Breaking News

Konsep H Man Kasambo untuk Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat Kota Bima

H Sutarman H Masrun Menyampaikan Keterangan di Depan Wartawan, Pegiat LSM dan Tokoh Masyarakat. 

Kota Bima, Berita11.com—  Pendaftaran calon Wali Kota Bima masih menghitung bulan. Namun beberapa figur muncul menawarkan berbagai terobosan terbaik untuk mewujudkan ekspektasi masyarakat terutama mendorong gairah ekonomi. Lebih dari itu, bakal calon Wali Kota Bima, Ir H Sutarman H Masrun, MM menyiapkan berbagai konsep untuk pengembangan Kota Bima.

Menurutnya, ada sejumlah persoalan yang dihadapi masyarakat Kota Bima. Namun belum sepenuhnya disadari sebagian pihak. Salah satu persoalan itu ekonomi rente yang menguasai sebagian besar kehidupan masyarakat Kota Bima.

“Coba lihat sekarang ekonomi rente berkembang di setiap sudut. Di setiap kelurahan masyarakat sudah familiar dengan ekonomi rente. Siapa yang bisa hidup dengan ekonomi rente? Namanya juga ekonomi rente, linta darah. Lama-lama juga mati,” ujar Sutarman saat bertatap muka dengan wartawan, pegiat LSM dan tokoh masyarakat Kota Bima di vila Kasambo, Ahad (12/11/2017).

Kondisi itu diperparah masyarakat Bima yang umumnya cenderung konsumtif. Tanpa disadari kini banyak masyarakat yang menjual aset orang tua (tanah) karena ingin menyesuaikan kebutuhan dan mode hidup terkini. Kondisi itu dibaca dan dimanfatkan tujuh kelompok pendatang yakni dari Madura, Jawa, Malang, Solo, Padang, Lombok dan China.

“Bukan berarti saya diskreditkan kawan-kawan tujuh kelompok tersebut. Tujuh kelompok itu yang cerdas memanfaatkan kita hari ini. Bukan berarti kita lemah. Pertanyaan kita Bima dimana?Karena investasi mereka itu di luar. Bagaimana masyarakat kita? Mereka juga pelaku ekonomi perlu kita sadarkan. Jangan hanya jadi tukang belanja saya. Orang Bima tukang jual aset, dimanfaatkan tujuh kelompok tadi. Merekalah yang membeli aset-aset kita,” kata Sutarman.



Masyarakat Bima umumnya kata Sutarman, perlu diingatkan agar menyadari bahwa selama ini cenderung konsumtif. Polanya bisa dengan menyiapkan berbagai terobosan mendorong perekonomian kerakyatan. Beberapa pilihannya, Kota Bima sebenarnya bisa mengadopsi dari daerah lain seperti Kulo Progo yang berhasil mengembangkan pola pemberdayaan maupun belajar dari Banyuwangi Jawa Timur, daerah yang sukses menggerakan rancangan ekonomi kerakyatan.

“Kenapa kita tidak mau mengambil contoh? Atau menyatakan sister city dengan mereka. Ini yang menjadi PR. Edukasi seperti itu harus muncul, harus kita rancang masyarakat lebih baik,” katanya.

Diakui pria yang akrab disapa H. Man Kasambo ini, berbagai kondisi ril yang dihadapi masyarakat itu membuatnya gundah. “Saya sudah mencanangkan ihtiar itu untuk terjun di dunia politik itu kira-kira sejak dua tahun lalu. Saya balik Bima Februari 2012 dengan membangun tempat ini. Tempat bertemunya kawan-kawan muda Bima yang ingin membangun iklim. Ingin mencurahkan pikirannya mencurahkan ide-idennya untuk dana Mbojo,” katanya.

Di tengah interaksi Kasambo dengan masyarakat, Sutarman menerima banyak keluh kesah masyarakat, terutama masalah ketimpangan ekonomi. Pada awalnya Kasambo hanyalah sebuah kiprah yang konsen mencurahkan perhatian dan ide-ide positif bagi Kota Bima. 
Namun di tengah jalan Sutarman menyadari bahwa untuk mengubah kondisi itu, membawa masyarakat pada keadaan yang seharusnya, maka harus berada di dalam lingkungan pembuat kebijakan. Karena kiprah Kasambo terbatas pada komunitas di sekitarnya.

“Asli saya adalah bukan orang politik tapi pengusaha. Tapi saya melihat dan saya setuju bahwa untuk membuat perubahan kita harus masuk di dalam lingkungan pembuat kebijakan. Bisa itu di legislatif dan eksekutif dan saya memilih jalur eksekutif,” katanya.

