Breaking News

Empat Pilar Kekuatan MANUFER


Muhammad Salahudin Dino (Dino Marahu*)

Demokrasi sebagai bagian dari alat untuk mewujudkan pembangunan, yang di dalamnya adalah mencari dan memilih pemimpin yang akan mewarisi tahta kepemimpinan, sebut saja Pilkada Kota Bima yang akan digelar pada bulan Juni 2018 mendatang.

Semangat dan antusias masyarakat menjadi hal yang sangat menarik yang dipertontonkan di tengah-tengah masyarakat, sehingga memberikan warna tersendiri dari kebiasaan-kebiasaan sebelumnya, hal tersebut sangat nampak sekali disetiap acara-acara silaturrahmi bakal calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bima pada Pilkada ini.

Baliho dan spanduk bak jamur di musim hujan, menampakkan sikap pertunjukan kekuatan (show of power) baik antar-golongan atau kelompok, partai politik, antar-kampung sebelah dengan kampung tetangga, bahkan antar-individu satu dengan individu yang lain yang seolah-olah menunjukan sikap superior. Hal tersebut sangat mempesona dan sungguh sangat eksotik dan jarang ada di daerah-daerah yang lain kecuali Kota Bima.

Hal ini sangat baik selagi itu sebagai sikap egaliter dan menghargai satu sama lain, baik dalam bersikap terutama keberpihakan masyarakat kepada para calon yang mereka jagokan serta antusias dan partisipasi aktif didalam menyambut pesta demokrasi yang sekali dalam lima tahunan.

Di dalam tulisan kali ini, penulis mencoba mengelaborasi sebuah wacana yang sangat menarik seputar pasangan Manufer dengan segala suguhan irama yang akan dipaparkan dalam tulisan di bawah ini. Salah satu pasangan atau konstestan yang akan dikupas pada tuisan ini adalah bakal calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bima sebut saja pasangan H.Arahman, SE. dan Hj. Ferra Amelia, SE.,MM dengan sapaan akrab atau taglinenya ialah MANUFER. Sebuah tagline yang sangat menarik serta unik bahkan mengakar di ingatan masyarakat Kota Bima baik yang tua maupun yang muda, terlebih lagi para kaum perempuan dan ibu-ibu serta nenek-nenek.

Bergabungnya Dua Kekuatan Besar

Beberapakali perhelatan pilkada di Kota Bima, terutama Pilkada sebelumnya semua tahu dan kita saksikan bersama-sama bahwa kedua kubu tersebut antara kubu Istana sebagai payung kekuatan utama dengan kubu pengusaha ternama sebut saja H. Abidin atau biasa dipanggail dengan sebutan akrab Abu Bedo. Beliau adalah pengusaha ternama pada jamanya sehingga mewarisi semua anak-anaknya, juga ikut menjadi pengusaha-pengusaha sukses bahkan terah beliau (anak Kandung) menjadi Wali Kota Kota Bima saat ini yaitu Bapak H. Qurais H. Abidin dan wakil wali kotanya adalah H.Arahman, SE. H. Abidin dan kedua-duanya adalah anak kandungnya.

Sementara di sisi yang lain adalah, Hj. Ferra Amelia, SE.,MM sebagai representasi keluaga istana Mbojo Bima punya megnet tersendiri sebagai daya tarik utama politik dalam ajang konteks pilkada kali ini. Hj. Ferra Amelia, SE.,MM adalah putri kerajaan Bima juga sebagai Ina Ka’u yang memimpin Majelis Adat Mbojo Bima yang sebelumnya dipimpin oleh almarhumah Ina Ka’u Hj. Siti Mariam, yang juga sebagai sosok pemersatu, teladan bagi kita semua. Bahkan salah satu Universitas ternama di Indonesia memberikan gelar kepada beliau sebagai seorang doktor.     

