Nelly: Wartawan jangan Suka Bohong!

Iklan Semua Halaman

.

Nelly: Wartawan jangan Suka Bohong!

Redaksi Berita11
Kamis, 15 Juni 2017
Nelly Ilmi Qortiah saat Memaparkan Materi. Foto Berita11.com

Bima, Berita11.com— Psikiater asal Bima, Nelly Ilmi Qortiah mengingatkan wartawan agar jangan suka berbohong, termasuk ketika menggali informasi atau saat melaksanakan investigasi sebuah kasus.

Menurut Nelly, mengungkapkan pernyataan bohong kepada narasumber untuk menggali informasi atau kejujuran narasumber tetap saja salah. Hal ini terkait etika dalam mendapatkan informasi.

“Jadi tidak direkomendasikan wartawan untuk berbohong. Jangan suka berbohong atau membiasakan berbohong. Justru orang yang suka berbohong ada masalah dengan kejiwaanya. Menandakan seseorang itu juga mengalami kegialaan,” kata Nelly saat menjadi narasumber ketika media gathering yang digelar BPJS Cabang Bima, Selasa (13/6/2017).

Alumnus salah satu kampus di Jawa Timur ini merekomendasikan kepada wartawan untuk menggunakan cara lain selain berbohong untuk memancing narasumber. Banyak hal yang bisa dilakukan wartawan untuk melakukan validasi informasi yang ingin digali. Salah satunya dengan mempelajari gestur atau mimik serta gerakan tubuh narasumber ketika diwawancarai.

Dari ciri itu, wartawan bisa menyimpulkan apakah pernyataan narasumber betul atau masih diragukan. Termasuk saat wawancara melalui telepon selular (by phone) wartawan bisa mempelajari intonasi narasumber sehingga bisa menyimpulkan kebenaran informasi yang sedang digali.

Menurut Nelly, untuk menguasai komunikasi dengan orang lain, harus mengetahui karakter diri sendiri. Setiap orang memiliki kemampuan komunikasi verbal hanya 7 persen, selebihnya merupakan di bawa alam sadar.

“Kecerdasan tidak didiominasi pikiran negatif tapi didominasi positif thinking. Orang dikatakan cerdas adalah orang yang memmikiki kecerdasan emosi, bukan lagi IQ,” katanya.

Nelly menjelaskan, orang atau narasumber yang cenderung memiliki respon otak kanan cenderung berbohong (kreatif), sedangkan yang cenderung mempunyai respon otak kiri ketika menghadapi pertanyaan, cenderung mengungkapkan informasi apa adanya atau jujur. Karena kerja otak kiri berkaitan mengelola tindakan secara analitis dan logis.

Wartawan Kontras Bima, Ilhamuddin ungkapan bohong untuk memancing pernyataan (kebenaran) dari narasumber terpaksa dilakukan wartawan ketika melakukan investigas untuk mendapatkan data yang valid.

Umumnya narasumber seperti di Bima cenderung tertutup dan suka menyembunyikan kebenaran ketika diwawancarai wartawan terkait soal kasus. namun bila sudah dipancing bahwa wartawan sudah mendapatkan data awal terkait kasus yang sedang diwawancarai, maka dengan sendiri narasumber merasa terdesak dan terpaksa jujur.

Sementara itu dari berbagai sumber,  konsep dominasi otak kanan vs otak kiri yang biasa digunakan psikiater dalam mendeteksi tingkat kejujuran narasumber atau ketika tahapan wawancara dinilai merupakan konsep yang bohong.

Hal tersebut sesuai hasil beberapa penelitian yang dilakukan ahli medis, bahwa otak kiri dan kanan memiliki peran secara bersamaan sehingga sulit dipisahkan.  (US)