan anak-anaknya. Dengan kecintaan yang kuat, istrinya menanti kepulangan suaminya, berhari-hari istrinya menangis karena kerinduannya yang dalam hingga istri berubah wujud menjadi batu yang bernama Wadu Ntanda Rahi. Kisah ini menggambarkan kesetian perempuan Mbojo terhadap suaminya.

Drama Daeng La Minga mengisahkan putri raja yang sangat cantik dan memiliki kulit yang bening. Daeng La Minga dijuliki Wajah oha rangaha dan Ninu oi ra nono yang bermakna bahwa nasi yang dimakan dan air yang diminumnya terlihat jelas lewat dalam tenggorokannya.

Begitupun tutur kata dan budi pekertinya sangat santun, sopan dan ramah. Sosok Daeng La Minga mencuri perhatian para pemuda dan dua orang pangeran di kerajaan tetangga. Dua pangeran ini berkelahi merebutnya, hingga kedua pangeran ini tewas. Untuk menghindari kejadian yang sama yang menimpa para pemuda yang lain, maka Daeng La Minga diusir meninggalkan kampung halamannya.

“Sekali lagi, saya sangat kagum dengan kreatifitas, kemampuan berbahasa Inggris, dan actingnya dalam menjiwai sebuah peran. Saya jadi optimis, kalau Drama Show The Culture of Mbojo ini terus dikembangkan atau dimodifikasi maka akan menjadi sebuah seni pertunjukkan yang layak ditonton oleh khalayak ramai,”  kata Sutarman. (US)