Breaking News

Kisah Indra Jaya Nelayan Asal Tanjung, 29 Tahun Menjadi Penyelam Malam Hari, Pernah Dikejar Gerombolan Buaya

Indra Jaya Nelayan Asal Kelurahan Tanjung yang sudah Puluhan Tahun Menjadi Penyelam. Foto US

Perahu kecil itu kian meninggalkan samar cahaya di bibir pantai, tak jauh dari pelabuhan Bima. Dari jauh, larik-larik cahaya bulan seperti mengintip di antara remang gumpalan awan hitam. Mereka memulai perjalanan pukul 20.00 Wita, membelah buih-buih ombak yang sedang bermain dengan malam. Gema suara mesin dongfeng semakin lama, semakin menciut diterpa angin dan gelombang. Seorang pria paling tua di antara mereka memberi aba-aba agar terus menarik tuas mesin.

Tak lama, beberapa di antara penumpang perahu hanyut dengan suasana temaram. Hanya geladak seukuran matras kecil menjadi penawar letih sementara menunggu jangkar dimuntahkan ke laut. Suasana malam di tengah laut setelah teluk Bima seperti samudera tak bertuan. Nyaris tak ada cahaya saat rembulan tak membagi pelitanya, tak ada kapal yang lalu-lalang malam hari seperti sekarang.

Bocah kecil itu ikut menantang malam dan ombak ganas bersama empat pria dewasa. Ia dibawa oleh Bukhari yang tak lain ayahnya yang telah lama menjadi nelayan di pesisir Tanjung Bima. “Putar-putar saja di depan. Kalau tidak ada, kita jalan terus saja sampai Wera,” kata pria tua memberi aba-aba kepada pria lain yang memegang kemudi perahu malam itu.

Kenangan 39 tahun silam itu masih melekat dalam ingatan Indra Jaya, tak pernah lekang oleh waktu. Meskipun ayahnya Bukhari yang mengajarkan ia menjadi pria tangguh, mengajarkan menjadi nelayan, telah tiada. Ia memulai debut sebagai nelayan sejak umur lima tahun.

“Dari kecil, dari umur lima tahun saya sudah diajarkan almarhum bapak saya menjadi nelayan. Makanya sampai sekarang saya sudah terbiasa menjadi nelayan,” kata Indra Jaya ketika ditemui Berita11.com di Pusat Pendaratan Ikan Kelurahan Tanjung, Jumat sore.

Sejak umur lima tahun Indra Jaya sudah diajari ayahnya menjadi penyelam ikan. Lingkungan pesisir di Kelurahan Tanjung yang tak jauh dari laut membuatnya akrab dengan air asin. Namun ia baru memulai menjadi penyelam andalan nelayan di Kelurahan Tanjung setelah menginjak umur 15 tahun, setelah memiliki banyak pengalaman.

“Sejak saat itu saya lebih sering menyelam mencari ikan bersama bapak saya. Kadang lobster, paling sering menyelam malam hari,” ceritanya.

Menyelam di Bima hingga Pantai Selatan, NTT, Laut Banda, Papua dan Maluku

Seiring umurnya bertambah, kemampuan Indra Jaya menyelam semakin meningkat. Wilayah tangkap nelayan di Kelurahan Tanjung semakin meluas hingga wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur, ia sering menyelam di berbagai wilayah laut di NTT dan Maluku. Nyaris semua keganasan laut di Pulau Wetar, Pulau Tiser, Pulau Romang, Pulau Babar Maluku Barat Daya, Ternate dan Pulau Batu Goyang Maluku sudah pernah dirasakan Indra Jaya.

Sulitnya mencari makan di halaman sendiri membuat ia harus menaklukan lebih banyak laut ganas lain yaitu di Pulau Sikur, laut Adonara di Waiwerang Flores Timur Provinsi NTT, Pulau Serang, hingga Papua Barat. Indra Jaya juga pernah menaklukkan keganasan beberapa laut di Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi. Bahkan ia pernah menyelam di Tanjung Benoa Provinsi Bali dan Pantai Selatan Jogjakarta hanya untuk mencari lobster.

“Pernah juga menyelam mutiara di Waiwerang NTT. Kalau waktu di Pantai Selatan nyelam cari lobster. Biasanya hasil selam itu dibagi hasilnya dengan saya,” cerita Indra Jaya.

