Breaking News

Firli: Ingat Agama, jangan Utamakan Emosi!

Kapolda NTB dan Rombongan saat Berkunjung di Desa O'o Kecamatan Donggo.

Dompu, Berita11.com— Kapolda NTB, Brigjen Pol. Firli, M.Si mengunjungi kerabat korban pembacokan di Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu, Kamis (13/7/2017). Saat silaturahmi, Firli mengingatkan masyarakt agar selalu melaksanakan ajaran agama dan tidak mengutamakan emosi sehingga terhindar dari konflik.

Kunjungan Kapolda NTB di Desa O’o Kecamatan Donggo didampingi Kapolres Bima, AKBP M. Eka Faturrahman, SH, S.Ik dan tokoh masyarakat yang juga anggota legislatif Kabupaten Bima, Drs Mustahid H Kako, MM. Saat kunjungan, Kapolda NTB menyerahkan bantuan kepada keluarga almarhum Dewa Bakti Negara, korban pembacokan asal Desa O’o.

Kapolda juga mengingatkan warga setempat agar selalu rukun dan menghindari konflik. Ketika silaturahmi berlangsung Brigjen Pol. Firli juga meminta Kapolres Bima agar menfasilitasi persoalan antara Desa O’o dan Doridungga.

Seperti diketahui sebelumnya, pasca kasus pembunuhan terhadap warga Desa O’o yang diduga dilakukan warga Desa Doridungga. Warga membongkar akses air bersih untuk warga Desa Doridungga.

Setelah kunjungan di Desa O’o Kecamatan Donggo Kabupaten Bima, rombongan Kapolda NTB melanjutkan silaturahmi di rumah kerabat almarhum Firdaus H Yasin, di Desa Baka Jaya Kecamatan Woja Kabupaten Dompu.

“Saya dari kemarin tidak pernah berencana untuk datang ke sini. Tetapi dalam cacatan garis tangan dan perjalanan hidup saya, bahwa pada hari ini saya harus datang di Desa Baka Jaya ini dalam kendaan yang tidak begitu mengembirakan karena kita sama–sama prihatin terhadap kejadian kasus pembacokan yang terjadi kemarin di wilayah desa ini,” ujar Firli.

Firli mengaku prihatin dengan berbagai kasus pembacokan dan kriminal di wilayah NTB seperti Kabupaten Dompu. Menurutnya, berbagai kasus itu harus dijadikan pembelajaran bagi masyarakat agar lebih dewasa dan bersabar.

“Tadi saya sempat terhenti karena bertemu dengan putra dari almahrum Firduas H Yasin yang baru berumur dua tahun. Intinya kehadiran saya untuk menyampaikan rasa prihatin kepada keluarga  yang ditinggalkan almahrum,” ungkapnya.

Pengganti Brigjen Pol Umar S. Ini mengajak masyarakat agar menghindari kekerasan terhadap orang lain. Mulai dari lingkungan terkecil seperti tindak kekerasan terhadap istri, anak maupun tetangga. Karena jika itu terjadi maka akan timbul korban. Bahkan hingga ada yang meninggal.

Dampak dari kekerasan itu lebih berat. Misalnya korban meninggal istri yang harus menjadi janda dan anak menjadi yatim. Untuk masyarakat tak boleh cepat marah. Kunci untuk hidup rukun, masyarakat harrus kembali pada ajara agama. Karena setiap mahluk hidup diberikan hak yang sama untuk hidup.

“Kalau ada peseteruan itu harus diselesaikan dengan tokoh adat, masyarakat. Di Desa kita punya perangkat desa, Bhabinkamtibmas dan Babisa. Jadi semua elemen itu harus bisa menjadi satu untuk menyelesaikan setiap persoalan sekecil apapun dan mencegah agar setiap persaoalan tidak berkembang menjadi besar,” kata Firli.

Menurutnya, tak semua persoalan dibawa ke ranah hukum. Namun bila terjadi kejahatan hingga menimbulkan korban jiwa, maka harus diselesaikan secara hukum sebagai bentuk pertanggungjawaban.

Lulusan Akpol tahun 1990 ini meminta seluruh pihak agar mampu menjaga keutuhan dan stabilitas daerah. Jangan sampai timbul perang kampung yang merugikan sebagian kelompok maupun orang banyak. Kasus pembacokan yang terjadi di Desa Baka Jaya merupakan yang ketujuh. Di Lombok, bahkan seorang anak dibunuh oleh bapaknya dan seorang ibu dibunuh sehingga meninggalkan tiga anak.

“Warga NTB yang meninggal karena kejahatan ada delapan kejadian yang terdiri dari lima kejadian di Lombok dan sisanya ada di daerah Sumbawa, Dompu dan Bima,” sebut Firli.
Pada akhir kegiatan silaturahmi dengan kerabat korban pembacokan di Desa Baka Jaya, Kapolda NTB menyerahkan bantuan untuk keluarga korban. Setelah itu, Kapolda NTB, Bupati Dompu dan rombongan menuju wilayah Lakey Kecamatan Hu’u. (RUL)



No comments