Sosok Hj. Ferra Amalia, SE., MM atau biasa dipanggil dengan sapaan akrab Dae Ferra sebagai bagain terpenting di dalam kubu istana dan menggantikan Sosok Ina Ka’u Mari menjadi hal yang sangat strategis bagi keberlanjutan keluarga tersebut bahkan sebagai pengikat dan pemersatu juga sebagai modal perjuangan dalam era demokrasi kekinian.

Di satu sisi, ada variabel yang menarik sekaligus sebagai penunjang utama dalam wujud gagasan dan pengetahuan kita semua, sebut saja Bupati Bima yang masih aktif menjabat, Hj. Indah Damayanti Putri adalah menantu langsung Hj. Ferra Amelia, SE.,MM yang secara tidak langsung tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain. Bahkan mereka masih hidup dalam satu atap (keluarga Istana Mbojo) yang sudah barang tentu akan saling membantu dan membutuhkan satu sama lain dalam segala hal.

Dengan tergabungnya dua keluarga besar tersebut pada Pilkada kali ini H.Arahman, SE dan Hj. Ferra Amelia, SE.,MM masing-masing sebagai bakal calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bima pada momentum Juni  2018 mendatang akan membawa angin segar terutama para pendukungnya untuk lebih meyakinkan dalam meraih kemenangan serta agar mampu bergerak lebih masif lagi untuk memenangkan hati warga masyarakat Kota Bima pada umumnya.

Pengalaman dari Pilkada ke Pilkada

Pilkada langsung di Kota Bima sudah berjalan dua periode artinya sudah 10 Tahun terakhir berjalan. Pengalaman para pemain politik, baik partai politik maupun para kandidat yang sebelumnya ikut menjadi kompetitor di dalam perhelatan demokrasi sebelumnya, tentu mempunyai pengalaman-pengaman tersendiri, baik pengalaman keluar sebagai kompetitor yang kalah maupun keluar sebagai kompetitor yang menang. Itu artinya mereka sudah mengantungi pengalaman-pengalam yang menarik sehingga menjadi modal atau bahan yang secara aktif sebagai jurus-jurus atau ajian-ajian gerakan politik yang mahadahsyat.
Seperti kata para pujanggga “Guru yang baik adalah pengalaman”. 

Ingat, Pilkada langsung tanggal 19 Mei Tahun 2008 lalu di mana perolehan  pasangan HM. Nur Latif dan HM. Qurais H. Abidin dan pasangan Subhan H.M Nur, SH. dan Abdul Karim, SH serta pasangan-pasangan lain yang tidak saya sebutkan satu persatu yang waktu itu ikut memeriahkan Pilkada langsung Tahun 2008, yang pada akhirnya dimenangkan oleh pasangan HM. Nur Latif dan HM. Qurais H. Abidin dengan perolehan suara kurang lebih 60 % ke atas. Sementara pada urutan kedua ditempati oleh pasangan Subhan H. M Nur  dan Abdul Karim, SH dengan dukungan penuh dari keluarga Istana Mbojo Bima serta Partai Golkar sebagai penyanggah utama partai pengusun pasangan tersebut dan semua warga Kota Bima ikut menyaksikan waktu itu, sungguh pesta demokrasi yang manarik serta menyita perhatian  kita semua.

Misalnya HM. Nur A. Latif sebagai calon Wali Kota Bima sekaligus petahana dan Calon Wakil Wali Kota Bima HM. Qurai H. Abidin yang mewakili keluarga besar trah H. Abidin (Abu Bedo) dan mereka keluar sebagai pemenang pada saat itu, tentu dengan segala perjuangan politik yang panjang dan melelahkan terutama perjuangan para Timses dan partai politik pengusung pasangan serta keterlibatan masyarakat kota pada umumnya untuk menentukan pilihan dan memenangkan pasangan tersebut.

