Titik Temu Agama

Iklan Semua Halaman

.

Titik Temu Agama

Redaksi Berita11
Minggu, 11 Juni 2017

Oleh: Damhuji, S. Ag., M.Pd., M.A. 
(Dosen STKIP Taman Siswa Bima/ Dewan Pendidikan Kabupaten Bima)


Sangat mudah kita mengubah logika dan pendapat ilmiah TAPI sangat sulit mengubah keyakinan agama seseorang. Oleh karena itu tak perlu ada pemaksaan dan tidak perlu ada pertengkaran tentang agama mana yang paling benar. Jika dalam hal perbedaan agama saja tidak boleh ada pemaksaan kehendak, maka dalam hal apapun mestinya tidak boleh ada pemaksaan kehendak. Di bumi ciptaan Tuhan yang sangat luas ini terdapat keberagaman budayadan agama yang luar biasa.

Dalam sejarah kehidupan manusia, bahwa setiap suku dan bangsa telah membangun kehidupan budaya dan agamanya selama beratus-ratus tahun, secara turun temurun, beranak pinang, mendarah daging, berurat akar dan bermetamorfosis atau berevolusi kedalam sebuah sistem kepercayaan yang hanif. Jika demikian, maka sangat tidak dibenarkan kalau ada satu suku atau satu bangsa yang mengklaim budaya dan agamanya paling benar.

Dalam Surat Saba ayat 24 menjelaskan, bahwa manusia tidak diperbolehkan untuk mengklaim agamanya yang paling benar selama di dunia. Jawaban mengenai agama mana yang paling benar akan dijelaskan oleh Allah diakhirat. Untuk pembuktian tentang agama mana yang paling benar, Allah mengumpulkan semua manusia di akhirat dan Allah berada di tengah-tengah manusia untuk menjelaskan tentang agama mana yang benar. Oleh karena itu, pengklaiman kebenaran agama adalah hak Allah bukan hak manusia.

Dalam ajaran Islam, secara internal sesama umat Islam wajib mengatakanbahwa “Agama Islam adalah satu-satunya agama yang paling benar disisi Allah”; TETAPI secara eksternal dalam berhubungan dengan agama lain “Diharamkan untuk mengklaim agama Islam yang paling benar”.Dalam Islam, tidak ada paksaan dalam beragama; setiap umat beragama memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk menjalankan agamanya tanpa mengganggu umat agama lain. Semua agama memiliki konsep dakwah, yaitu saling mengingatkan untuk mengajak dalam kebaikan dan mencegah kemungkaran; terutama terhadap sesama umat beragama dan tidak mengapa kita saling mengingatkan tentang etik kepada umat agama lain jika kita memiliki ilmu yang cukup terhadap agama tersebut.

Di Indonesia, bahwa titik temu agama-agama adalah adanya kepercayaan yang sama terhadap Tuhan yang maha Esa dan Pancasila merupakan titik temu nilai-nilai moral, kemanusiaan, dan keadilan sosial dari semua agama yang ada di Indonesia. Ini berarti bahwa Semua agama mengajarkan harmoni, toleransi, perdamaian dan mencegah kekacauan serta membenci pertumpahan darah. Dalam Islam, hanya boleh memerangi orang yang lebih dulu memerangi kita dan bersikap sabar serta memberi maaf adalah lebih utama dan mulia dari sikap apapun. Perbedaan itu sunatullah, persatuan itu mutlak, dan permusuhan/kekerasan/pembunuhan itu adalah dosa besar yang membawa pada kesengsaraan hidup di dunia dan akhirat.

Sesungguhnya orang-orang baik itu lebih banyak dan orang-orang jahat itu sangat sedikit. Kehidupan ini adalah pertarungan abadi sepanjang masa antara kebaikan dan kejahatan baik secara non fisik maupun fisik. Orang-orang jahat yang terorganisir dengan mudah mengalahkan orang-orang baik yang tidak terorganisir atau orang baik yang individualistik sentris atau egoistis. Kita melihat, bahwa orang-orang baik terlalu sibuk dengan dirinya, keluarganya, dan melupakan urusan keumatan atau kemaslahatan bersama. Sumber daya strategis dikuasai oleh orang-orang jahat (bejat, serakah dan sombong). Mereka menguasai minyak, emas, mineral dan menguasai kekuasaan seperti politik, birokrasi, dan LSM.

Orang-orang baik menjauhi politik, menjauhi teknologi, dan menjauhi urusan keumatan karena alasan yang menyesatkan “takut dosa’ katanya. Teman-teman saya yang banyak itu adalah orang-orang baik; tetapi mereka tidak terorganisir dan sangat sulit bersatu lantaran sibuk dengan dirinya dan keluarganya. Berkumpul dan bertemu untuk membicarakan tentang keumatan adalah sesuatu yang paling sulit dalam hidupnya. Ketika mereka berbicara politik, maka mereka merasa dirinya paling hebat. Ketika mereka berpolitik, maka yang diutamakan adalah kepentingan dirinya; dan yang menonjol adalah persaingan bukan kolaborasi. Sehingga yang terjadi yang menang menindas yang kalah dan yang kalah menfitnah yang menang hingga akhir masa jabatan. Inilah siklus yang terjadi dari tahun ke tahun dan dari periode ke periode. Mudah-mudahan bukan sunatullah. Amin