Bagi Sutarman, tidak mudah meninggalkan bisnis yang telah lama ia rintis. Apalagi di tengah gonjang-ganjing serangan fitnah (black campaign) yang dilakukan pihak tertentu setelah melihat kesungguhannya untuk menjadi pemimpin di Kota Bima. Berbagai serangan itu, mulai pesimisme akan kemampuannya memimpin Kota Bima yang dibangun sejumlah pihak tertentu. Bahkan juga sempat berkembang isu bahwa ia bukan direktur tambang, melainkan hanyalah manajer (karyawan) di sebuah perusahaan tambang.

Sutarman mengaku hadir di Kota Bima karena panggilan hadir. Karena keinginan membawa perubahan bagi masyarakat yang kini dihadapkan berbagai masalah.

“Saya hadir di Bima insya Allah panggilan hati. Karena saya tahu ada masalah besar yang dihadapi masyarakat Bima yang tanpa disadari oleh masyarakat Bima itu sendiri. Kenapa? Karena tidak ada informasi publik yang dibuka,” katanya.


Membangun Kekuatan Ekonomi Rakyat dan Perusahaan Daerah

Untuk mewujudkan kesejahteraan dan membangun perekonomian masyarakat di daerah seperti Kota Bima perlu sinergi berbagai pihak terutama tiga komponen yakni pemerintah, masyarakat dan pelaku usaha. Karena tanpa kolaborasi itu sangat sulit mewujudkan berbagai tujuan  pembangunan daerah dan ekspektasi rakyat.

“Keterlibatan tiga pihak itu tidak boleh tidak, masyarakat, pemerintah dan pelaku usaha. Tidak ada program yang tidak melibatkan tiga unsur akan berhasil. Jadi tidak bisa pemerintah itu merasa paling berkuasa lalu memutuskan program tanpa melibatkan dua unsur tersebut, omong kosong. Pasti terjadi gep-gepan. Hal-hal seperti ini harus dibuat sederhana oleh kita yang mengerti,” kata Sutarman.

Untuk mewujudkan sinergi tiga komponen itu, menurut Sutarman harus dimulai dengan asas transparansi yaitu dengan mengimplementasikan keterbukaan informasi publik sehingga masyarakat merasa nyaman, merasa memiliki daerah dan mau berpartisipasi dalam membangun, mewujudkan tujuan bersama yaitu memajukan daerah.

“Dengan kacamata saya dari luar, saya bisa melihat sudut padang yang lebih luas. Lebih lebar tanpa menafikan kawan-kawan yang ada di sini. Sudut pandang saya jauh lebih luas dari kawan-kawan di sini. Itu dasar pandangan saya. Apa yang lihat, itu yang saya sampaikan kepada masyarakat.  Ternyata banyak hal yang harus dilakukan,” katanya.

Menurut pria kelahiran Penatoi ini, membangun kekuatan perekonomian rakyat bisa dimulai dengan menyiapkan solusi yang sederhana. Bukan perencanaan yang muluk-muluk. Hal ingin ia wujudkan jika berhasil maju dan terpilih sebagai Wali Kota Bima yaitu menyiapkan dan mendukung perusahaan patungan (joint stock company) dalam bentuk perusahaan daerah (Prusda) yang menjadi bagian dari Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Setelah terbentuk, Prusda disiapkan menggerakan sistem perekonomian koperasi. Harapannya, Prusda juga mengimbangi atau mengalahkan ekonomi rente yang terlanjur menguasai sendi kehidupan masyarakat Kota Bima.

“Sehingga layout ekonomi rente tadi akan terkalahkan oleh koperasi. Perang dengan mereka nggak bisa, perang dengan mereka hanya dengan menyediakan opsi lain,” ujar Sutarman.

Keberadaan Prusda melalui joint stock company tidak hanya disiapkan menggerakan perekonomian masyarakat. Lebih dari itu akan diatur mengatur tata niaga bawang merah, komoditas yang menjadi unggulan masyarakat Bima.

“Hari ini pengusaha bawang selalu di akhir rugi. Karena tidak ada yang mengatur tata niaga. Kita punya fasilitas pelabuhan, tapi tidak ada yang mengurus. Masuk 10 kapal, semua berlomba-lomba menaikan bawang ke 10 kapal. Kita tidak pernah berpikir suplai bawang Bima  tujuan akhir tidak dishare?  Kapal berangkat 10. sampai di sana menyatakan hanya butuh enam. Empat mengambil kembali harga,” katanya.

Peran Prusda mengatur tata niaga ibarat Badan Urusan Logistik (Bulog). Setelah Prusda terbentuk, hasil bawang dari petani bisa dibeli oleh Prusda. Karena masalah umum yang dihadapi yaitu kendala gudang.

“Bawang hanya butuh gudang karena menyangkut budget. Bawang hanya persoalan kecil. Kapan kita mengirim ke Kalimantan, kapan kita mengirim ke Jawa. Harga bisa dikontrol petani kita akan terbantu.Problem petani kita hari ini ada tiga, bibit, kedua dua pupuk dan ketiga obat,” kata Sutarman.

