Breaking News

Nestapa Buruh Tambak Garam di Kabupaten Bima

Petani Garam di Bima Nusa Tenggara Barat
Setiap Hari Kakek Abdul Rajak Membagi Tugas Bersama Istrinya Memproduksi Garam.

Kelangkaan garam di seluruh Indonesia pernah membuat petani tambak di Bima merasa bahagia. Harga garam tiba-tiba melambung dari Rp50 ribu per karung menjadi Rp150 ribu. Namun kebahagian itu hanya sesaat karena harga garam kembali melemah. Itu juga dirasakan pasangan suami istri buruh tambak di Desa Sanolo Kabupaten Bima, Abdul Rajak dan Hafsah. Catatan Fachrunnas.


Tiga pekan lalu, senyum sumringah itu selalu meluncur dari wajah Abdul Rajak dan Hawsah. Itu adalah raut kebahagiaan pasangan suami-istri 70 tahun dan 60 tahun dari RT 3 Desa Sanolo Kecamatan Bolo itu, ketika harga garam melambung karena stoknya yang terbatas. Namun kini semua kembali seperti semula, harga kristal-kristal putih yang berasa asin itu kembali melemah.

Mimpi-mimpi kakek-nenek ini kembali bertarah. Impian memiliki rumah permanen kandas karena harga tak semanis buaian pengepul. “Kemarin sempat bahagia karena harganya sampai 150 ribu per karung. Tapi sekarang sudah kembali 50 ribu per karung. Nggak tahulah besok-besok,” kata Abdul Rajak saat didatangi Berita11.com, Kamis (24/8/2017) sore.

Saat musim renggas, setiap hari Abdul Rajak selalu membagi tugas dengan istrinya dalam memproduksi garam. Terik matahari di Bima yang sangat panas mungkin bagi pendatang di Bumi Maja Labo Dahu adalah hal biasa bagi pasangan tiga cucu ini. Terkadang mereka harus rela menghabiskan waktu hingga petang di petak-petak tambak. “Mau bagaimana lagi, kami tidak punya banyak uang. Tidak sekolah tinggi seperti orang lain,” ungkap Abdul Rajak.

Di Desa Sanolo Kecamatan Bolo Kabupaten Bima, Abdul Rajak dan Hawsah adalah salah satu kaum papah. Satu-satunya harta yang mereka miliki adalah rumah panggung enam tiang. Dua anak mereka hanya mampu disekolahkan hingga tingkat SMA karena kondisi ekonomi yang serba terbatas. Setelah itu dua anaknya bekerja di Kalimantan.

“Kami ini orang miskin pak, tak punya sawah. Tak punya tanah untuk digarap. Hanya rumah panggung kami punya tapi kami bahagia. Dua orang anak saya masih sekolah,” timpal Hawsah, istri Abdul Rajak.

Meskipun demikian Abdul Rajak dan dan Hawsah bersyukur karena selalu selalu ada rejeki yang diberikan tuhan kepada mereka. Ibrahim, seorang Babinsa di Kecamatan Bolo rela membagi kebahagiaan dengan mereka.

Dua petak tambak kecil yang dikelola Abdullah dan Hawsah adalah milik Ibrahim. Hasil produksi garam pernah mencapai 600 karung. Dari hasil produksi itu selalu dibagi dua dengan pemilik tambak. “Pak Ibrahim itu orangnya baik. Beliau adalah anggota tentara yang membantu kami. Kalau pulang ambil gaji di (Kota) Bima selalu menitipkan beras untuk kami ataupun apa saja,” ujar Hawsah.

Hawsah  hanya berharap  harga garam lokal kembali naik sehingga petani tambak dapat meningkatkan taraf hidup. Selama ini, ia dan seluruh petani lain selalu merasakan getirnya ketika harga garam melemah. Bahkan harga garam di Bima sering ditawar hanya Rp3 ribu per kilogram, walaupun beberapa tahun lalu sempat naik menjadi Rp6 ribu per kilogram. Keberadaan perusahan swasta lokal justru menjadi lintah darat bagi petani garam, membuat harga kristal-kristal putih itu melemah.


Namun Hawsah dan Abdul Rajak bersyukur, mereka pernah mencicipi manisnya menjadi buruh tambak ketika garam-garam yang mereka produksi diambil pengepul dan saudagar dari Pulau Lombok, Bali dan Surabaya Jawa Timur.  Meskipun itu hanya sesaat.

“Uang itu biasanya saya tabung karena kalau produksi garam biasanya hanya tiga bulan saat musim panas. Di luar musim itu sangat sulit menghasilkan garam. Nggak bisa pahit airnya maka garamnya nggak akan jadi,” ujar Abdul Rajak.

Setiap hari hari Abdul Rajak dan istrinya tak pernah berhenti bekerja. Uban putih yang memenuhi kepalanya dan tubuhnya yang mulai terkoyak usia tak pernah ia pedulikan. Karena tugas adalah memenuhi kebutuhan anak-anak mereka. Seperti ketika hari menjelang petang itu. Saat hilir mudik pengendara sibuk kembali ke rumah setelah beraktivitas. Abdul Rajak masih sibuk merapikan oggokan garam di petak-petak tambak.

Baginya tak ada kata berhenti selama usia belum menepi. Prinsipnya meskipun hidup didera kemiskinan, ia bersyukur diberikan badan yang  sehat sehingga mampu memperoleh rezeki yang dikais dari lumbung-lumbung halal bantuan pak Ibrahim. Bukan hasil korupsi, menggerogoti anggaran milik rakyat seperti APBD. (*)

No comments