Breaking News

Ceramah Kebangsaan Digelar BKMM DMI Kota Bima, Sejumlah Rekomendasi Dihasilkan untuk Pemerintah

Dandim 1608/ Bima dan Kepala Bakesbangpol Kota Bima saat Memaparkan Materi.


Kota Bima, Berita11.com— Badan Koordinasi Majelis Taklim Dewan Masjid Indonesia (BKMM DMI) Kota Bima menggelar Ceramah Kebangsan di Aula SMAN 2 Kota Bima, Selasa (22/8/2017). Kegiatan diikuti puluhan peserta dari Kota Bima dan Kabupaten Bima.

Ketua BKMM DMI Kota Bima, Dra. HJ Aminah Iskandar, M.Ap dalam sambatuannya menyebut kegiatan dihadiri  ketua ketua Majelis Taklim Kota Bima, delegasi Ormas, tokoh masyarakat dan ustadz serta santri sejumlah pondok pesantren di Kota Bima dan Kabupaten Bima.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari memeringati HUT ke-72 Republik Indonesia. BKMM DMI mengusung tema kegiatan "Internalisasi Nilai 4 Pilar Kebangsaan dalam Meningkatkan Kesadaran Diri Sebagai Warga NKRI"

Hj Aminah Iskandar menjelaskan para ketua majelis taklim diundang karena majelis taklim dianggap sebagai corong paling dekat dengan para ibu dan wanita di setiap lingkungan dan perkampungan. Para ibu itu tentunya akan meneruskan ilmu dan informasi yang mereka dapatkan dari sebuah majelis untuk menjadi bahan ajar bagi anak-anak mereka di rumah.

"Karena memang pendidikan paling efektive dan utama adalah pendidikan dalam keluarga melalui peran ibu sebagai gurunya,” papar Hj. Aminah.

Kegiatan kemudian dibuka secara reami oleh Asisten 1 Kota Bima, Drs M Farid, M.Si. Dalam sambutannya itu, Farid menegaskan bahwa NKRI merupakan harga mati yang sudah tidak bisa ditawar tawar lagi.

Ia mengajak masyarakat untuk menolak segala bentuk idiologi apapun yang bertentangan denga  Pancasila, dan melawan upaya apapun yang berupaya merongrong keutuhan NKRI. “Apa yang telah ditetapkan oleh para pendahulu kita itu sudah final adanya,” katanya.

Usai pembukaan  secara resmi oleh Asisten 1 Setda Kota Bima, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi publik yang menghadirkan empat narasumber. Yaitu pembicara pertama, Siti Rohani Makarau, S.Pd, yang bertindak sebagai moderator. Ia meminta kesediaan Dandim 1608 Bima, Letkol CZI Yudil Hendro untuk menyampaikan materi Ceramah 4 Pilar Kebangsaan.

Dalam penyampainnya Yudil Hendro memaparkan tentang apa saja yang menjadi 4 pilar bangsa yaitu Pancasila  Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945.

Yudil Hendo lebih banyak membahas makna 4 pilar kebangsaan itu dalam kacamata Islam dan bagaimana nilai-nilai agama itu telah terinternalisasi dalam Pancasila sebagai dasar Negara.

“Tinggal bagaimana nilai nilai kebangsaan itu kita internalisasikan dalam diri setiap orang yang menjadi warga negara NKRI ini,” kata dia.

Narasumber ke-2 adalah Kepala Bakesbangpol Kota Bima, Achmad Fathony, SH.
Dalam pemaparannya, Kepala Bakesbangpol Kota Bima Achmad Fathony memuji semangat peserta yang umumnya didominnasi ibu-ibu. Achmad menyebutnya sebagai para Pancasilais sejati.

Bagaimana tidak, menurut mantan Kepala Dishub Kota Bima ini, sejak bangun tidur hingga tidur lagi para ibu sudah melaksanakan perannya untuk keluarga dengan penuh tenggang rasa.

"Ada tidak seorang ibu meminta digaji ketika ia membereskan tempat tidur anaknya kemudian menyiapkan sarapan dan kebutuan anak dan suaminya? Tidak ada, karena para wanita menyiapkan generasi bangsa ini tanpa pamrih dan dengan penuh tanggung jawab,” kata Fathony.

Sementara itu, Pembatu Ketua III STKIP Bima, M Taher  S.Ag, M.Ap lebih banyak menjelaskan apasaja yang menjadi ancaman bagi idiologi bangsa Indonesia Pancasila. Menurutnya, selain komunisme dan radikalisme yang dianggap sebagai ancaman terhadap idiologi bangsa yaitu sekulerisme dan liberalisme yang menjadi ancaman  tak kalah serius bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pimpinan Ponpes Al Ihlas Kota Bima, Drs HM Shatur menceritakan sejarah perjuangan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka berkat pekikan takbir dari kyai dan santri pondok pesantren. 

Perang kemerdekaan waktu itu dinamakan  perang fi sabilillah atau jihad dalam mengusir para penjajah negeri. Kala itu, perlawanan juga dilakukan para mujahid di Bima  yang dikenal dengan  Lewa Sabi oleh masyarakat yang dipimpin oleh pemuka agama.

Masyarakat Pondok pesantren juga ikut membangu negara dalam menumpas pemebrontakan PKI pada tahun-tahun berikutnya pasca kemerdekaan. Namun memasuki tahun 1980-an, aktivitas para santri dan pendakwah mulai dicurigai. Bahkan ditangkap karena dituduh hendak melalukan makkar. Termasuk puluhan orang di pondok pesantren yang ada di Bima ditangkap dan ditahan hingga belasan tahun.

Diakuinya, pada perkembangannya kini, pondok pesantren memang sudah banyak yang disusupi oleh idiologi-idilogi yang salah. Maka sebenarnya yang paling berat tugas para pimpinan pondok saat ini adalah menyaring oengaruh liar yang masuk  dalam pondok dari berbagai cara. “Kalau hanya sekadar pembinaan santri menurut saya tidak terlali berat,” imbuh dia.

Setelah sesi pemaparan, kegiatan kemudiam dilanjutkan tanya-jawab (feed back) dari peserta hingga pukul 13.00 Wita. Kegiatan itu menghasilkan sejumlah rekomendasi untuk pemerintah. (US/*)

No comments