Persoalan lain yang dihadapi petani yaitu, masih adanya praktik ijon. Hasil pertanian dijual kepada tengkulak dengan harga yang rendah asal hutang petani terbayar. Namun dengan pengaturan tata niaga, pemerintah daerah bisa mendapatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang bisa menjadi sumber injeksi untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

“Lalu pertanyaaan apakah Prusda bisa lakukan? Yes, kalau orangnya profesional. Bukan PNS, harus orang profesional. Belum berbicara yang lain-lain,” ujar Sutarman.

Selain itu, Prusda juga bisa diarahkan untuk memanfaatkan peluang walaupun dari aktivitas kecil. Misalnya dengan keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) maupun Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTMG). Prusda bisa menjadi penyedia logistik mulai dari beras, sayur, daging dan telur sehingga pada bagian lain juga bisa menggerakkan ekonomi masyarakat khususnya distributor berbagai bahan pokok itu.

“Prusda tangani ini (logistik) bukan hal kecil. Perputaran luar biasa, rancangannya.  Itu contoh  artinya rancanagan itu harus diciptakan, bukan pekerjaan yang berat. Tidak perlu cari dari konsep yang muluk-muluk, itu di depan mata semua,” ujarnya.

Menurut Sutarman, pembangunan Kota Bima tidak bisa dilepaskan dari daerah induknya Kabupaten Bima. Karena memiliki keterkaitan yang erat. Sehingga berbicara pembangunan  Kota Bima akan berbicara konsep pengembangan Bima pada umumnya.


Menyiapkan Ama Hami dan Lawata sebagai Entry Point

Selain mendorong lahirnya Prusda dan perekonomian yang bergantung pada sistem koperasi serta memutus ekonomi rente. Konsep Sutarman membangun Kota Bima yaitu dengan menyiapkan desain Ama Hami dan Lawata sebagai tujuan masuk (entry point) bagi pengembangan investasi lain.

Keberadaan kawasan Ama Hami dan Lawata sebagai entry point yang bisa menjadi bagian dari upaya menggerakkan ekonomi kreatif. Selain dua kawasan tersebut, Sutarman ingin mendesain Pulau Kambing sebagai destinasi kedua, lokasi rekreasi dan kuliner, serta wilayah Kolo sebagai kawasan wisata permainan air.

“Itu untuk merangsang investasi lain, dari entry point bisa menggunakan speed boat dari satu entry point, tiket satu harga untuk transportasi segala macam.Ama Hami dan Lawata entry point sehingga di situ yang jual kuliner dan handy craft. Masyarakat juga melibatkan diri. Mereka mau melibtkan diri, tapi tidak disiapkan entry pointnya sama saja bohong,” ujarnya.


Menghilangkan Distorsi Pembangunan dan Merampungkan Masjid Raya

Desain lain yang ingin diwujudkan Sutarman yaitu menghilangkan kesenjangan atau distorsi pembangunan di wilayah Barat dan Timur Kota Bima. menurutnya, ketimpangan pembangunan harus dihilangkan karena bagaimanapun masyarakat setiap wilayah memiliki hak yang sama menikmati porsi kue pembangunan yang sama.

“Karena saya melihat ketimpangan ini harus dihilangkan. Tidak sulit membuat pemerataan, grand master kita punya banyak. Yang sampai ke kita, isu ketimpangan. Itu juga harus menjadi bahan pertimbangan,” katanya.

Selain itu, Sutarman ingin merampungkan pembangunan masjid raya kebanggaan masyarakat Bima, Masjid Al Muwahiddin seperti yang menjadi ekspektasi masyarakat Kota Bima.

“Ibaratnya itu saya kalau berpikir, kalau sekadar mencari jabatan di sini. Bukan itu yang saya tuju di sini atau buka Sekda yang menjadi Wali Kota. Sekali lagi persoalan kita, kalau kita belah satu persatu baru kita menyadari persoalan kita. Nggak main-main,” katanya.
Sutarman selalu siap berdialog dengan masyarakat, membedah program dan visi untuk mewujudkan Kota Bima yang maju dan berdaya saing.

“Hari ini kekayaan kita hanya dibawa ke tempat lain. Karena investasi mereka itu di luar. Bagaimana masyarakat kita? Mereka juga pelaku ekonomi, perlu kita sadarkan. Jangan hanya jadi tukang belanja saya. Orang Bima tukang jual aset, dimanfaatkan tujuh kelompok tadi. Merekalah ynag membeli aset-aset kita. Hari ini jual setengah are, besok tiga sperempat are, luas lama-lama habis aset kita,” katanya. (US/*)

No comments