Dari sejumlah laut yang pernah dia selami, laut Pulau Wetar di wilayah Kabupaten Maluku Barat Daya yang merupakan pulau terluar Indonesia, yang terletak di Laut Banda, berbatasan dengan Timur Leste merupakan laut yang paling berkesan pernah diselami Indra Jaya. Awal-awalnya ketika itu ia pernah dikejar gerombolan buaya. Namun beruntung ia memiliki penangkal yang telah diwariskan secara turun temurun oleh keluarganya.

Setiap keliling daerah di Indonesia untuk menyelam mencari ikan, lobster atau mutiara, Indra Jaya selalu membawa ajimat Gigi Putih yang dipercayai keluarganya sebagai penangkal mahluk jahat ketika berada di bawah laut.

“Saya pernah dikejar buaya waktu di Pulau Wetar. Tapi untungnya saya ingat bawa ajimat Gigi Putih sehingga buaya yang awalnya kejar saya, sama-sama menyelam bersama saya. Di sana banyak sekali buaya,” ujar Indra Jaya.


Pernah Sakit saat Menyelam Mencari Akar Bahar Putih dan Merah

Seiring bertambahnya umur, Indra Jaya mengurangi aktivitas menyelam di luar daerah seperti di wilayah Indonesia Bagian Timur di Provinsi NTT atau Maluku. Pada tahun 1995 ia pernah istrahat melaut selama satu tahun karena sempat letih. Namun sejak tahun 1997, ia lebih banyak menyelam malam hari di seputaran wialyah Bima.

Di dalam keluarganya, ia adalah satu-satunya yang mewarisi bakat ayahnya menjadi nelayan. Delapan suadara Indra Jaya ogah menjadi nelayan. “Saya bersyukur diberikan badan yang sehat seperti ini. Saya tidak tahu bagaimana lagi mencari nafkah selain dari laut. Selain menjadi penyelam, menembak ikan,” katanya.

Dari hasilnya melaut, Indra Jaya bersyukur mampu menafkahi tujuh anaknya dan Aisyah, wanita asal Pulau Bungin Kecamatan Alas Kabupaten Sumbawa yang dinikahinya belasan tahun silam. Setiap hari ia membagi tugas bersama Faisal Muhammad menyelam mencari ikan. Dari hasil sekali melaut dalam tiga hari, Indra Jaya dan kawan-kawannya mendapatkan hasil Rp10 juta hingga Rp12 juta yang dibagi setelah dikurangi biaya opearsional.

“Tapi kalau beberapa minggu terakhir ini paling dapat cuma dapat 1,7 juta atau paling banyak Rp2 juta yang dibagi dengan beberapa anggota,” katanya.

Indra Jaya juga bersyukur karena aktivitas menyelam dibantu oleh anggotanya yang lain. Setiap hari ia membagi tugas turun ke laut menyelam dengan bantuan mesin kompresor. Khusus teluk Bima masih mampu ia selami tanpa bantuan kompresor hingga kedalaman 11 meter.

“Kalau takut menyelam malam hari atau pernah liat hantu dan lain-lain itu nggak pernah. Alhamdulillah nggak pernah saya takut sakit paru-paru basah karena nyelam malam hari. Malah kalau nyelam malam hari nggak pernah pakai baju, hanya celana saja,” kata Indra Jaya.

Meskipun memiliki badan yang kuat dan ajimat yang dipercayai sebagai pelindung, menyelami laut dalam bukan tanpa gangguan. Indra Jaya pernah sakit manakala menyelam mencari akar bahar berwarna merah dan putih di perairan laut Kelurahan Kolo Kecamatan Asakota Kota Bima, beberapa tahun silam.

“Saya pernah sakit waktu ambil akar bahar warna putih dan merah. Kalau ambil akar bahar warna hitam saya sudah biasa. Tapi waktu nyelam ambil akar bahar merah dan warna putih saya sampai sakit. Ternyata benar kuat penunggunya di sana,” ceritanya.

Kendati belum berusia senja dan masih memiliki badan yang kuat, pria kelahiran 44 tahun silam ini berharap ada sedikit bantuan dari pemerintah untuk nelayan di wilayah  peisisr Tanjung.

“Dulu rumah saya pernah beberapakali disurvei. Katanya akan diberikan bantuan, banyak yang data mendata, beberapakali. Tapi tak pernah saya dapat bantuan. Pengennya paling tidak ada bantuan untuk beli pukat. Ini perahu saya punya untungnya dibantu mertua di Pulau Bungin,” kata Indra Jaya. (*)

Fachrunnas/ Berita11.com

No comments