Breaking News

Pemilukada NTB Minus Partisipasi Kampus, tak Ada Second Opinion untuk Pemilih

Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto, SH

Mataram, Berita11.com— Gelaran pesta demokrasi rakyat di NTB saat ini minus partisipasi aktif kalangan intelektual Kampus dalam memberikan pencerahan politik kepada rakyat . Sebagai avant garde (vangurd) demokrasi, kampus tidak boleh membiarkan rakyat berjalan tanpa panduan moral.

Minimnya keterlibatan kalangan kampus dalam mewarnai proses dialektika Pemilukada NTB makin memperkuat asumsi bahwa kampus back to basic dan steril dalam urusan politik. Akibatnya kampus makin terasing dengan realitas  lingkungan sosialnya.

Kampus dipandang makin berjarak dengan realitas sosial politik kemasyarakatan,  karena absent memberikan edukasi dalam perspektif moral politik yang benar kepada konstituen. Sebagai pemandu moral yang netral sejatinya kampus bisa memainkan perannya sebagai wasit moral yang baik bagi rakyat dalam menentukan pilihan politiknya.

Akibat tidak adanya second opinion yang aktif dari kalangan kampus yang dihibahkan buat referensi rakyat.  Maka ada nuansa yang hilang dan kemeranggasan nilai dalam konstestasi Pemilukada serentak di NTB 2018.

Demikianlah siaran pers Mi6 yang disampaikan ke media, Minggu,  (1/4/2018).

Menurut Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto , SH di tengah hiruk pikuk situasi partisan menyongsong Pilkada serentak ini, harusnya intelektual  kampus turut berpartisipasi secara aktif memberikan votter education atau pendidikan pemilih agar memiliki perspektif politik yang benar dalam menentukan pilihannya.

“Kampus sebagai salah pilar lokomotif demokrasi tidak boleh berpangku tangan menyaksikan Pemilukada NTB ini,” ujar Didu, panggilan akrab Bambang Mei F.

Bagi Didu dalam konteks kekinian, trust publik terhadap kampus masih tinggi dan opini yang dibangun oleh  intelektual kampus masih memiliki kredibilitas yang tinggi di mata rakyat. “Untuk itu kampus segera mengagregasi situasi Pilkada NTB membangun wacana/ opini secara intens sekaligus turba,” pinta Didu. 

Untuk itu, Mi6 mengimbau intelektual dan cendekiawan di NTB segera turun gunung dari menara gading tembok kampus dan merapatkan barisan bersama rakyat memberikan pencerahan dan pendidikan pemilih yang benar . “Keterlibatan kampus ini akan menjadi spirit buat rakyat menjadi pemilih yang bertanggungjawab,” ujar Didu.

Selain itu, Didu melihat apatisnya kalangan kampus dalam Pilkada NTB tidak terlepas dari ketidaksamaan pandangan dalam melihat proses politik Pemilukada ini.

“Benturan nilai/moral dengan realitas politik ( baca: politik transaksional ) inilah  salah satu yang  membuat kampus agak menghindar dalam percaturan politik Pemilukada agar tidak dikooptasi,” pungkasnya. (RD)

No comments