Breaking News

15 TKI Asal Kabupaten Bima “Diusir” dari Timur Tengah

Seorang Warga Sedang Mengurus Dokumen untuk Melamar Kerja di Loket Disnakertrans.

Bima, Berita11.com—  Sebanyak 15 orang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Kabupaten Bima dideportasi dari sejumlah negara penempatan. Dari belasan TKI tersebut sebagian “diusir” karena menyalahgunakan paspor 48 sebagai pelancong.

Kepala Bidang Penempatan, Perlindungan dan Perluasan Kesempatan Kerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bima, H Mustafa kepada Berita11.com menyebutkan, dua dari 15 TKI yang dideportasi yaitu bekerja di Abudabi Uni Emira Arab. Selain menyalahgunakan paspor, sejumlah tenanga kerja yang dideportasi selama tahun 2017 dan tahun 2018 karena masa berlaku dokumen imigrasi telah berakhir.

“Ada beberapa negara tapi secara umum negara penempatan 15 orang itu adalah Asia Pasifik,” ujar Mustafa di Disnakertrans, Senin (12/2/2018) lalu.

Pada tahun 2017 Disnakertrans Kabupaten Bima mencatat jumlah TKI dari Kabupaten Bima yang dikirim ke sejumlah negara timur dengan dan kawasan lain di Asia sebanyak 1.059 yang diserap sektor non-formal seperti penata rumah tangga dan sektor formal seperti ladang sawi di negeri jiran Malaysia.

Mustafa mengakui masih adanya TKI asal Kabupaten Bima yang diusir dari negara penempatan karena persoalan dokumen yang tidak lengkap. Masalah itu muncul karena adanya minat besar masyarakat bekerja di luar negeri tanpa mau  melewati berbagai alur atau prosedur.

Penyebab lain sebut dia, karena ada sebagian pihak yang menjadi calo dan menyebarkan isu bahwa para calon TKI dan TKW yang mengikuti prosedur pemeritah akan ditempatkan bukan pada posisi strategis sehingga tidak memperoleh gaji yang lebih besar. 

“Ada pihak-pihak tertentu yang melancarkan isu seperti itu. Ada beberapa perusahaan nakal, mereka bilang kalau ikut prosedur pemerintah tidak akan dapat gaji besar. Beda kalau ikut jalur mereka akan langsung ditempatkan dan mendapatkan gaji besar sehingga banyak masyarakat yang tergiur,” ujar Mustafa.

Mustafa tak membantah masih tingginya minat masyarakat menjadi TKI dan TKW karena sejumlah persoalan di daerah terutama berkaitan tingkat pendapatan dan lapangan pekerjaan yang kurang tersedia. Sebelumnya, tahun 2017 lalu tercatat dua TKI asal Kabupaten Bima yang dipulangkan dalam kondisi meninggal. Salah satunya berasal dari Kecamatan Langgudu.

“Ini memang persoalan dilematis, tidak ada pilihan untuk masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup sehingga mereka mencari kerja di luar negeri,” katanya. (US)

No comments