Breaking News

Saat Demo soal Isu Pupuk Langka, Mahasiswa di Bima Sandera Mobil Plat Ginju, Ternyata Muatannya Mencengangkan

Mahasiswa di Bima saat Menggelar Aksi di Persimpangan Desa Talabiu Kecamatan Woha, Rabu (10/1/2018) Pagi. US

Bima, Berita11.com— Mahasiswa yang tergabung dalam massa Posko Menangkan Pancasila Kabupaten Bima menggelar aksi unjuk rasa di persimpangan jalan negara di Desa Talabiu Kecamatan Woha Kabupaten Bima, Rabu (10/1/2018). Saat aksi berlangsung mahasiswa menahan laju beberapa kendaraan dinas atau berplat “gincu”.

Dari sejumlah mobil yang disandera itu, mahasiswa mendapati sebuah mobil berplat merah bernomor EA47S yang ternyata memuat pupuk. Sontak massa mahasiswa dikoordinir Abdul Syahid geram melihat mobil dinas justru digunakan untuk mengangkut pupuk. Padahal masalah kelangkaan pupuk merupakan isu sensitif yang sedang dihadapi para petani di Kabupaten Bima.

Ketika ketegangan mahasiswa dengan supir mobil dinas sedang berlangsung, sejumlah arapat Polres Bima dari Dalmas dan Satuan Lalu Lintas yang mengawal aksi berupaya melerai konsentrasi mahasiswa dengan supir mobil plat gincu.

Baca Juga:

Dalam aksinya massa Posko Pemenangan Pancasila Kabupaten Bima yang merupakan gabungan Partai Rakyat Demokratik, Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi dan Serikat Tani Nasional Kabupaten Bima mendesak pemerintah menyikapi secara tepat krisis pupuk yang dihadapi petani di Kabupaten Bima. Jangan sampai masalah itu menjadi benih konflik di tengah masyarakat.

Mobil Dinas yanag Disandera Mahasiswa Ternyata Isinya Pupuk Urea.

“Segera tingkatkan bentuk pengawasan terhadap distributor dan pengecer pupuk di Kabupaten Bima,” teriak Abdul Syahid saat berorasi.

Syahid juga mendesak pemerintah agar mencabut ijin pengecer yang menjual pupuk melampui harga eceran tertinggi. Selain itu mendesak agar pemerintah menghapus sistem penjualan pupuk bersubsidi dan non-subsidi.

Baca Juga:

Massa juga menyatakan menolak kehadiran Alfa Mart di seluruh wilayah Kabupaten Bima.  Karena kehadiran retail yang memiliki jaringan terluas di Indonesia itu menjadi momok bagi pedagang kaki lima, warung kecil, kios, pedagang rombong. (RF/US)


Baca Juga :

No comments