Breaking News

DKP: di Kota Bima Nihil Nelayan Cantrang

Aktivitas Nelayan di Kelurahan Tanjung Kota Bima. Foto US Berita11.com

Kota Bima, Berita11.com— Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Bima memastikan tak ada satupun nelayan cantrang atau pengguna pukat dogol yang beroperasi di wilayah Kota Bima. Hal itu berdasarkan hasil pengawasan rutin Organisasi Perangkat Daerah setempat.

Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP Kota Bima, Nusrah SP mengatakan, selain pukat dogol, nelayan Kota Bima juga tidak menggunakan alat tangkap yang dilarang pemerintah seperti trawls dan siene nets sesuai yang diatur dalam Permen Nomor 2/ Permen-KP/2015.

Secara umum, DKP Kota Bima melaksanakan pengawasan rutin terhadap aktivitas nelayan. Umumnya kapal yang dioperasikan nelayan di Kot Bima berukuran di bawah 10 gross tonase (GT). Satu-satunya kapal di atas 10 GT yang beroperasi yaitu kapal mina maritim perikanan yang dikelola nelayan di Kelurahan Tanjung Kecamatan Asakota.

Umumnya, nelayan di Kota Bima terkosentrasi di dua wilayah pesisir yaitu di Kecamatan Rasanae Barat dan Kecamatan Rasanae Barat. Sesuai data DKP Kota Bima, total nelayan sebanyak 1.729 orang. Saat ini, DKP Kota Bima menyesuaikan kebijakan baru tentang pengelolaan wilayah pesisir dan kelautan.

Seperti yang diketahui sebelumnya, pengelolaan laut 0-12 mil merupakan kewenangan pemerintah provinsi. Meskipun demikian, DKP Kota Bima tetap berupaya melaksanakan pengawasan terhadap aktivitas perusakan laut atau aktivitas nelayan yang melanggar ketentuan.

Dikatakan Nusrah, DKP Kota Bima tetap mendorong peran kelompok pengawas masyarakat (Pokwasmas). Selain itu, berupaya mendorong pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan secara berkelanjutan.

“Tetap kita mendorong juga peran-peran komunitas, kelompok-kelompok dalam masyarakat seperti Pokwasmas,” katanya.

Secara terpisah, nelayan asal Kelurahan Tanjung Kota Bima, Indra Jaya mengatakan, hampir di seluruh wilayah pesisir di Kota Bima tak ada satupun nelayan yang menggunakan kapal dogol. Kecuali pukat gilnet 2 inci.

“Tak ada yang pakai pukat dogol atau cantrang. Istilah itu juga masih baru bagi kami di sini yang menggunakan yang terbatas,” kata Indra Jaya di Kelurahan Tanjung.

Nelayan lain, Faisal Muhammad menyebut, satu-satunya kapal di atas 10 GT yang ada di Kota Bima yaitu kapal mina maritim perikanan yang dioperasikan oleh Hasan, nelayan asal Kelurahan Tanjung. 

“Itu pun sudah nggak jalan karena sudah mati pas jalannya. Biaya untuk perpanjang pas jalan di atas10 juta. Sementara nelayan di sini serba terbatas,” ujar Faisal. (US)

No comments