Breaking News

Kisah Kapolda NTB, Belasan Tahun tak Punya Alas Kaki, Pungut Sepatu di Sampah

Brigjen Pol Firli, M.Si Foto Bersama Warga di Kabupaten Dompu. Foto RUL

Dompu, Berita11.com— Sebagian orang sukses tak langsung berada pada posisi puncak melalui jalan mulus. Setidaknya, Kapolda NTB, Brigjen Pol Firli, M.Si yang pernah merasakan jalan setapak hingga akhirnya menjadi jenderal bintang satu.

Bagi sebagian orang mungkin akan sulit membayangkan sosok orang nomor di Polda NTB ini pernah merasakan masa sulit sulitnya ketika kecil. Saat itu, mantan Wakapolda Banten ini merupakan di kampungnya Prabumulih Sumatera Selatan.

“Dulu saya termasuk orang yang mungkin paling miskin di kampung saya. Bahkan diolok– olok oleh warga kampung saya,” ungkap Kapolda NTB,  Brigjen Pol Firli M.Si, saat bersilaturahmi dengan masyarakat di  Desa Baka Jaya, Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu, Kamis (13/7/2017).

Tak hanya itu, orang-orang di kampung mantan Kapolres Kabumen ini, juga mencibir keluarganya karena pesimis dengan kehidupan ekonomi keluarganya. Sejak kecil Brigjen Pol Firli, hidup bersama ibu dan lima saudaranya. Ibunya menjadi janda setelah bapaknya meninggal.

“Waktu itu umur saya baru tiga tahun dan saya anak bungsu dari empat bersaudara. Tapi atas kehendak Allah SWT ternyata orang tua saya yang seorang janda mampu menyelesaikan sekolah saya dan saudara–saudara saya, walaupun dengan keterbatasan,” cerita Firli.

Sejak kecil Firli memiliki kaki yang besar karena terbiasa berjalan kaki tanpa alas kaki. Memiliki sepatu seperti siswa-siswi lain hanyalah angan menimang harapan karena ekonomi keluarganya yang sangat terbelakang.

Setelah belasan tahun berjalan dan bersekolah tanpa sepatu. Brigjen Firli pernah merasa bahagia ketika memiliki sepatu kickers yang ia pungut dari tempat sampah. Saat itu, ia duduk di bangku SMA. “Sepatu itu bukan saya beli dan bukan hasil curian. Namun sepatu tersebut saya temukan di tempat sampah yang kemudian saya bersihkan dan semir,” cerita Firli.

Sepatu yang ditemukan di tempat sampah kemudian dipakai Firli ketika ke sekolah. Namun kebahagiannya itu tak lama setelah seseorang mengaku sebagai pemiik sepatu itu. Setelah itu, sepatu itu diserahkan kepada pemiliknya.

“Akhirnya sepatu itu pun saya serahkan ke pemiliknya dan akhirnya kembali lagilah saya  tanpa sepatu. Saya dulu juga pernah punya sepatu satu merek (Bata 2000) tahun 82 yang harganya murah hanya Rp8 ribu rupiah,”  cerita Brigjen Firli.

Selain berasal dari keluarga tak mampu, masa kecil Brigjen Firli dihabiskan di desa terpencil yang tak memiliki listrik. Hampir tak ada rumah tembok (permanen) seperti saat ini yang berdiri kukuh di desa.

“Di desa saya itu dulunya hanya rumah-rumah panggung yang sudah ratusan tahun di bangun oleh kakek dan nenek moyang kita,” katanya.

Menyadari berasal dari keluarga tak mampu, Brigjen Pol. Firli merasa terpanggil untuk membantu masyarakat miskin. “Karena kami dulu hidup dalam kemiskinan dan kesulitan. Sehingga sampai saat ini ketika melihat keadaan masyarakat yang sulit seperti ini, saya dan keluarga ikut merasa prihatin,” ungkapnya.

Sebelum menjadi jenderal bintang satu di Korps Tibrata, Brigjen Pol Firli tercatat pernah menempuh pendidikan di Akpol pada tahun 1990. Setelah itu menuntaskan pendidikan di PTIK pada tahun 1997 dan Sespim tahun 2004. Riwayat pekerjaan yang pernah diemban Brigjen Pol Firli diantaranya Kapolres Persiapan Lampung Timur, tahun 2001, Kasat III/Umum Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Kapolres Kebumen, Kapolres Brebes, Wakapolres Metro Jakarta Pusat, Asisten Sespri Presiden, tahun 2010, Direskrimsus Polda Jateng, Ajudan Wapres RI, dan Wakapolda Banten. (RUL)

No comments