Breaking News

Tekad Yayan Menjadi Anggota TNI dan Petinju Nasional

Yayan. Foto US Berita11.com

Setiap orang bebas bermimpi termasuk soal masa depan. Itu juga yang mendasari Yayan, siswi kelas III Program Keahlian Usaha Perjalanan Wisata SMKN 1 Kota Bima bercita-cita menjadi anggota TNI dan petinju nasional. Sejak kecil anak bungsu dari empat bersaudara ini memantapkan hati menjadi tentara.

Motivasi putra pasangan Abidin dan Bute Usman ini karena ingin menjadi bagian yang ikut menjaga keutuhan NKRI. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, remaja asal Pulau Mesa Manggarai Provinsi NTT kelahiran 15 Mei 1999 silam ini sudah terkagum-kagum dengan profesi TNI.

“Dari kecil mimpi saya ingin menjadi anggota TNI. Walaupun saya sekolah ambil jurusan pariwisata atau UPW,” katanya kepada Berita11.com di Tanjung Kota Bima, Selasa (25/7/2017).

Sejak duduk di bangku SD, Yayan sudah terbiasa berolahraga seperti renang dan menyelam. Kegiatan yang umumnya dilakukan anak-anak desa pesisir di Pulau Mesa. Ia juga terbiasa lari hingga beberapa kilometer setiap hari.

“Saya kepingin membahagiakan kedua orangtua saya. Menjadi kebanggaan bagi saudara-saudara saya walaupun saya anak bungsu,” ujar alumnus SMPN Satu Atap Pulau Mesa ini.

Selain ingin menjadi anggota TNI, Yayan juga bercita-cita menjadi petinju nasional. Bahkan karena cita-citanya itu, ia nekat mengikuti kejuaraan tinju, Danrem Cup yang digelar di Kota Bima tahun 2016 lalu. Meskipun ketika itu ia tak dapat juara. “Memang sih nggak dapat juara, tapi saya kepengen jadi petinju nasional,” katanya.

Menurutnya, antara profesi TNI dengan petinju adalah kedua hal yang melekat. Karena pekerjaan seorang tentara akan menuntut fisik yang kuat sehingga ia juga menyukai tinju. Selain tinju, Yayan juga aktif mengikuti latihan pencak silat.

“Kalau untuk tinju saya nggak pernah punya pelatih atau latihan di sasana. Semuanya saya belajar sendiri (otodidak),” katanya.

Yayan adalah satu dari ratusan atau bahkan ribuan remaja yang mengenyam pendidikan di Bima. Tekadnya sudah bulat, yaitu harus sukses sebelum kembali menetap di kampung halaman. Sehingga tak heran ia menghindari  berpacaran secara dini atau bergaul secara berlebihan.

Bagi Yayan kekuatan terbesar di dunia adalah doa kedua orangtuanya. Tak ada hal yang ia takutkan di dunia kecuali Tuhan dan melawan kebenaran. Namun ia juga tak lupa bahwa pelajar harus bersikap sederhana, menghormati guru, setiap orang tua dan kawan-kawannya. (US)

No comments