Breaking News

Buntut Ulah Mantan Karyawan Bank, Koptan Jagung di Dompu Meradang

Ilustrasi/ foto Syahrul

Dompu, Berita11.com—  Kelompok tani (Koptan) jagung Usaha Bersama Desa Baka Jaya Kecamatan Woja Kabupaten Dompu meradang. Masalahnya, sertifikat jaminan modal di Bank NTB Syariah Cabang Dompu tak kunjung dikembalikan lantaran ulah mantan karyawan bank setempat, meskipun kelompok telah melunasi angsuran kredit.
Ihwal ulah FS, oknum mantan karyawan Bank NTB Syariah Cabang Dompu diakui Direktur bank setempat.

Ketua kelompok tani jagung Usaha Bersama Desa Baka Jaya, Sudarmawan Septohadi mengungkapkan, awalnya pada tahun 2014 lalu mengajukan kredit sebesar Rp50 juta pada Bank NTB Syariah Cabang Dompu. Ketika itu, berkas pengajuan kredit ditangani FS, karyawan Bank NTB Syariah Cabang Dompu yang belakangan dipecat karena melakukan korupsi  dengan modus tak menyampaikan setoran nasabah ke bank.

Setelah mengajukan kredit Rp50 juta. Permohonan Poktan jagung Usaha Bersama Desa Baka Jaya tak semuanya cair. Ketika itu, FS oknum karyawan Bank NTB Syariah Cabang Dompu yang telah dipecat itu menjelaskan bahwa uang yang bisa dicairkan oleh kelompok hanya Rp35 juta, sedangkan sisanya Rp15 juta harus disimpan sebagai tabungan. Sisa uang tersebut baru dapat dicairkan kelompok setelah melunasi angsuran kredit sesuai tempo yang ditetapkan bank

“15 juta  disimpan sebagai tabungan dan bisa dicairkan setelah iuran kredit dibayar lunas sesuai  tempo yang ditentukan. Kami pun akhirnya mengikuti peraturan tersebut,” ungkap Sudarwaman di Dompu, Jumat (21/7/2017).

Menurut Sudawarman, sejak awal waktu pinjaman, kelompok selalu menataati ketentuan bank dengan membayar angsuran tepat waktu hingga tuntas. Selama proses pembayaran angsuran kredit, kelompok beberapakali didatangani FS yang menagih langsung angsuran. Ketika itu kelompok pun membayar cicilan melalui FS.

“Karena FS yang sering mendatangi kami di rumah,  maka kami pun membayar iuran itu lewat dia,” ujar dia.

Setelah beberapakali membayar angsuran, Sudawarman didatangani karyawan lain Bank NTB Syariah yang menginformasikan bahwa Koptan Usaha Bersama memiliki tunggakan kredit. Padahal selama ini pembayaran angsuran hampir selalu tepat waktu, termasuk melalui FS yang datang menagih angsuran.

Setelah didatangi petugas lain dari Bank NTB Syariah, Sudawarman baru menyadari jika angsuran kredit yang selalu ditagih FS tak disetor ke Bank NTB dan kemungkinan ditilep oknum itu.

Dikatakannya, Setelah melunasi seluruh angsuran kredit sesuai kontrak peminjaman uang, sertifikat jaminan milik Koptan tak kunjung diberikan pihak Bank NTB Syariah Cabang Dompu lantaran dianggap masih ada masalah terkait tunggakan yang tidak disetor FS mantan karyawan bank tersebut. Bahkan uang sebesar Rp15 juta dari total pengajuan kelompok sebesar Rp50 juta yang disimpan di bank tak jelas dan belum dapat dicairkan. Padahal kelompok sudah menyelesaikan angsuran hingga tuntas.

“Ini sudah berjalan tiga tahun, tapi sertifikat kami belum juga dikembalikan oleh bank,” ungkap  Sudarmawan Septohadi  Jumat (21/7/2017).

Menurut Sudarmawan,permasalahan yang timbul karena prilaku oknum mantan karyawan bank tersebut, sehingga proses dan penyelesaianya mestinya menjadi tanggungjawab internal bank setempat.

“Jujur saja semenjak sertifikat kami ditahan oleh pihak Bank NTB Syariah itu, usaha kami menjadi rugi. Padahal sertifikat tersebut ingin kami ajukan untuk jaminan kredit,” katanya

Direktur Bank NTB Syariah Cabang Dompu, Syarif Hidayatullah, yang dikonfirmasi Berita11.com membenarkan jika sertifikat milik Poktan Usaha Bersama masih disimpan oleh pihaknya sebagai jaminan  karena masih ada masalah yang berkaitan dengan kasus dugaan korupsi yang dilakukan oleh oknum karyawan Bank NTB Syariah (FS, red) yang sudah dipecat.

“Saya belum bisa memberikan sertifikatnya karena didata sistem bahwa kelompok ini masih memiliki tunggakan iuran kredit,” jelasnya.

Menurut Syarif, pihaknya tidak sedikit pun ingin mempersulit dan mengahambat hak-hak nasabah. Namun ketentuan itu merupakan prosedur dan peraturan yang memang harus dipatuhi oleh nasabah.

Menengai penyelesaian persoalan tersebut akan dikoordinasikan  dengan pihak pusat Bank NTB Syariah. “Kami akan komunikasi dulu dengan jajaran pusat. Seperti apa hasilnya nanti tentu akan kami beritahukan,” isyaratnya.

Soal sisa uang tabungan milik Poktan Usaha Bersama sebesar Rp15 juta sebagai jamiman pinjaman, Syarif mengisyaratkan akan mengecek kepastian itu. “Oke nanti saya cek,”  janjinya. (RUL)

No comments