Lalu pada Pilkada selanjutkan tanggal 13 Mei tahun 2013 lalu, pasangan HM. Qurais H. Abidin dan H. Arahman H. Abidin, kemudian pasangan Hj. Ferra Amelia, SE.,MM. dan HM. Natsir serta lima pasangan lain yang juga ikut memeriahkan Pilkada Kota Bima periode Lalu. Pasangan HM.Qurais dan H. Arahman, SE. keluar sebagai pemenang dengan perolehan suara 33,1 %, Pasangan ini merupakan adik kakak yang sama-sama mengandalkan nama besar sang Ayah H.Abidin   atau Abu Bedo serta dukungan partai politik yang ada dengan dukungan warga Kota Bima yang maksimal sehingga mampu meraih suara yang cukup signifikan.

Sementara di sisi yang lain, Hj. Ferra dan HM. Natsir menenpati urutan kedua dari tujuh pasangan yang ikut meramaikan pesta demokrasi waktu itu, juga dengan dukungan keluarga istana yang luar biasa serta dukungan kaka kandungnya yang waktu itu masih menjabat sebagai Bupati Bima yang aktif Almarhum Ferri Zulkarnain, ST serta dukungan Partai Golkar dan koalisinya namum masih belum maksimal untuk mengambil hati masyarakat Kota Bima.

Artinya, kedua keluarga besar tersebut punya segudang pengalaman ikut andil dan menjadi bagain terpenting dalam proses demokrasi langsung di beberapa kontekstasi Pilkada Kota Bima. Lalu dengan kedua pengalaman politik tersebut, mereka sekarang bergandengan tangan, dengan menunjukan sikap kemesraan yang laur biasa seolah-olah bersenyawa saling mengisi antara satu sama lain ibarat dua sejoli yang semakin hari semakin indah untuk dilupakan.

Basis Massa yang Jelas

Pilkada langsung adalah sebagai cara yang paling efektif, di mana masyarakat sebagai subjek sekaligus objek seperi halnya teori menyatakan dari rakyat, oleh rahyat dan untuk rakyat. 

Pilkada langsung selalu menempatkan rakyat sebagai kekuatan utama dalam menentukan kemenangan suatu pasangan tersebut. Pasangan MANUFER mempunyai modal sosial (social capital)  yang luar biasa dan tidak dipunyai oleh pasangan-pasangan lainya, dengan melihat fakta politik sebelumnya, seperti halnya dukungan keluarga besar dan pengalaman politik sebelumnya sehingga masing-masing personifikasi kedua tokoh tersebut H. Arahman, SE. dan Hj. Ferra Amelia, SE.,MM selalu mendapatkan ruang legitimasi masyarakat Kota Bima yang luar biasa dari Pilkada ke Pilkada.

Asli Putra Daerah

Isu putra daerah menjadi hal yang manarik dalam setiap Pilkada Kota Bima, apakah ini menjadi kebiasaan atau hanya sekedar opini sesaat ketika dibutuhkan? Tetapi menurut penulis, hal tersebut biasa saja dalam wacana politik, apakah memberikan dampat aktif kepada penggiringan opini publik atau tidak, hal itu tidak penting. Hanya saja istilah putra daerah dalam tulisan ini adalah menjadi alat pengikat tersendiri bagi pasangan terutama pasangan Manufer. Sebut saja, putra daerah yang dimaksud adalah mereka yang secara aktif tinggal di daerah tersebut serta mempunyai tempat tinggal dan berinteraksi langsung dengan masyarakat sekitar sekalipun hal ini masih debatebel dan bersifat wacanais. H. Arahman, SE. betempat tinggal di Kelurahan Sadia Dua Kecamatan Mpunda Kota Bima sementara Hj. Ferra Amelia bertempat tinggal di Lingkungan Istana Mbojo Bima (pandopo) serta mempunyai rumah di Kelurahan Paruga Kecamatan Rasa Na’e Barat Kota Bima.

Pada prinsipnya, siapapun calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bima yang turut ikut dalam pesta demokrasi kali ini adalah putra dan putri terbaik masyarakat Kota Bima, dan siapapun yang menang nantinya adalah kemenangan kita semua  berdasarkan dukungan mayoritas warga Kota Bima pada umumnya (*)


Penulis adalah mantan Sekjen AMPG Kota Bima/ Aktivis LSM Lira 

No comments