Breaking News

15 Napi Teroris Dibina di Bima dan Diberikan Modal Usaha

Dialog Keagamaan yang Digelar LSKA NTB di Aula SMAN 2 Kota Bima, Kamis (25/1/2018).

Kota Bima, Berita11.com— Jika selama ini ada pihak yang menyatakan bahwa di Bima tidak ada terorisme, maka faktanya justru sebaliknya. Karena ada 15 nara pidana (Napi) teroris asal Kota Bima dan Kabupaten Bima yang sedang dibina oleh negara.

Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Kelompok Kerja Penyuluh Kementerian Agama Kota Bima, Mustafa Umar, S.Ag, M.Pd saat Dialog Keagamaan di aula SMAN 2 Kota Bima, Kamis (25/1/2018).

“Kalau ada yang mengatakan di Bima tidak ada terorisme maka faktanya 15 Napi teroris asal Bima yang sedang dibina oleh negara,” beber Mustafa Umar di hadapan lebih dari seratus peserta dialog keagamaan.

Pada dialog yang bertema Merekonstruksi Idiologi Kelompok Radikalisme dalam Menjaga Kondusifitas Daerah dan NKRI tersebut, Mustafa menyebut 15 mantan teroris saat ini sedang menjalani masa pembinaan di Bima.

15 Napi tindak pidana terorisme itu merupakan warga Kota dan Kabupaten Bima yang pernah ditangkap Densus 88 dan telah menjalani hukuman kemudian diberikan modal usaha oleh negara.

Selain Mustafa Umar, tiga narsumber lain juga menyajikan materi lain dalam kegiatan dialog keagamaan tersebut.

Sekretaris Bakesbangpol Kota Bima, Drs Abdul Farid memaparkan materi Potensi Ancaman Kelompok Radikalisme di Kota Bima dan Dampaknya terhadap Stabilitas Daerah.

Dalam penyampaiannya Abdul Farid menjelaskan secara normatif apa itu terorisme dan mengenai radikalisme. Berdasarkan sejarah terorisme, Abdul Farid menyimpulkan bahwa terorisme bukan masalah agama. Terorisme adalah masalah ketidakadilan sosial yang mengantarkan masyarakat yang minim pendidikan agama pada kehidupan yang radikal.

“Terhadap stabilitas daerah Kota Bima, terorisme tidak berpengaruh sama sekali. Buktinya tidak ada fasilitas pemerintah yang diserang oleh teroris ini. Lagian status zona merah sudah dicabut dari Bima,” kata Farid.

Hampir senada dengan Abdul Farid, Akademisi STKIP Bima, Yasser Arafat, SH, MH,  yang menyampaikan tema  Merekonstruksi Idiologi Kelompok Radikalisme dalam Menjaga Stabilitas Daerah dan NKRI malah menilai bahwa isu terorisme didesain (by design) oleh tangan-tangan yang tak terlihat yang memiliki kepentingan untuk mengeksekusi kelompok tertentu.

Sementara itu, Dra Hj Aminah Zainuddin, M.Ap, pemilik Ponpes Az Zainuddin Bima yang mengangkat tema  Ponpes dan Radikalisme menyatakan Ponses harus bisa memberikan pendidikan yang baik tentang keislaman. Jangan sampai pondok pesantren dijadikan sebagai basis pengajaran ajaran-ajaran sudah dilarang negara.  

“Yang normative sajalah, tidak usah membuat program pengajaran yang kontradiktif dengan Islam dan negara,” kata Aminah.

Kegiatan yang dipandu oleh Muhammad Hasyim, S.Sos  berakhir pada pukul 12.45 Wita. Hasyim berharap, agar apa yang disampaikan oleh para narasumber bisa dipetik ilmu dan hikmahnya agar bisa menjadi pembelajaran bagi semua serta bisa diinformasikan pada masyarakat luas. (IJ)

No comments